Monday, April 7, 2008

Siapakah Yang Pantas Dilecehkan?

...


Reda adalah seorang pelacur. Dia biasa tidur dengan lelaki mana saja. Dan tentunya karena dia pelacur, dia dibayar untuk itu. Suatu hari, saat Reda sedang berjalan, ada beberapa orang berandalan yang mencegatnya. Dan akhirnya Reda diperkosa beramai-ramai oleh para berandalan itu. Reda sangat tidak ingin hal ini terjadi. Ia sangat membenci para berandalan yang memperkosanya itu.

Richard adalah seorang gay. Suatu hari, karena sudah larut malam, Richard terpaksa menginap ditempat kost seorang teman laki-lakinya. Dan malam itu saat ia sedang terlelap seluruh tubuhnya digerayangi oleh sang temannya yang ternyata seorang gay juga. Sampai akhirnya ia menyadari ada yang tidak beres sedang terjadi padanya. Dan dia akhirnya marah pada sang teman tersebut.

Seorang penyanyi dangdut bernama Yati biasa menerima order manyanyi dari panggung kepanggung. Dia biasa menyanyi jika ada pesta dikampung-kampung. Dan setiap kali menyanyi, Yati selalu memakai pakaian yang seronok dan melakukan gerakan-gerakan yang menggoda. Suatu kali ketika ia baru saja selesai menyanyi, seseorang menyolek payudaranya. Dan orang itu lantas ditamparnya seketika itu juga.

Hmm, mungkin hal seperti ini sepintas tidak tampak pantas. Seorang pelacur diperkosa, seorang gay dipegang-pegang oleh sesama gay, seorang penyanyi berpenampilan seronok dengan goyangnya yang menggoda tiap kali menyanyi diatas panggung dicolek sembarangan oleh seseorang. Hal seperti ini seperti pantas-pantas saja terjadi. Toh, bukankah memang begitu yang seharusnya terjadi? Toh bukankah memang itu adalah kemungkinan terbesar yang bisa sangat terjadi pada orang-orang ini?

Menjadi pelacur bukan berarti semua orang lantas boleh tidur dengannya. Melacurkan diri adalah menjual diri. Menjual berarti ada sesuatu yang ditukar untuk mendapatkan apa yang orang mau dari sipenjual. Reda memang layak tidak terima keadaan seperti ini. tidak ada kesepakatan, tidak ada perjanjian. Apa yang membuat para berandalan itu boleh menidurinya? Memperkosanya?

Jika Richard marah pada temannya itu sangatlah pantas. Menjadi seorang gay bukan berarti dia pantas diperlakukan seperti yang temannya lakukan pada malam itu, meski mereka sama-sama gay. Memang Richard tidak mengalami kerugian apapun secara fisik atau uangnya lantas raib setelah itu, atau dipaksa membayar ‘jasa’ temannya itu. Tetapi yang dilakukan temannya itu bukanlah hal yang diinginkannya. Dan yang dilakukan temannya itu adalah pelecehan.

Dan tentunya Yati bukanlah orang aneh yang tiba-tiba ada jika ia marah pada sang pencolek kurang ajar itu. Menyanyi dengan pakaian seronok, menari dengan goyangan yang menggoda bukan artinya bahwa ia sedang menginformasikan ke semua orang, ‘coleklah saya’. Itu adalah hal yang berbeda. Menyanyi diatas panggung dan menari bukan berarti ‘saya bebas kamu apakan semaumu’. Diatas panggung ia adalah penghibur. Yang orang liat diatas panggung, ya itulah yang diatas panggung. Titik. Kalau dikatakan sebagai resiko, bukan berarti ia lantas membiarkan begitu saja tanpa ada perlawanan kan? Apakah kita jika tau akan mati maka kita diam saja padahal kita belum mau mati? Dan Yati melakukan hal yang benar dengan menampar orang tersebut.

Pelecehan bukan hanya 'diterima' oleh orang-orang yang dicap sebagai orang yang ‘bersih’ saja. Pada saat orang melakukan hal yang tidak diinginkan oleh sipenerima dan semena-mena, itu adalah sebuah hal yang melecehkan, tidak menghargai, dan tidak pantas diterima. Siapapun korbannya.

14 komentar:

galuh said...

kok jadi inget dewi persik ya?

Ronn said...

yg gw heran...

Kenapa aturan2 yg katanya dibuat untuk melindungi korban2 itu malah justru mengatur bagaimana para korban itu berpakaian/berperilaku.

Pelakunya tuh yg harus dididik. Orang bebas berpakaian dan berperilaku macem-macem, selama nggak merugikan orang lain.

titiw said...

Eh akang tije, blognya ada berapa biji sih? kayaknya sayah gak pernah mampir ke yang ini. Btw nice posting.. Emang bener banget pa yang kmu tulis. Alasannya? udah tertera dengan jelas di tulisan kamu.. hee.. :)

Ratie said...

Hai jeee.. Pa kabar? Dah lama gw ga maen kesini.. Hihii..

Anyway, gw sih paling ga setuju ama kasus yang terakhir. Emg sih dia berhak marah ke orang itu, tapi salah dia juga pake 'mancing' segala. Jadi penyanyi dangdut kan ga harus seronok tho? Siti Nurhaliza aja bisa mendunia tanpa memamerkan tiap lekuk tubuhnya.. Hehe.. But, it's just my opinion kok. ;P Dadaggh tijee!! ;D

!dJibRiL $i gil@ said...

Ini sama aja kaya....pernah liat ga...cewe pake rok mini diangkot (bukan pakaian kerja) tapi tiap rok mininya agak "ngangkat" dia sibuk ngebenerin roknya...sepanjang perjalanan...gimana tuh kalo lagi kaya gitu dia diperkosa juga..hehe..

Mama Rafi said...

emang benar sih kasus di atas itu pelecehan semua tp semua itu terjadi karena ada sebab dan akibat dari perbuatan kita sendiri. yg penting jaga diri masing2 aja smg itu ga terjadi sm diri kita.

The Armstrong said...

Huh, kalo menurut sok tahuku mending gini...

Yah memang agak tragis kalo tuntutan peran ato skenario dalam hidup ini ga sesuain dengan apa yg kita inginkan...
Namun kan semua itu udah ada yg atur, tinggal bagaimana kita menanggapi dan menjalaninya, dan tak harus peranan yg ga baik kita pertahankan, kalo memang ga baik untuk diri sendiri dan dapat merugikan orang lain mending ditinggalkan dan cari peran yg laen, dan sebelumnya berdoa dulu pada yg diatas, coz dia tuh maha mengetahui...

Hanya pikiran positive dan agama yg dapat membuat hati menjadi tentram...

Dont ever blame each other...

cuman pergi kekaca dan pandangin dirimu, dan katakan apakah makhluk spertimu yg penuh akan kekurangan dapat men-judge orang laen... jawabannya tidak!!!

jodi said...

menurut saya, klo emang g mau dilecehkan maka jgn "memancing"..coz yg namanya persepsi org kan g sama..dan lebih banyak "negatif"-nya drpd "positif"-nya..masih banyak kok kerjaan laen yg lebih "terhormat" / gaya hidup yg lebih "sehat"..asal kita mau berusaha..jgn nyalahin kondisi/tuntutan hidup..coz kita diciptakan buat jd Khalifah di bumi..jd kita yg harus mengatur/mengontrol gmn hidup...cheers

+Dee+..what else? said...

mwnurut gw tiap orang berhak buat diperlakukan secara pantas.. siapapun itu, walopun dia cuma pelacur..

NeZ♡ said...

bnr stuju ma galuh, jd inget dewi persik yg sampe ditelponin ama pak mentri..haha

ardhi nugraha said...

stop pelecehan....!!!!

Unee.Adisti said...

*uhuk2*..

untuk dua kasus yang pertama,saya setuju.Reda dan Richard.
Tapi...untuk yang terakhir...hum hum... agak sulit (seperti kesulitan saya setiap pagi utk buang air besar) disetujui.

Ya kalo emang di panggung,ya dipanggunglah..tapi saya percaya,setelah dia turun dari panggung itu dia bisa ngelakuin usaha utk menutupi yang tdnya "berkibar" atau "tertonjol2" diatas panggung sanah.

Kalo dia tetep melenggang dengan pakean yang hore setelah turun dr panggung,ya jgn salahkan pria yang "usaha".
Terus terang,saya termasuk org yang (kurang) percaya sama hukum dan peraturan2 yang ada di INDONESYAH ini.Jd,kalo ga mau dimacem2in orng,ya ga usah macem2 juga.
Jaga diri sendiri aja.

STOP GLOBAL WARMING !

*lho?!*

* peyuk2 TJ *

Patung Pancoran said...

pelecehan itu risiko yang pasti ada bagi mereka yang 'mancing'..

sampai kapanpun pelecehan gak akan bisa dibenarkan, tapi yang 'mancing' juga kudu introspeksi, kenapa dia bisa sampe dilecehin

gampangnya sih jangan main api lah, ntar kebakar

Anonymous said...

Ya, mungkin karena itu