Tuesday, August 7, 2007

Idealisme Yang Terkoyak

“Kita udahan aja, deh.”

“Lo ama gue ga cocok lagi jadi temen.”
“Gue ga suka banget ama omongan lo barusan. Plz, don’t make fun of me.”

Tiga buah kalimat ini terus-terusan keinget dibenak gue. betapa sebenernya gue ga mau itu terjadi. Cuma mau digimanain lagi.? Dan semuanya gue pikir bersumber pada satu hal, kekerasan gue dalam mempertahankan apa-apa aja yang selama ini gue anggap bener. Apa yang selama ini terus2an berada dalam hidup gue. Dan apa2 yang gue pegang teguh. Sebuah keidealismean. Idealism.

Dalam hidup gue, gue terpaksa harus memutuskan banyak sekali hubungan, entah itu hubungan kasih, persahabatan, pekerjaan, dan masih banyak lagi, demi idealisme-nya gue itu.

Entah ini sebuah kesalahan dalam pengaplikasian apa yang disebut dengan idealisme atau kenapa, gue juga jadi nge-blur utk memahaminya. Yang pasti jika ada sesuatu yang terjadi dan itu diluar dari yang ‘seharusnya’ menurut gue, gue ga bisa diem. Ada aja tindakan2 gue. entah itu marah, negor, atau bahkan secara ekstrim, mutusin hubungan.

Pada dasarnya keidealismean gue bukan hanya dalam gue punya hubungan sesama manusia aja. Tapi banyak hal. Apa yg menurut gue pas buat gue, itulah yg gue mau. Dan kalo engga, I certainly cannot deal with that.

Dan mungkin saat ini, entah ini adalah suatu pengujian atau teguran kalo gue udah harus berubah, gue ga tau. Karna dalam beberapa bulan terakhir ini, banyak sekali hal2 yg terjadi yg terkesan mencoba utk mengoyak keidealismean gue.

Apa gue emang harus berubah? Dan menjadi orang yang sama sekali ga punya sikap dan terus2an ikut sana ikut sini yang penting gue aman? Yang penting gue punya temen, yang penting gue punya pacar? Yang penting gue punya kerjaan? Ya ampun.. begitukah hidup?

Ini adalah sebuah pertanyaan. Dan sampai sekarang ini gue belum nemuin jawabannya. Bahwa hubungan2 yg gue bina selama ini pada akhirnya banyak yg rusak, karna gue bersikeras mempertahankan apa yg menurut gue bener.

Gue inget kata2 Su Hok Gie, ‘lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan’.
Kalo dihubungin kehidup gue adalah; ‘orang bisa melakukan apa yg mereka mau lakukan ke gue, sementara gue tetep cengar/ir nerima dan seolah-olah itu bener2 aja, padahal menurut gue salah, dan gue ga terima.’

Apa yg harus gue lakukan? Membuang pertahanan gue itu, atau menjadi orang yg sama sekali ga punya sikap, dan mau2 aja utk ini itu.

Apakah juga gue serendah itu, sampe2 apa yg gue pertahanin, yg cuma hal sederhana tetep dianggap salah. Bahkan gue ga boleh marah sama sekali?

Ini adalah sebuah pertanyaan…

Salah satunya buat mereka, yang mungkin pernah dekat dengan gue, tapi pada akhirnya harus terhempas karna kerasnya gue mempertahankan apa yg gue anggap benar selama ini.

2 komentar:

andre said...

menjadi ideal memang tidak mudah

kadek said...

Life is what u called surprises.. as simple as that.
You might be mourn for what u have lost today.. and yet be grateful for what lies beneath..