Wednesday, January 28, 2009

The Broken Mirror



Sekitar tahun 2002, gue nonton sebuah film kartun yg bukan serial. Sayangnya, gue ga inget judul film itu apa. Jadi film kartun itu kaya beberapa film yang disatuin jadi satu. Kalo ga salah ada empat. Ya, seperti film Berbagi Suami, Perempuan Punya Cerita, atau yang kemaren sempet heboh di temen2 gue, film Thailand, 4bhia.

Eniwe, salah satu dari cerita di film itu ada yang keinget sampe sekarang buat gue. Ceritanya simple doang, tapi kayanya dalem. Paling engga, buat gue.

Ceritanya jaman dahulu kala, ada seorang penyihir yang mengutuk sebuah cermin.

Tapi sayangnya cermin itu pecah berkeping-keping. Dan pecahannya itu menyebar luas sampe keseluruh dunia. Pecahannya itu kecil2 banget. Sampe ga kesat mata. Dan bahkan orang yang terkena pecahannya itu ga nyadar kalo mereka kena pecahan cermin itu, karena terlalu ‘halus’nya pecahan cermin itu.

Dan pecahan cermin yang mengenai manusia itu hanya masuk ke mata dan ke hati aja. Yang matanya kena, akhirnya hanya ngeliat segala sesuatunya dari hal2 yg jelek aja. Dibutain matanya dari melihat hal2 yg baik. Termasuk melihat orang lain. Seolah2 semua yang orang lain lakukan itu selalu buruk dimatanya. Akhirnya selalu (berprasangka) buruk terhadap apapun, termasuk ke orang lain. Selalu jelek2 mulu.

Sementara pecahan kaca yang akhirnya masuk ke hati akhirnya membuat orang hatinya menjadi buruk. Bersikap buruk. Dan pastinya ga baik hati. Hatinya selalu mendengki ke orang lain. Ga bisa liat orang lain senang. Usil, rese, dan sebagainya. Bahkan yang parah ya jadi jahat.

Nah, termasuk yang manakah kita itu? Gue sih berharap kita sama sekali ga termasuk orang2 yang terkena pecahan cermin yang pernah dikutuk oleh penyihir itu. Dan sudahkah kita bercermin, seperti apakah kita ini?

Thursday, August 28, 2008

You Belong to Me, My Friend... Only Me!


Tadi malem, temen gue yang tinggal di Medan, Yuni nelpon gue. Cukup lama juga percakapan kita semalem. Sekitar tiga jam. Tentunya percakapan yang lumayan lama kaya gini bisa terjadi karena fasilitas salah satu provider yang bisa dibilang ngebantu banget hubungan jarak jauh dengan biaya yang ga ‘mencekik leher’. Walau kadang keganggu juga ama tiba2 putus. Mungkin ini kelemahannya ya? Mentang2 pulsa jadi murah, eh mati2 mulu. Dan beberapa kali pula ga taunya gue malah ngomong sendiri. Karena ga taunya telponnya matiii.. huhuhuhu.. Yang lucunya, tau2 telpon gue bunyi padahal gue lagi ngomong. Dan itu tentunya dari dia. Hahaha..

Anyway, udah agak lama juga kita ga telpon2an. Tapi itu ga bikin hubungan pertemanan gue ama dia renggang. Yang penting kan kualitas pertemanan kita aja. Masalah kuantitas sih kita ga ribet. Tau sama tau aja. Saling ngerti juga kalo emang ga ditelpon2. Kan bukan juga artinya gue jauh gara2 jarang contact2an. Paling2 sms. Itu juga ga sering2 amat.

Anyway lagi, percakapan kita semalem lebih didominasi ama dia. Dalam arti kata, dialah yang kali ini lebih banyak cerita dibanding gue. Dia cerita tentang hal2 yang terjadi dihidupnya belakangan ini. Dan rupanya ceritanya soal temen2 barunya. Tentang pertemanan dia ama mereka yang ga lain dan ga bukan adalah rekan2 dikantornya.

Sejak beberapa bulan lalu, Yuni diterima jadi penyiar disalah satu radio swasta di Medan. Awalnya, dia cuma muterin lagu doang. Terus ningkat jadi bawain program khusus. Dan sekarang udah siaran secara regular. Tentunya dia banyak belajar ama penyiar2 seniornya disitu.

Yuni ini tipe orang yang gampang akrab ama siapa aja. Bisa dibilang dia ini loveable. Banyak temen2 yang seneng temenan ama dia. Apalagi, Yuni ini kadang suka nyeletuk yang lucu2. Suka bercanda gitu deh. Tentunya ini bikin suasana jadi nyantai dan nyaman. Well, siapa sih yang ga pengen punya temen yang bisa bikin kita ketawa? Ya, kalo engga, rasa2nya gue ga gitu2 amat akrab ama dia. Hahaha..

Hampir semua orang suka temenan ama Yuni. Dan di radio tempat dia siaran, semua orang yang ada disitu sekarang adalah temennya. Mereka ga hanya ngabisin waktu diradio, tapi kadang suka jalan bareng. Nongkrong di Merdeka Walk (tempat nongkrong disekitar Medan), ngopi2, ya bercengkrama lah. Malah mereka juga suka karokean. Entah disana karokeannya kaya disini, di Inul, atau apa namanya, ga inget gue.

Tapi yang dia ceritain tadi malem bukan yang enak2nya ternyata. Entah kenapa, ujung2nya Yuni malah dianggap sebagai perusak persahabatan yang udah terjalin lama diantara para temen2nya sesama penyiar itu. Yang emang udah terjalin dari lama sebelum Yuni masuk. Weleh2…

“Emang lo ngapain sih?” tanya gue.

“Ngapain ya? Kayanya aku ga ngapa2in deh.. Sumpah aku ga ngerti!” jawab dia dengan logat rada2 Medan.

“Lo mendominasi disitu?” kali ini gue rada nuduh.

“Heh! Ngapain gue mendominasi? Lo pikir gue apaan? Ibu tiri?” gue malah ketawa denger jawaban dia kali ini.

Wakakakakakakakak…

“Ya kali aja lu mendominasi. Tapi lo ga nyadar. Mungkin lo suka sok2 bossy gitu!” kata gue sambil ngetawain kecil2an.

“Ya olooooooo, Jeeeee!!!! Gue aja bete ama orang kaya gini. Masa gue kaya gini??? Ah, kau!” jawabnya yang gue sambut pake ketawa.

Dan yang paling bikin Yuni pertama kali nyadar adalah sebutan Yuni sebagai sahabat barunya si Betmen (emang beneran namanya Betmen, gue juga heran). Tapi nyebutnya gini, “Sahabat baru lo tuh, si Yuni. Belom nyampe dia disini? Ga sedih lo?” pas lagi hang out bareng dan Yuni udah tiba disitu cuma mereka ga ngeh kalo Yuni udah nyampe. Dan sepertinya, orang ini berusaha mempengaruhi yang lain untuk jauh dari Yuni, termasuk Betmen. Eniwe, bisa dibilang orang ini adalah yang paling ‘senior’ dilingkungan tempat kerja Yuni.

Gue yang dicurhatin kaya gitu ama dia heran. Tuh orang makan apa ampe kaya gitu? Lha dari kemaren bukan biasa2 aja? Kok tiba2 gitu?

Yuni sendiri akhirnya mengingat2 lagi apa salah dia ampe bisa begitu. Saat itu sih, gue malah ngeledekin. Gue bilang aja, “Mungkin lo bikin orang yang ngomong gitu, atau siapapun yang paling nyinyir tentang lo itu, merasa terebut posisinya. Mungkin selama ini, dia yang paling gimana gitu. Apa kek. Mungkin selama ini temen2 lo itu perhatiannya kediaaaa mulu. Eh, pas ada elo, ke elo deh.”

Well, sampe saat berita ini diturunkan (hehehe…), baik gue maupun Yuni sendiri ga tau persis penyebabnya apa. Tapi yang pasti kenapa Yuni bisa dianggap peretak bukan sebuah kesimpulan belaka. Salah satu dari mereka sempet bikin list ‘gang’ mereka tapi nama Yuni ga tercantum disitu. Ditambah sikap yang menjauh dari orang yang nulis list itu. Yang ga taunya orangnya itu2 juga. Juga sikap orang itu ke Betmen. Betmen dianggap penghianat karena paling deket ama Yuni. Mungkin Betmen merasa menemukan Robin didiri Yuni. *merenung*

Dan satu hal yang emang ga perlu diragukan lagi kalo Yuni dianggap begitu karena Betmen sendiri pernah bilang ke Yuni, kalo dia dikritik sebagai penghianat oleh teman2nya. Tapi herannya, sebenarnya hanya satu yang bilang gitu. Yang lainnya sebenarnya sikapnya masih biasa2 aja.

One thing for sure is, mereka bukan anak kecil lagi. Seinget gue hal2 kaya gini terjadi umumnya ama anak2 SD. Dimana anak2 SD itu sering ngerasa temennya direbut ama temennya yang lain. Sok dewasa dengan nyebut itu sebagai persahabatan. Cuma sepertinya ga tau persahabatan itu pengertiannya yang bagaimana. Kelewat mikirin lah, berkotak2 lah, harusnya gini lah, harusnya gitu lah, nutup dari orang2 baru lah. SD banget sih! Oops.., mudah2an temennya Yuni ga ada yang baca ini!! Ahhh.. untungnya gue ga pernah ada dalam posisi Yuni. But, I’m really sorry to hear that, Yun.

“Gue ga pernah dateng kesuatu tempat untuk jadi perusak. Gue juga ga pernah terpikir untuk mencuri apapun termasuk sebuah persahabatan untuk gue miliki.” Kali ini nada bicara Yuni cukup serius. Dan gue sangat setuju dengan dia.


Apalah gunanya nyuri2 persahabatan? Apa juga gunanya menyebarkan pengaruh ke orang lain untuk ga mau berteman atau bersahabat dengan seseorang? Kita ini berharga. Kalo ada orang yang mau bersahabat dengan kita, itu karena kita berharga. Kita ini layak dijadikan sahabat. Kalo kita emang bener2 ditinggal sahabat kita sekalipun, kita tetap berharga. Jangan pernah kita mau jadi orang2 yang menilai rendah diri kita sendiri dengan merasa ga layak untuk dijadikan sahabat, atau sahabat kita bakalan kabur dari kita. Jangan pernah kita injak2 diri kita sendiri dengan merasa kita tidak terlalu bagus atau kalah bagus dari orang lain untuk ada diposisi sebagai sahabat dari seseorang. Apalagi hanya karena orang itu tidak memperlakukan kita tepat seperti apa yang kita inginkan. Dan jangan pernah kita merasa harus dipandang lebih tinggi dari orang lain juga. Lebih layak dari orang lain. Kaget dan merasa dikalahkan karena selama ini menganggap orang lain itu lebih rendah dari kita, tapi tiba2 menjadi sangat dekat dengan sahabat kita. Dan jangan pernah kita merendahkan diri dengan melakukan tindakan mempengaruhi seseorang yang kita sebut sebagai sahabat kita untuk tidak bersahabat dengan orang lain. Ga ada istilah sahabat yang menentukan dengan siapa sahabatnya itu mau bersahabat lagi. Hey, hargai diri kita! Semua orang itu berharga, semua orang layak dihargai. Termasuk diri kita sendiri.


Bukankah persahabatan itu harusnya tulus dan menerima apa adanya? Kenapa kita lantas merasa terancam dengan keberadaan orang lain dengan pemikiran orang itu akan menjauhkan kita dari sahabat kita yang udah sejak lama jadi sahabat kita? Kenapa kita ga bisa menerima keadaan kalo emang sahabat kita yang udah lama bersahabat dengan kita itu memiliki sahabat yang baru? Atau merasa sahabat kita adalah properti yang kita punya dan ga boleh orang lain sentuh. Percayalah, seseorang yang merasa diikat2 pasti tidak akan pernah betah berada disamping kita. Dan apakah ini persahabatan yang sehat? Atau bahkan, apakah ini yang namanya persahabatan? I really don’t think so. And I’m sure no one will do!

“Udah lah, Yun. Tak usah kau pikir2 lah itu. Kau tidak jahat. Kau ini baik. Aku memang agak susah menunjukkannya, tapi aku sayang ‘kali sama kau. Kau sahabatku.” diujung percakapan kita, gue ucapin aja kalimat ini. Sok2 berlogat Batak tentunya.

Tapi ga kedengeran suara apa2 dari si Yuni ini.

“Halo.., halooo…” gue coba yakinin kalo dia ngedengerin gue. Dan sekali lagi gue ngomong, “Haloo.. halo, Yun.. r u still there..” dan kali itu gue liat layar telpon gue. Yaaahh.., matiiii… huhuhuhuhuuuuu….

Tiba2 kedengeran lagi bunyi telpon gue. Hey.. telpon dari temen gue yang lainnya… Wah, Yuni ga bisa gue telpon lagi atau nelpon gue dong untuk ‘closing’ dan kesannya ga sopan juga ya tau2 ilang gitu…


Ah, biarlah.. tadi juga emang udah ga ada yang mau diomongin lagi. Paling2 dia ngerti kok kalo gue ga telpon dia lagi saat itu dan dia juga mau telpon gue lagi tapi ga bisa. Toh sebenernya, ga semua hal harus selalu diklarifikasi kan? Cukup sama2 ngerti aja.

Eniwe, berarti dia juga ga denger apa yang gue bilang ke dia tadi. Hmm, ga papa lah. Tanpa harus gue bilang, dia juga tau kok. Dia pasti mengerti kalo dia begitu berharga buat gue, tanpa harus gue tunjukkin. Dan dia juga berharga buat siapapun juga didunia ini. Karena semua orang pasti berharga.

Thursday, July 31, 2008

I Fall and It's Your Fault

Kemarin, nyokap gue baru aja cerita tentang temannya waktu beliau remaja dulu. Namanya Jen. Jen dulunya adalah seorang pria yang baik. Tapi cerita yang diceritain nyokap gue tentang Jen adalah cerita yang sekarang. Jen yang sekarang ga lain dan ga bukan adalah orang gila. Orang yang ga waras. Dan tragisnya, Jen jadi gila sehari setelah dia nikah. Dan sekarang umur Jen udah setua nyokap. Yaitu 55 tahun. Berarti Jen udah jadi gila bertahun-tahun lamanya, dari muda sampe setua sekarang.

“Rambutnya kusut. Dia bener-bener dekil,” ujar nyokap gue.

Dan mengalirlah cerita nyokap tentang kenapa Jen bisa begitu. Jen ga waras lagi sebenernya disebabkan karena guna-guna orang. Saat Jen menikah dulu, ada seseorang ngasih garam yang banyak sebagai salah satu sumbangan untuk hari pernikahan Jen. Jadi maksudnya kalo orang nikah ditempat nyokap dulu itu, para tetangga, saudara-saudara, dan kerabat lainnya suka ngasih sumbangan-sumbangan berupa buah-buahan, bahkan daging, beras, dan lain sebagainya. Dan kebetulan ada juga yang ngasih garam. Dan garam yang dikasih itu berasal dari orang yang benci sama si Jen ini, dan garam itu udah dimantrain.

Garam itu dipake buat bumbu masak semua makanan yang disajikan dipernikahan Jen. Tentunya semua orang emang makan makanan itu. Tapi emang guna-guna itu ditujukan untuk Jen seorang, maka hanya Jen lah yang kena. Dan besoknya, Jen jadi gila. Sampe sekarang.

Dan satu hal yang paling ngeri adalah ternyata, orang yang mengguna-gunai si Jen ini ternyata adalah ‘pacar’ Jen sebelum menikah dengan perempuan yang menjadi pengantinnya hari itu. Jadi, Jen sempet punya hubungan istimewa dengan si A, tapi nikah sama si B. Hmm, dalem banget perasaan si A itu ya.

Udah beberapa orang pinter mencoba untuk nyembuhin Jen, tapi hasilnya nihil. Mereka hanya tau siapa penyebabnya. Dan perempuan yang sakit hati itu udah ga tau ada dimana.

Hmm, ini sebenernya sebuah cerita klise. Cerita kuno tentang cinta. Ya kan? Dimana kita bisa liat seseorang sakit hatinya oleh seseorang yang ia cintai. Walau emang ujungnya jadinya serem banget.

Satu hal yang bisa kita liat adalah sebaiknya jangan kita pernah sembarangan sama perasaan orang. Mungkin cerita diatas ga setiap hari terjadi dimana seseorang yang disakiti hatinya lantas menguna-gunai. Tapi hati yang disakiti, hmm.. terlalu sering terjadi. Jangan pernah kita membuat seseorang melayang tinggi, lalu kita jatuhin dia begitu aja. Ini menyakitkan. Meskipun saat itu masih terjadi, semuanya tulus. Bukan ngerjain, bukan main-main.

Mungkin kita sering menyukai seseorang dan akhirnya kita ngasih dia perhatian dan rasa sayang kita. Dan itu tulus. Kita menikmati betul perasaan kita kedia. Kita menikmati betul memberikan perhatian kita ke dia. Dan semua itu kita lakukan tanpa kita pikirin kita sebenernya udah jadi milik orang lain, misalnya. Atau dia udah jadi milik orang lain. Atau apapun yang ujungnya sebenernya kita tau kalo kita ga akan pernah bersama dia.

Apakah kita pernah mikirin kalo perhatian dan rasa sayang kita ke dia hanya bikin dia sakit hati nantinya? Bagaimana kalo dia akhirnya jatuh hati pada kita? Apakah kita akan bertanggung jawab atas ini? Kalo emang kita niat untuk jadi pacarnya atau pasangan hidupnya sih ga papa. Atau jika dia emang ga milik siapa-siapa dan rasa sayang kita ga akan ngerusak hubungannya dengan seseorang yang udah memilikinya sebelum kita kenal, itu juga ga papa. Tapi ini udah jelas-jelas ga mungkin? Hmm, lebih baik jangan. Ini hanya bakal nyakitin.

Sekalipun perasaan kita emang tulus ke dia, tapi kita ga liat-liat, ini sama aja kita mempermainkan perasaannya. Untuk apa kita memperlakukan dia seperti itu kalo ujung-ujungnya semua ini akan merusak segala-galanya. Ini ga lebih dari sebuah keegoisan belaka. Kita menikmatinya, tapi orang lain yang menanggung akibatnya.

Lebih baik, simpan aja perasaan itu dan jangan memperlakukan dia seperti itu. Bersikaplah biasa aja. Bersikaplah yang lain yang bukan mengistimewakannya. If u know that u can never be together, so don’t u ever do this.

Kita mungkin selama ini berpikiran kalo yang kita berikan itu tulus, maka itu ga akan pernah menyakiti siapapun kecuali pasangan kita atau pasangannya. Tapi bukan perasaan orang yang tulus kita sayangi itu. No, ini salah. Perasaan tulus dengan memperlakukannya seperti itu tetep aja bisa nyakitin. Sangat nyakitin.

Hmm, mungkin dulu Jen memperlakukan perempuan yang akhirnya menguna-gunainya dengan sangat tulus. Perlakuan yang istimewa. Bukannya perlakuan istimewa bohongan. Tapi Jen ga bisa bersama perempuan itu. Dan menjadi orang yang ga waras akhirnya jadi tanggung jawab Jen seumur hidupnya. Perempuan itu emang salah juga. Tapi siapa yang menyebabkan semua ini? Atau jika perempuan itu ga menguna-guna si Jen, tapi dia depresi atau bahkan bunuh diri sekalian. Tetep aja, Jen yang salah kan? Andai Jen ga pernah begitu, mungkin sekarang dia udah menjadi kakek dengan enam orang cucu seperti nyokap gue.

Cinta emang sensitif. Jika cinta emang bisa bikin kita jadi gila, ternyata cinta bisa bikin orang membuat orang lain jadi gila. Gila dalam arti kata yang sesungguhnya. Ga waras lagi.

Hmm, kebayang ga kalo mereka yang hanya bikin-bikin ge’er gitu ya? Cuma buat hiburannya semata (What a loser! Yang ini sih bener-bener loser!!!). Kalo yang tulus aja bisa dibikin gila, gimana yang gini…?

Tuesday, July 15, 2008

Middle Finger Is So Cool!! (?)

Waktu kita kecil, kita pastinya selalu diajarin untuk ngomong yang sopan dan baik. Agar kita punya budi bahasa yang baik jika kita ngomong ama orang yang lebih tua, temen sekolah, guru, orang2 disekitar, dan sebagainya.

Ga cuma agar kita ngomong sopan aja, ini juga dilakukan oleh orang tua kita agar kita jadi orang yang jelas pernah disekolahin. Berpendidikan. Anak sekolah ngomongnya ga boleh gitu, kata orang2 tua kita.

Tapi seiring berjalannya waktu, kala kita udah dewasa, sepertinya hal kaya gini emang udah ga berlaku lagi. Ya, bukan ga berlaku secara umum. Tapi ga berlaku didiri kita lagi. Dan dipergaulan kita. Untuk apa terus-terusan ngomong sopan2? Untuk apa kita ga pernah ngomong kasar? Ngata2in orang, ngomong jorok, mengumpat, mengejek, menghina, dan semuanya. Apalagi kalo ngomong2 kasar pake bahasa Inggris! Wah, keren banget! Kesannya justru sangat gaul sekali. So sophisticated! Damn!!!

Entah ini sebuah penggeseran nilai kehidupan (aduh…) atau emang ini hanya trend atau ini justru suatu pembuktian atas posisi seseorang dimata masyarakat (baca: pergaulan), ngomong kasar emang rasanya seperti sebuah keharusan! Well, liat aja, disekitar kita orang yang berpendidikan juga ngomongnya kasar2 dan ga mencerminkan kalo mereka berpendidikan tuh. Temen2 kita, rekan2 kita dikantor, dikampus, disekolah, dimanapun!!

Pernah kan kita denger orang yang selalu ngomong the ‘F’ word itu? Atau pake bahasa sini, ngen***, nge**, anj***, mony**, dan sebagainya. Atau yang lainnya?

Siapa peduli dengan anggapan kalo orang berpendidikan itu ngomongnya baik, berbudi pekerti, sopan, berpendidikan sekali, and all those stupid crap they always said hundred years ago? Orang yang berpendidikan tinggi jaman sekarang ya kalo ngomong ya, yang bukan seperti itu. Orang yang berpendidikan jaman sekarang, baik yang pernah sekolah diluar negri sekalipun, ya kalo ngomong ya yang seperti f**, s**, d**, motherf**r, dan sebagainya! Baik dalam bahasa kita maupun bahasa londo itu. Semakin kasar mengumpatnya, semakin kerenlah dia. Berpendidikan? Ya inilah pendidikannya. Huahahahaha…

Jangan salahin dunia itu sekarang udah makin gila, no! Itu terlalu cengeng! Terlalu manja. Kenapa lantas dunia yang salah. Pikiran kita aja yang emang salah. Lha kenapa juga doyan ngomong2 macam begini? Ngomong2 kasar baik pake bahasa manapun emang udah merupakan kebanggaan.

Orang tua kita boleh aja mulutnya berbusa ngajarin kita ngomong sopan kala kita kecil. Orang2 tua itu boleh aja berpendapat kalo semakin tinggi pendidikan yang anaknya peroleh, semakin banyak uang yang mereka habiskan untuk anaknya mengenyam pendidikan2 itu, maka anak2 mereka akan sangat berpendidikan dan memiliki cara bicara yang sangat berpendidikan. Walau mereka ternyata salah. Orang2 yang punya pendidikan tinggi, rendah, atau apapun, ngomongnya ya sama aja tuh. Cuma bedanya mereka pake bahasa Inggris atau bukan.

Dan satu yang ga ketinggalan, yaitu gaya kalo difoto. Hey, jari tengah emang paling keren! Gaul benget deh pokonya! DUUH!

Monday, June 23, 2008

Would-U-Heal-My-Broken-Heart-? Approaching Type


Pedekate. Pendekatan. Ini adalah kata yang kalo dalam bahasa Inggris tuh adalah approaching. Biasanya dilakukan ama orang yang lagi suka ama seseorang dan mau jadi pacarnya. Pedekate bisa dalam banyak hal. Dari mulai ngedeketin lewat hobinya, ngedeketin lewat kesukaannya, sok-sok perhatian, dan yang paling populer adalah ngedeketin lewat curhat. Sok-sok curhat gitu deh.
Isi curhatnya bisa macem-macem. Ada yang curhat dengan masalah-masalahnya yang sekarang, sampe curhat tentang masalahnya yang dulu-dulu. Biasanya nih, curhatan yang tentang dulu-dulu tuh yang tentang dia dulunya disakitin ama pacarnya.
Ya, karena udah ketauan lagi pedekate, biasanya orang yang dideketin, kalo emang nerima ya, mau aja dicurhatin kaya gitu. Dan mengalirlah curhatan demi curhatan itu. Dan seperti diatas tadi, curhatan tentang pernah disakitin ama pacarnya yang dulu jadi curhatan yang ga ketinggalan. Malah sebenernya ini adalah andalan buat pedekate! Curhat disakitin ama pacar yang dulu tuh merupakan senjata ampuh buat menaklukan si yang dideketin. Tentunya dengan harapan yang dideketin jadi makin simpatik ke dia dan punya pikiran kalo orang-yang-dulu-pernah-disakitin-ga-bakalan-nyakitin-orang. Dan tentunya ya ujungnya ya nerima jadi pacar.
Well, sebaiknya jangan pernah mau terlena ama curhatan kaya gini dan bikin lo lantas percaya kalo orang ini adalah orang yang tepat buat lo. Dengan mikir kalo dia ga bakalan nyakitin karena dulunya pernah disakitin adalah salah!
Mau dia bohongan atau ga ngibul kalo dulunya disakitin, tetep aja buntut-buntutnya dia mungkin-mungkin aja nyakitin lo. Percayalah, ini ga lebih dari trik untuk menggaet seseorang dengan memanfaatkan sisi lembut dan kemanusiaannya yang tentunya disalahgunakan.
Just remember, bahwa orang yang pernah disakitin atau curhat pernah disakitin ama pacarnya dulu, sama potensialnya kok dengan orang yang ga pernah nyakitin pacar untuk nyakitin hati lo. Hahahaha...

Monday, June 2, 2008

My Life Is Not Your Life and Your Life Is Not My Life

Nama saya Indra. Saya dilahirkan dikeluarga yang harmonis dan bahagia. Hidup saya bisa dibilang penuh kebahagiaan. Apapun yang saya butuhkan umumnya selalu tersedia. Sejak kecil hingga kini, saya memiliki fasilitas-fasilitas yang membuat saya mudah untuk melakukan apapun. Saya juga memiliki orang tua yang selalu ada buat saya. Mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk pekerjaan mereka yang membuat saya tidak sempat merasakan kasih sayang mereka. Selain itu saya memiliki saudara-saudara yang sangat baik. Kakak dan adik saya yang selalu menyenangkan buat saya. Dan semua sahabat-sahabat saya selalu membuat saya merasa hidup saya memang menyenangkan. Ditambah lagi, pekerjaan saya menghasilkan uang yang membuat saya tidak pernah merasa kehilangan semangat bekerja, mampu membuat saya pergi jalan-jalan kenegara manapun yang saya ingin kunjungi, dan pulang membawa oleh-oleh untuk mereka yang saya sayangi. Saya juga memiliki kekasih yang membuat saya merasa berarti. Memiliki dan dimilikinya adalah suatu kebahagiaan. Dia sangat pengertian, baik, dan mencintai saya dan keluarga saya.

Suatu hari saya bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi salah satu teman saya. Kita sering berbagi pengalaman dalam hidup. Kurang lebih kehidupannya sama dengan saya. Penuh kebahagiaan. Tetapi yang ia hadapi sebelum mendapatkan kebahagiaan adalah sebuah perjuangan berat. Pengalaman-pengalaman hidupnya penuh dengan kesedihan, kesusahan dan kepahitan.

Sewaktu kecil ia harus berjualan koran keliling komplek hanya untuk menabung agar bisa membeli sebuah majalah anak-anak tiap kali terbitnya. Naik bis berhimpitan dan berdesak-desakan untuk berangkat sekolah. Menghadapi orang tua yang bukan hanya berpendapatan kecil, tetapi juga kasar terhadapnya. Beberapa kali ia sempat dipukuli oleh mereka. Saya memang melihat ada bekas luka ditangannya yang diakibatkan oleh siksaan orangtuanya kala ia kecil dulu.

Selain itu untuk bisa kuliah sampai ia mendapatkan gelar seperti sekarang ini, ia harus bekerja. Mulai dari tukang pel disalah satu restoran cepat saji, menjual CD bajakan, pelayan dikafe, dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya.

Belum lagi tentang kehidupan cintanya yang sering kali berantakan. Memiliki pacar yang selingkuh, pacar yang mengintimidasi, pacar yang matrealistis, pacar yang ini, yang itu. Juga penolakan-penolakan. Baik penolakan tentang kehidupannya cintanya itu, maupun penolakan lainnya.

Kontras sekali dengan saya. Saya tidak pernah melakukan atau menghadapi apa yang ia lakukan atau hadapi dulu. Waktu kecil, saya tinggal menunggu setiap hari Kamis untuk mendapatkan majalah anak-anak yang sama yang ia beli dengan berjualan koran berkeliling komplek. Saya tidak tahu rasanya berdesak-desakan didalam bis. Yang saya tahu adalah berdesak-desakan tiap kali nonton konser. Itupun jika saya nekad ikut-ikutan teman-teman saya untuk nonton dikelas festival. Orang tua yang suka memukul? Orang tua saya paling membenci hal yang satu itu. Dan tentang pacar, ya seperti yang saya ceritakan diatas.

Kami bersahabat baik. Walau hidup kami berlatar belakang berbeda seperti ini. Saya sering dibilang sebagai orang yang beruntung olehnya. Untuk yang satu ini, saya merasa dia benar sekali. Dan ini adalah hal yang saya sukuri. Tapi satu hal yang saya lantas merasa tidak benar adalah kata-katanya yang seringkali ia tudingkan kepada saya. Yaitu kata-katanya yang menyebut saya sebagai orang yang tidak pernah berjuang sama sekali dalam hidup. Dan yang akhirnya saya tidak habis pikir adalah tudingannya atau mungkin predikat saya dimatanya tentang saya yang payah, dan memiliki hidup yang ‘tidak ada apa-apanya’.

Apa benar jika kita tidak pernah menghadapi hal-hal yang berat dalam hidup kita, kita lantas bukan orang yang tidak pernah berjuang sama sekali dalam hidup kita? Saya pikir, saya pernah mengalami perjuangan-perjuangan dalam hidup saya. Toh itu ada dalam hidup saya. Dan itulah perjuangan yang saya hadapi.

Sebut saya naïf, lugu, atau apapun itu, tapi jika kita merasa sudah melakukan banyak hal berat dalam hidup kita apakah kita lantas berhak membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain tetapi dengan menganggapnya sebagai orang yang payah? Jika hidup saya tidak sesusah hidupnya bukan berarti ia lantas seorang jagoan sementara saya hanya seorang pengecut bukan? Dan itu bukan berarti hidup saya tidak ada apa-apanya. Semua orang punya kisah hidupnya masing-masing. Semua orang punya perjuangan dalam hidupnya masing-masing. Toh Tuhan sudah menentukan apa yang harus saya hadapi, apa yang harus orang lain hadapi, apa yang saya punya dan apa yang orang lain punya kan? Berat atau tidaknya yang merasakan adalah yang menjalaninya. Dan saya pikir dia tidak berhak menilai saya dari kacamatanya yang berdasarkan hidupnya itu.

Well, maaf saja kalau ternyata hidup saya yang selalu bahagia ini membuat orang tidak nyaman. Maaf saja kalau ternyata kebahagiaan ini membuat orang lain menjadi picik. Saya tidak pernah bermaksud seperti ini.

Kenapa kita sepertinya marah terhadap orang lain yang tidak merasakan dan menghadapi kesusahan seperti yang pernah atau selalu atau masih kita hadapi? Kenapa hidup orang lain yang jauh lebih beruntung membuat kita lantas mengecilkan orang itu? Apakah perjuangan dalam hidup membuat kita jadi mudah menilai orang? Apakah jika kita pernah terbang lantas menilai mereka yang tidak terbang sama sekali sebagai orang yang bodoh, menyebalkan, pengecut, manja, dan sebagainya. Apa artinya perjuangan hidup yang berat selama ini kalau itu hanya membuat kita menjadi picik, dangkal, mudah menilai, dan mudah benci kepada orang lain, dan tentunya sombong?

Wednesday, May 21, 2008

Buaya dan Kadal

Pernah denger istilah buaya dikadalin? Rasanya semua orang pasti pernah denger istilah yang satu ini. Istilah yang mungkin berasal dari atau terinspirasi dari ukuran dua hewan itu. Atau mungkin kelakuan. Karena buaya pastinya ukurannya jauh lebih besar ketimbang kadal dan buaya mungkin punya kelakuan yang lebih buruk dari kadal. Tapi tetep ada kesamaan. Kesamaannya adalah dua2nya punya kaki empat dan reptil. Pastinya dua2nya mirip.

buayaaa.. buseeet

Kalo kita artiin istilah ini berarti orang yang lebih jago tapi dibodohin. Yang lebih besar, tapi dikecilin. Yang udah lebih senior, lebih hebat, tapi dianggap bego. Lebih sering melakukan satu kelakuan, tapi dianggap ga ngerti apa2.

Contohnya misalnya kalo ada seorang ‘senior’ dalam bidang tipu menipu. Tapi suatu kali seseorang mau menipunya. Dan karena dia udah biasa banget dan jago banget dalam bidang tipu menipu, dia bisa tau kalo dia sedang ditipu.

Atau misalnya seorang guru. Jamannya dia masih sekolah dulu, dia sering bikin surat palsu kalo dia lagi pengen bolos. Surat yang ditanda tanganin sebisa mungkin mirip tanda tangan orang tuanya itu dengan sukses menyelamatkannya dari konsekwensi karena bolos. Dan suatu hari ketika dia udah jadi guru, ada seorang muridnya yang coba2 ngelakuin hal yang sama. Dengan bangga si guru yang dulunya murid ini pun lantas bilang, “Buaya mau dikadalin!”

Dan tentunya konsekwensi dari bolosnya sang murid jadi terlaksana. Surat seperti itu ga akan mempan untuk seorang buaya seperti sang guru ini. Dia udah tau apa2 aja yang sekiranya bisa dikategorikan sebagai surat palsu. Dia udah tau sengibul2nya si murid itu kaya apa. Karena si guru ini emang buayanya dalam bidang yang satu ini.

Atau juga seorang atasan. Dulu waktu dia belum punya bawahan, dia sering banget berkelakuan ga professional dikantor. Banyak kerjaan yang dipending2 hanya karena dia lebih seneng nyantai kalo dikantor. Lebih seneng browsing2, chatting2, dan sebagainya yang ga ada hubungannya ama kerjaan. Bahkan sampe bikin kerjaannya terbengkalai. Dan walau kelakuannya kaya gitu, ternyata dia bisa terus berkarier sampe akhirnya dia punya bawahan. Tapi kelakuannya yang suka menunda2 kerjaan demi nyantai itu masih sering dia lakuin. Suatu hari dia merintahin bawahannya untuk ngerjain tugas yang dia kasih. Dan sampe besoknya, ternyata tugas yang dia kasih ke bawahannya itu ga kelar2 juga. Teguran akhirnya sampe ke sang bawahan. Tapi isinya ya itu tadi, menganggap sang bawahan berkelakuan sama dengannya. Ga ngerjain tugas, tapi malah main2. Malah nyantai2. Dan apapun alasan sang bawahan, dia ga percaya. Dia merasa seperti seorang buaya yang sedang dikadalin sama sang bawahan. Karena dia yakin banget kalo sang bawahan ga ngerjain tugas karena sang bawahan ini malah nyantai2 seperti yang dia tau kalo orang ga ngelakuin tugas itu berarti ngapain. Yaitu seperti dia sendiri.

Inilah yang jadi hal yang sebenernya bener2 salah. Apa bener kalo orang bikin salah, lantas perbandingannya atau dasarnya adalah diri kita sendiri? Kalo kita emang seorang yang sering bikin hal2 buruk entah itu dulu maupun masih, lantas ketika kita ketemu dengan orang yang salah kita lantas menuduhnya ngelakuin hal yang sama seperti kita jika kita dalam kondisi seperti itu?

Tau apa kita dengan hal yang sebenernya terjadi? Gimana kalo alasan yang orang lain berikan itu emang bener adanya? Kaya seorang murid yang ga masuk tapi surat yang dikasih kegurunya itu bukan surat yang tanda tangannya palsu. Hanya karena dulu kita sering bikin surat model begitu, bukan berarti kalo surat tersebut palsu.

Dan seorang atasan juga bukan berarti seorang dukun atau paranormal yang bisa tau begitu aja dan ga percaya akan apapun alasan yang dikemukakan kalo misalnya sang bawahan ga kelar2 ngerjain tugas, karena merasa udah tau banget hal kaya gini hanya karena sering ngelakuin hal2 kaya gini.

Kenapa kita lantas suka ga percaya ama orang lain hanya karena kita ini seorang yang buruk? Kenapa kita lantas menganggap orang lain sedang menipu kita hanya karena kita ini tukang tipu? Kenapa jadi selalu menuduh orang lain hanya karena kita pernah dan masih melakukan hal yang buruk? Kenapa jadi menyama-ratakan gitu?

Kita dulunya atau sekarang masih buruk, ketika ketemu yang gelagat2nya mirip kita, lantas yakin bener kalo dia berkelakuan kaya kita. Karena kita pernah, berarti kita tau? Karena kita kelakuannya buruk, kita tau kalo orang lain itu sama kaya kita? Serupa tapi tak sama, karena kita buaya dan ga mungkin ada kadal yang bisa jadi buaya kaya kita. Padahal belum tentu dia mengkadal2kan buaya seperti kita? Dan kenapa juga kok jadi bangga ama ini ya?

Berpikiran positif aja lah. Dan kalo kita pernah dan masih sering ngelakuin hal yang salah, jangan jadiin diri kita standar dalam menuduh orang lain itu berbohong, ngelakuin kelakuan buruk, atau apa aja. Kita ya kita, dia ya dia. Kalo dia jujur gimana?

“Lo jangan coba2 nipu gue deh! Gue tau lo ngibul! Gue tuh sering tau ngelakuin yang kaya gini! Gue tau yg beginian! Kita sama tukang tipu. Tapi gue labih jago dari lo! Buaya lo kadalin!”

Coba kalo ada jawaban, “Ya itu elo kali. Gue mah jujur. Jangan sama ratain gue ama lo dong?”

Untuk yang ini, kayanya kata ‘kita’ terlalu ngeselin untuk didenger. Kita? Elo kali, gue engga!

Monday, May 5, 2008

Miss. Understanding!


Jaman sekarang banyak banget alat komunikasi yang bikin kita jadi gampang berkomunikasi. Dengan kecanggihan alat2 dan sarana komunikasi kaya gini, kita jadi dengan cepet dan mudah berkomunikasi ama temen kita, keluarga kita, dan lain2. Mulai dari komunikasi yang ga penting2 amat, sampe yang bener2 penting.

Semua alat komunikasi terutama telpon udah semakin canggih. Ya, seperti yang kita tau tentunya, telpon udah bukan hanya bisa diem aja dirumah dengan kabel2nya itu, tapi bisa dibawa keluar rumah, alias handphone. Dan di handphone, kita bisa pake fitur yang ga harus ngomong kalo kita berkomunikasi, tapi cukup lewat tulisan, sms.

Dan lebih luas lagi, ada internet yang bikin kita bisa kirim2 email, dan ber-IM (Instant Messaging) atau lebih populer disebut chatting. Ya, ga harus ngomong, tapi cukup dengan tulisan aja.

Tapi ada satu hal yang sebenernya kadang bisa jadi sangat mengganggu dari komunikasi yang satu itu. Katakanlah mungkin ini adalah sisi buruknya. Kadang2 kita jadi suka salah komunikasi gara2 itu.

Misalnya sms. Kadang kita suka ketik dan ngirim sms dengan tulisan yang sebenernya bermaksud sebagai hal B, tapi keterima oleh sipenerima sebagai hal A. Dan ini ga lain dan ga bukan disebabkan ama satu hal yang disebut intonasi atau nada bicara. Siapa yang bener2 bisa tau secara tepat intonasi seperti apa pesan singkat dalam handphone itu yang dimaksudkan oleh pengirim itu dibaca? Atau apakah sipengirim ngirimin sms dengan intonasi yang ‘begini begini begini’, tapi sipenerima nerimanya dan baca dengan intonasi yang ‘begini begini begini’ juga tapi secara beneeeer bener akurat?

Contohnya gini, misalnya si Andri ngirim sms buat Reni. Isinya: “Ah, ga nyambung!’ tapi dengan intonasi yang seperti orang mengeluh. Mirip2 anak kecil. Dan sebenernya terdengarnya justru lucu. Dan emang ini niat Andri sebenernya. Tapi buat Reni, sang penerima, sms dari Andri itu dibaca dengan intonasi yang berbeda, yang ujung2nya bikin si Reni marah. Ini bukan hanya ga akurat lagi, tapi jauh meleset!

Atau kalo ber-IM. Chatting. Ga jauh beda ama sms, yang ini juga kadang bikin bete gara2 salah intonasi. Mungkin isi pembicaraan pas lagi chatting ga bermaksud yang seperti begini, tapi malah jadi yang seperti begitu, gara2 baca dengan intonasi yang salah dari yang dimaksud. Bisa akhirnya dua orang yang saling asik ngobrol via dunia maya itu malah jadi berantem. Begini malah begitu. Atau bisa juga malah jadi ge’er, padahal ga taunya ga bermaksud nge-ge’er-in. Intinya ya salah intonasi aja.


Nah, dari salah2 intonasi inilah hal2 yang ga diinginkan suka kejadian. Ada dua orang yang hubungannya jadi retak, ada yang merasa dihina, dan semacamnya. Disinilah positive thinking harus dipake. Pikiran yang jernih harus dipake. Baca dengan baik dan intonasi yang ‘berasas praduga tak bersalah’. Pendeknya gitu. Bahwa sms dan chattingan itu tulisan2nya ga bermaksud lantas jadi kasar, terbaca sebagai omelan atau semacam itu.

Ada satu hal lagi, kadang kita juga ngerasa sangat bete sama orang yang dikit2 terima telpon padahal kita lagi ngobrol dengan dia. Dan setiap kita sedang bersama seseorang yang kita rindu sejak beberapa lama, tiba2 ketemu dan ada kesempatan ngobrol, dia malah sibuk nerima telpon ga ada henti2nya. Lagi sibuk berkomunikasi.

Dan ya, kalo dipikir lagi, jaman sekarang yang katanya paling gampang berkomunikasi justru malah membuat orang lain sering salah komunikasi. Salah maksud, salah sangka, dan sebagainya. Dan untuk apa terus menerus berkomunikasi, tanpa menjaga komunikasi yang sesungguhnya untuk tetep beres? Komunikasi untuk silaturahmi, tapi silaturahmi rusak gara2 komunikasi yang salah yang disebabkan oleh alat2 dan sarana komunikasi. Sayang sekali kalo jadinya begini.

Banyak alat komunikasi kok malah jadi susah berkomunikasi. Dan salah berkomunikasi. Misunderstanding gara2 miscommunication.

Ngomong2, miscommunication itu salah satu dari gelar yang ada diacara Miss. Universe bukan ya?

Kalo misunderstanding gimana?


Rasanya gelar ini bisa aja disematkan buat mereka yang pernah atau bahkan sering misunderstanding gara2 miscommunication.

Miss. Communication, Miss. Understanding dan Mister2-nya of course, (kan bukan cewe aja!)… Hahaha…


Monday, April 7, 2008

Siapakah Yang Pantas Dilecehkan?

...


Reda adalah seorang pelacur. Dia biasa tidur dengan lelaki mana saja. Dan tentunya karena dia pelacur, dia dibayar untuk itu. Suatu hari, saat Reda sedang berjalan, ada beberapa orang berandalan yang mencegatnya. Dan akhirnya Reda diperkosa beramai-ramai oleh para berandalan itu. Reda sangat tidak ingin hal ini terjadi. Ia sangat membenci para berandalan yang memperkosanya itu.

Richard adalah seorang gay. Suatu hari, karena sudah larut malam, Richard terpaksa menginap ditempat kost seorang teman laki-lakinya. Dan malam itu saat ia sedang terlelap seluruh tubuhnya digerayangi oleh sang temannya yang ternyata seorang gay juga. Sampai akhirnya ia menyadari ada yang tidak beres sedang terjadi padanya. Dan dia akhirnya marah pada sang teman tersebut.

Seorang penyanyi dangdut bernama Yati biasa menerima order manyanyi dari panggung kepanggung. Dia biasa menyanyi jika ada pesta dikampung-kampung. Dan setiap kali menyanyi, Yati selalu memakai pakaian yang seronok dan melakukan gerakan-gerakan yang menggoda. Suatu kali ketika ia baru saja selesai menyanyi, seseorang menyolek payudaranya. Dan orang itu lantas ditamparnya seketika itu juga.

Hmm, mungkin hal seperti ini sepintas tidak tampak pantas. Seorang pelacur diperkosa, seorang gay dipegang-pegang oleh sesama gay, seorang penyanyi berpenampilan seronok dengan goyangnya yang menggoda tiap kali menyanyi diatas panggung dicolek sembarangan oleh seseorang. Hal seperti ini seperti pantas-pantas saja terjadi. Toh, bukankah memang begitu yang seharusnya terjadi? Toh bukankah memang itu adalah kemungkinan terbesar yang bisa sangat terjadi pada orang-orang ini?

Menjadi pelacur bukan berarti semua orang lantas boleh tidur dengannya. Melacurkan diri adalah menjual diri. Menjual berarti ada sesuatu yang ditukar untuk mendapatkan apa yang orang mau dari sipenjual. Reda memang layak tidak terima keadaan seperti ini. tidak ada kesepakatan, tidak ada perjanjian. Apa yang membuat para berandalan itu boleh menidurinya? Memperkosanya?

Jika Richard marah pada temannya itu sangatlah pantas. Menjadi seorang gay bukan berarti dia pantas diperlakukan seperti yang temannya lakukan pada malam itu, meski mereka sama-sama gay. Memang Richard tidak mengalami kerugian apapun secara fisik atau uangnya lantas raib setelah itu, atau dipaksa membayar ‘jasa’ temannya itu. Tetapi yang dilakukan temannya itu bukanlah hal yang diinginkannya. Dan yang dilakukan temannya itu adalah pelecehan.

Dan tentunya Yati bukanlah orang aneh yang tiba-tiba ada jika ia marah pada sang pencolek kurang ajar itu. Menyanyi dengan pakaian seronok, menari dengan goyangan yang menggoda bukan artinya bahwa ia sedang menginformasikan ke semua orang, ‘coleklah saya’. Itu adalah hal yang berbeda. Menyanyi diatas panggung dan menari bukan berarti ‘saya bebas kamu apakan semaumu’. Diatas panggung ia adalah penghibur. Yang orang liat diatas panggung, ya itulah yang diatas panggung. Titik. Kalau dikatakan sebagai resiko, bukan berarti ia lantas membiarkan begitu saja tanpa ada perlawanan kan? Apakah kita jika tau akan mati maka kita diam saja padahal kita belum mau mati? Dan Yati melakukan hal yang benar dengan menampar orang tersebut.

Pelecehan bukan hanya 'diterima' oleh orang-orang yang dicap sebagai orang yang ‘bersih’ saja. Pada saat orang melakukan hal yang tidak diinginkan oleh sipenerima dan semena-mena, itu adalah sebuah hal yang melecehkan, tidak menghargai, dan tidak pantas diterima. Siapapun korbannya.

Monday, March 24, 2008

Dedicated to Beautiful People (Eeeh...?)


Menjadi seseorang yang ganteng dan cantik adalah suatu hal yang nyenengin. Bahkan nguntungin. Percaya atau engga, banyak kemudahan yang bisa diperoleh gara2 ini. Buktinya dibanyak lowongan kerja umumnya ada tulisan ‘berpenampilan menarik’ sebagai salah satu dari syaratnya. Bahkan banyak orang yang lebih respek ama mereka yang ganteng atau cantik. Yang ganteng bisa aja dilayanin dengan senyuman waktu beli tiket dibioskop. Yang cantik bisa aja duduk ditempat yang enak saat tempat yang lainnya ga begitu nyaman. Dan pastinya satu yang paling umum adalah jadi ganteng atau cantik itu banyak yang naksir. Mudah dijatuhi cinta. Dan mungkin, mudah dapet pacar.Hmm…

Dan kalo siganteng atau sicantik itu sebagai orang yang ditaksir, biasanya mereka malah bisa ‘pasang target’. Alias milih2 yang mana yang bener2 bagus buat mereka. Mereka nentuin kriteria mana yang pantes untuk jadi pacar mereka. Ya, karena mereka emang banyak yang naksir. Jadi bisa milih.

Dan kalo mereka yang naksir seseorang, umumnya mereka gampang dapetinnya. Kan cantik, kan ganteng. Hehe..

Hmm, hal yang sebaliknya sayangnya sering terjadi ama mereka yang ga ganteng dan ga cantik. Bukan bohong kalo beberapa ada yang ditolak gara2 penampilan mereka di tempat kerja. Diperlakukan kurang sopan juga bisa terjadi. Paling engga, senyuman penjual tiket bioskop ga mampir ke pemilik tampang yang ga ganteng. Atau tempat duduk yang nyaman ga beralamat ama si ga cantik.

Atau kadang kita suka menganggap kalo ada orang yang ga ganteng dan ga cantik itu paling aneh kalo mereka mau punya pacar yang kira2 kriterianya kita pikir lebih kayak ‘diatas jangkauannya’.

Dan yang paling ga adil adalah, kalo misalnya ada yang ditaksir ama yang ga ganteng atau yang ga cantik. Ada yang malah suka bete kalo ini terjadi. Ya kan? Well, mereka mungkin bisa aja lalu ditanggapin dengan baik. Tapi ada yang suka nanggepinnya dengan malah bertingkah kurang ajar sama mereka. Ya, karena ngerasa ditaksir dan yang naksir emang ga cakep makanya jadi belagu banget. Ga nganggep gitu. Salah apa mereka yang ga ganteng atau ga cantik itu kalo naksir ama orang? Kan itu hak mereka mau merasa apapun kepada seseorang. Dan karena diperlakukan songong dan sembarangan, mereka akhirnya jadi marah. Ada aja yang akhirnya mikir, “..diih.. sok ganteng banget sih lo! Marah ceritanya? Ga penting!” atau “Kaya cantik aja nih cewe, sok ngambek segala ama gue!”

Atau misalnya kita liat di suatu acara infotainment. Ada seleb yang dapet suami ganteeeng banget. Sementara si seleb ini ga cantik2 banget. Dan akhirnya si seleb yang ga cantik ini malah minta cerai dari si cowok ganteng itu. Kita yang liat sering berujar, “kaya cantik aja nih artis. Udah untung dapet cowo ganteng.” Padahal kita ga tau pasti kalo si cowo yang ganteng itu kelakuannya gimana sampe si artis itu kabur. Pendeknya jadi pertanyaan, emangnya mentang2 ga cantik, ga boleh bete ama yang ganteng?

Atau ada seleb cowo yang tampangnya ga ganteng yang benci banget ama mantan cewenya yang ternyata selingkuh saat mereka masih jadian. Dan dia marah didepan kamera infotainment. Yang ada, ga beberapa lama ada forum diinternet yang isinya umumnya bilang kalo dia ga pantes marah. Dan tololnya, dianggap ga pantesnya dia marah itu gara2 dia ga ganteng. Kurang lebih bilangnya gini, “Itu penyanyi itu ga ganteng aja belagu. Pake marah2 segala. Udah untung ada cewe cantik mau ama dia. Waktu pas denger suaranya sih oke, tapi liat tampangnya gue jadi males! Apalagi marah2 kaya sekarang, makin males!” plus emoticon yang lagi ngamuk dan tomb down.

Bodoh kan?? Emang marah ada hubungannya ama fisik?? Dan kenapa juga harus dihubung2in ama fisik? Picik amat!

Yah, kita emang sebaiknya memperlakukan orang dengan baik lah. Ga usah beda2in. Apalagi bedainnya dari fisik. Waduh.., jangan udah nyebelin terus bego pula! Mau ganteng atau engga, mau cantik atau engga, mereka, kita, ya sama aja. Sama2 manusia. Sama2 layak dihargai.

Jadi kalo misalnya ada yang mukanya ga ganteng dan ga cantik ya boleh2 milih pacar yang bener2 tepat buat dia walau kriterianya ‘tinggi’. Emang kenapa? Ga boleh??

Yang ga ganteng atau ga cantik, ya boleh2 aja naksir ama kita (yang ganteng dan cantik ini). Dan ga perlu bete gara2 ini. Dan kalo emang ga ganteng atau ga cantik yang naksir, bukan kita jadi sembarangan ke mereka kan? Atau kalo yang ga cantik atau ga ganteng ditaksir sama yg ganteng atau yang cantik tapi yang ditaksir itu nolak, ya boleh2 aja. Emangnya mentang2 ganteng atau cantik ga boleh ditolak, gitu?

Dan satu hal lagi, kalo ngerasa ganteng atau cantik, ga usah belagu juga. Itu bukan segala2nya. Emang sih kaya ditulis diatas kalo itu banyak nguntunginnya, tapi kalo emang orangnya nyebelin, ya tetep aja ga ngaruh! Ga akan ada perlakuan yang baik dan nyenengin kalo emang secara fisik bagus tapi kelakuan ga bagus. Paket yang bagus, bungkus yang bagus, tapi isinya ga beres. Karena banyak kan yang ganteng dan yang cantik itu justru yang orangnya nyebelin? Entah karena sering dapet perlakukan baik dan semacamnya. It’s not that all, dude!

Hey, lagi pula kan kita semua pasti diciptain ganteng dan cantik. Masa Dia nyiptain kita asal2an? Kan ga mungkin. Kalo emang kita ga sesuai menurut standar ganteng atau cantik pada umumnya, ya bukan berarti jelek. Yang Maha Sempurna ga mungkin 'salah cetak'. Termasuk ganteng atau engga, cantik atau engga, ya pasti hanya tergantung standar pada umumnya orang disebut cantik dan ganteng, atau standar masing2 orang yang liat.

Hmm, eniwe, anda termasuk yang ganteng atau bukan? Yang cantik atau bukan? Kalo bukan, ga boleh baca tulisan ini. Hahahahaha…

Monday, March 10, 2008

Do We Need to Fall Just to Know How to Fly Higher?


Setiap orang punya pengalaman buruk dalam hidupnya. Dan dari pengalaman itu akhirnya kita bisa mengambil hikmah atau paling tidak, tau rasanya mengalami hal yang buruk itu. Ada yang putus cinta, dimusuhi orang, pertemanan yang jadi tidak sebaik sebelumnya, dan masih banyak lagi hal-hal yang serupa.

Dan tidak bisa dipungkiri banyak juga dari hal-hal yang buruk itu membuat kita jadi trauma. Walau alangkah sangat baiknya jika hal-hal buruk tersebut tidak pernah menjadikan kita trauma, tetapi justru menjadikan kita lebih kuat, lebih pintar, dan lebih bijak.

Seorang gadis lugu selalu sedih jika putus cinta. Tetapi pada kesekian kalinya ia putus cinta, ia tidak merasakan lagi kesedihan yang sama seperti pada saat ia putus cinta sebelum-sebelumnya. Ia kini sudah bisa mengambil segala sesuatu yang baik untuknya dari pengalamannya itu. Ia jadi lebih kuat menghadapi itu. Kini ia merasa hal itu bukanlah hal yang bisa menghentikan langkahnya, menjadikannya terpuruk, berlarut-larut, dan menjadikannya sebagai akhir dari segala-galanya. Bahkan ia jadikan itu sebagai pemacu hidupnya agar jadi lebih baik.

Dimusuhi orang-orang disekitarnya menjadikan seorang pria berperangai buruk merasa tidak nyaman. Tetapi pada akhirnya ia mengubah perangainya menjadi lebih baik, karena sudah kesekian kalinya ia mendapatkan kesusahan dari perangainya itu, dan ‘jauh’ dari lingkungan sekitarnya. Setelah ia ubah itu semua, hidupnya jadi jauh lebih baik. Perasaan dimusuhi itu perlahan-lahan hilang. Dan ia merasa amat nyaman kini.

Dua orang yang bersahabat kini saling bermusuhan. Satu dari mereka membuat persahabatan yang mereka bina selama bertahun-tahun jadi berantakan. Yang satu merasa bersalah, yang lain merasa terjahati. Pada akhirnya mereka mencari jalannya masing-masing dan tidak bersahabat lagi. Si pembuat persahabatan antara mereka jadi buruk lantas merasa kehilangan dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang sama jika ia memiliki sahabat lagi. Ini ia lakukan karena persahabatan yang ia bina dengan sahabatnya dulu itu tidak mungkin bisa tersambung kembali. Sedangkan yang merasa terjahati itu tidak akan pernah sembarangan mempercayakan seseorang untuk menjadi sahabatnya.

Semua ada hikmahnya, semua ada sisi baiknya. Itu semua membuat kita lebih hati-hati, lebih bijak, lebih pintar dan tentu saja lebih kuat. Pengalaman mengajarkan seseorang untuk tidak menjadi orang yang melakukan hal yang pernah merugikan dirinya lagi. Sedih, berlarut-larut, dijauhi orang lain, hancurnya sebuah persahabatan, dan lain sebagainya. Pengalaman membuat seseorang lebih baik.

Tapi apakah perlu kita mengalami itu semua untuk jadi orang yang tau rasanya segala hal-hal yang menyakitkan itu? Apakah perlu kita beberapa kali jatuh cinta dan akhirnya putus untuk tau rasanya sakit hati karena cinta? Apakah perlu kita dimusuhi orang-orang dilingkungan kita untuk berubah menjadi orang yang berperangai baik? Atau juga, apa perlu kita bersahabat lantas kita sakiti sahabat kita untuk akhirnya menjadi orang yang menghargai persahabatan? Dan pula apakah perlu kita berhati-hati memilih sahabat dengan mengalami persahabatan yang merusak dan menyesakkan terlebih dahulu?

Tidak. Kita sebenarnya tidak perlu itu. Kita seharusnya tidak perlu harus jatuh terlebih dahulu untuk tau bagaimana melakukan hal yang terbaik untuk mendapatkan hal yang baik dalam hidup kita. Bukankah kita harus selalu melakukan yang terbaik dalam hidup kita? Dan melakukan yang terbaik itu bukan berarti dilakukan pada saat kita sudah terjatuh lebih dulu. Atau pada kesempatan yang kedua. Kesempatan yang ada setelah rusaknya kesempatan yang pertama. Ini seperti seorang murid sekolah yang tinggal kelas terlebih dulu untuk akhirnya punya keinginan untuk belajar dengan giat. Toh, jika ia sudah giat sejak awal, tak perlu tinggal kelas segala 'kan?

Dan antara lain, kita juga bisa dengan mendengarkan atau tau dari orang lain. Dari orang-orang yang sangat baik yang mau menceritakan atau membagi pengalamannya kepada kita bagaimana hal-hal seperti itu pernah mereka alami. Atau mungkin tidak secara langsung bercerita atau berbagi dengan kita, tetapi sempat kita mendengar ceritanya. Dan dari apapun yang bisa menginspirasikan kita lainnya. Misalnya kita membaca buku, artikel dan film, bahkan lagu. Kita bisa terinspirasi untuk menjadi orang yang baik dan lebih baik. Kita tidak perlu mengalami hal-hal yang buruk itu terlebih dahulu untuk menjadikan diri kita lebih kuat, labih bijak, lebih pintar, dan pastinya lebih baik. Atau tau rasanya sakit hati dengan cara mengalaminya sendiri.


Kadang kita memang menganggap cerita pengalaman seseorang adalah hanya sebuah cerita seru yang ia alami. Atau mungkin kita merasa kasihan padanya. Atau bisa jadi kita hanya menganggapnya angin lalu. Atau hal-hal lain yang sebenarnya bisa sangat menginspirasikan kita, hanya kita anggap sebagai hiburan atau semacamnya. Padahal inilah salah satu kesempatan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dan orang yang lebih siap menghadapi kemungkinan yang buruk tanpa harus melalui, katakanlah, ‘ujian-ujian’ terlebih dahulu. Toh, jika kita akhirnya berada diposisi seperti yang mereka alami, kita seolah adalah orang yang sudah sangat berpengalaman. Seolah kita sudah pernah melewatinya dan tau rasanya. Kita sudah bisa menanganinya. Dan akhirnya kita bisa jauh lebih baik dari yang lebih baik karena akhirnya pernah mengalaminya juga.


Kemungkinan rasanya dan tidak akan sama, dan mungkin yang akan terjadi tidak akan persis sama dengan hanya mendengar atau melihat pengalaman orang lain dibandingkan mengalaminya sendiri. Tapi paling tidak, mungkin akan jauh lebih baik ketimbang kita tidak tau apa-apa. Dan jika kita buka mata, pasang telinga, kita tidak perlu sampai akhirnya terpuruk, berlarut-larut dan mungkin putus asa.

Ya, kekuatan diri kita sudah seharusnya kita bangun sebelum hal-hal itu terjadi. Semua itu bisa terjadi jika kita percaya bahwa kita mampu tanpa hal itu terjadi terlebih dahulu.


So, tak perlu jatuh dulu untuk berdiri lebih tegak. Atau menjadi orang yang baik itu tidak perlu menjadi orang yang jahat terlebih dahulu. Dan jangan takut untuk apapun. Jalan terus. Kita sudah tau, dan akhirnya kita sudah siap!
Hmm, are you ready?

Monday, February 25, 2008

Normal, Wajar, Biasa

Hal yang wajar dan normal adalah hal yang terbaik yang semua orang ingin banget alami. Dan itu bisa dalam hal apapun. Tentunya emang semua orang mau banget yang normal-normal aja. Yang wajar-wajar aja. Rutinitas, kehidupan yang emang pada umumnya orang jalanin, reaksi terhadap segala sesuatu jika kita sedang menghadapinya, anggapan akan sesuatu yang terjadi, dan sebagainya.

Tapi sayang, banyak orang yang kadang suka mewajarkan begitu banyak hal yang sebenernya buntut-buntutnya cuma bikin mereka jadi ga maju bahkan berbalik jadi buruk. Bikin mereka jadi tetap gitu-gitu aja tanpa ada perubahan atau jadi lebih baik.

Contohnya banyak. Hmm, salah satunya adalah mewajarkan ketidakbisaan berbahasa Inggris dengan pemikiran kalo bahasa tersebut bukan bahasa ibu kita. Bukan bahasa yang emang menjadi bahasa wajib kita.

Contoh lainnya adalah orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, dengan mikir ga ada cerita dari keluarganya dulu-dulu tuh ada yang sekolahnya tinggi. Jadi sejarah pendidikan dikeluarganya ya cuma sampe disitu, maka anak-anaknya ga ada yang tinggi-tinggi banget. Dan terus seperti itu.

Atau dalam kehidupan cinta. Misalnya seseorang putus cinta. Wajarnya menurut seorang cewe bernama A, putus cinta itu ya bersedih. Nangis-nangis, terkenang-kenang, dan sebagainya. Karena merasa wajarnya seperti itu, ya tiap dia putus dia lantas nangis-nangis, terkenang-kenang, mellow, berduka dan sebagainya. Padahal dengan menganggap ini sebagai kewajaran, dia lantas ga kemana-mana. Dia muter-muter aja dikondisi kaya gitu. Terjebak dalam situasi yang bikin dia jadi kacau sendiri. Coba kalo dia anggap itu sebagai hal yang ga wajar? Pastinya dia ga bakalan kaya gitu dan tentunya udah move on with her life. Tetep biasa-biasa aja, tetep ceria, tegar, ga ada matinya! Keren kan?

Atau ada juga contoh misalnya seorang cowo atau cewe yang penampilannya bagus waktu belum menikah. Yang cowo otot-ototnya keren. Dada bidang, perut six-pack. Yang cewe langsing, rambut bagus, kulit bersih, suka dandan. Tapi begitu menikah, semuanya beda. Jadi gendut, perut buncit, rambut ga keurus, dekil. Ooohh..menyedihkan! Dan yang lebih menyedihkan lagi, itu semua mereka anggap wajar. Namanya juga udah merit. Udah nikah, udah punya anak.

Dan anggapan wajar ini wajar itu lainnya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita menganggapnya wajar? Kalo dengan menganggap segala sesuatu jadi wajar tapi lantas membuat kita jadi ga maju-maju atau bahkan mundur, rasanya kewajaran itu hanyalah sebuah dalih atau pembenaran yang sama sekali ga ada benar-benarnya.

Well, seperti contohnya dengan mewajarkan ketidakbisaan berbahasa Inggris itu tadi. Karena mikirnya wajar, maka kalo bahasa Inggrisnya berantakan atau bahkan ga bisa sama sekali, sampe kapanpun ga bakalan bisa berbahasa Inggris. Kan mikirnya itu oke-oke aja! Wajar-wajar aja! Maka kalo emang ga bisa, ya ga papa! Dan yang terjadi adalah berhenti aja gitu disitu! Ga kemana-mana. Ya ampun!

Atau si A tadi, yang putus cinta lantas nangis-nangis melulu. Sedih terus. Bawaannya berduka terus-terusan. Padahal seharusnya move on. Melanjutkan hidup yang emang pada dasarnya ga berhenti sampe disitu. Tapi berhubung mikirnya itu adalah sebuah kewajaran, so tetep aja ga kemana-mana. Tetep sedih, tetep berduka, dan sebagainya.

Dan buat mereka yang tadinya keren sebelum nikah en pas udah nikah pada ancur-ancuran, jangan heran kalo efeknya banyak yang pada selingkuh. Mengerikan!

Kenapa kita ga ubah segala sesuatu yang kita anggap wajar jadi ga wajar? Sesuatu yang emang kita sebut ‘biasanya selalu begitu’ kita ganti dengan pemikiran kalo hal itu emang ‘ga biasa’. jadi hal yang aneh, yang ga wajar. Dan karena itu akhirnya kita ga mau melakukannya lagi.

Dengan mikir kalo sesuatu yang biasanya itu kita anggap wajar jadi ga wajar akan membuat kita berhenti menjalankannya. Yang ga bisa bahasa Inggris maka jadi jago bahasa Inggrisnya. Seseorang yang tidak berpendidikan tinggi memiliki anak yang pendidikannya sangat tinggi. Yang tadinya nangis-nangis pas lagi putus cinta, bakalan biasa-biasa aja begitu putus cinta lagi. Dan mereka yang udah menikah tetep keren, tetep cantik.

Well, once again, kalo ada sesuatu yang membuat kita lantas lebih baik, untuk apa kita menganggap segala sesuatu yang membuat kita ga jadi lebih baik sebagai kewajaran? Anggap aja semua itu sebagai ketidakwajaran. Sebuah keanehan. Dengan begitu, maka kita berhenti untuk menjalankannya. Dan kita lantas berubah jadi orang yang jauh lebih baik, lebih maju.

Hmm, satu hal kecil yang mungkin agak luput dari pikiran kita adalah kewajaran sebenernya emang hanya sebuah anggapan. Yang ga wajar kita bisa anggap wajar, dan yang wajar kita bisa anggap ga wajar. Bahkan bukan hanya sebuah anggapan, tapi sebuah konsep. Sebuah settingan. Dan tentunya settingan itu bisa aja kita ubah-ubah semau kita. Karena itu semua pada dasarnya hanya buatan manusia belaka. Tapi tentunya kita bisa memilah-milahnya, mana yang baik dan mana yang tidak.

Well, kalo settingan itu kita ubah yang tujuannya untuk membuat segala seuatu dihidup kita lebih baik, kenapa kita ga melakukannya?

So, ga wajar? Yang gimana dulu?! Kita yang nentuin!

Monday, February 11, 2008

You're So Special, and I'm Always Special...

Kita pasti pernah menyukai seseorang. Rasa suka itu bisa berasal dari apa saja yang seseorang kita suka itu miliki. Bisa dari fisiknya atau hal-hal lain lainnya yang dia miliki. Seperti pembawaannya, karismanya, (atau bahkan) bakat-bakatnya, dan lain sebagainya.

Siapapun dia, rasa suka yang kita punya tentunya membuat kita jadi mengistimewakannya. Dimata kita dia berbeda dibandingkan orang lain dan tidak ada orang yang lebih istimewa dibanding dia. Dipikiran kita selalu ada dia. Ibarat dia itu seorang raja, dialah raja dihati kita. Bertahta dibenak kita. Tidak jarang, kita bahkan jadi mau melakukan apa saja demi sang raja ini. Yang tadinya kita tidak pernah melakukan hal-hal tertentu, kita malah dengan senang hati melakukannya. Ada juga yang bahkan rela bersusah payah. Dan tentunya untuk dia seorang.

Rasa suka itu lantas berkembang menjadi mencintai. Lalu berkembang lagi menjadi ingin memiliki. Kita jadi selalu ingin dekat dan selalu dekat dengannya. Menjadikannya seseorang yang bukan hanya istimewa dipikiran kita, atau diposisi dalam hati kita, tapi juga diposisi dalam hidup kita. Menjadikannya seorang yang selalu ada buat kita, orang yang selalu menemani kita. Menjadi sang kekasih kita.

Tapi ada satu hal yang entah ini merupakan hal yang sudah biasa atau kebetulan sebagai hal yang tertempel diotak kita, bahwa setiap kali kita suka dengan seseorang kita bukan hanya melakukan hal-hal yang baik dan bahkan jadi sangat mengistimewakannya, tapi kita malah ingin diistimewakan olehnya. Mungkin ini bisa sebagai timbal balik atau semacam itu setelah kita melakukan hal-hal baik yang baik untuknya. Hal ini sebenarnya wajar saja jika terjadi. Toh kita sebenarnya memang mengharapkan diistimewakan oleh orang yang kita cintai. Walau sebenarnya kita juga sering mendengar kata-kata, memberi tanpa mengharap kembali tentunya. Tapi kata-kata ini sama sekali tidak berlaku saat perasaan itu sedang melanda kita.

Kita ingin dia melakukan hal-hal yang indah yang bisa dia berikan kekita. Memperlakukan kita dengan sangat baik, seolah kitalah yang istimewa untuknya. Ya, kita suka dengan seseorang tapi kitalah yang tiba-tiba menjadi sangat ingin dia perlakukan dengan sangat istimewa. Entah ini hanya dalam lubuk hati kita yang terdalam maupun emang benar-benar melakukan hal-hal yang menunjukkan kita emang ingin sekali diistimewakan. Kita ingin dia perhatian, dia mau menemani kita kemana kita pergi, wah.. pokoknya yang sangat special! Lebih dari teman biasa.

Dan ada juga dari kita yang setiap kali suka dengan seseorang justru langsung berpikiran bahwa orang yang kita sukai itu harus memperlakukan kita dengan istimewa. Padahal kita tidak pernah melakukan apa-apa untuknya. Toh dia juga belum menjadi kekasih kita. Ya, pikiran ‘aku suka kamu maka perlakukanlah aku dengan istimewa’. Ini bukannya meminta ‘timbal balik’, tapi memang memiliki pola pemikiran atas rasa suka, yang sangat luar biasa. Luar biasa kacau!

Tapi pada kenyataannya ternyata tidak semua orang yang kita suka atau kita cinta dapat kita miliki. Ini bukan berarti artinya adalah kita ini tidak laku, tapi orang yang kita suka itu tidak punya perasaan yang sama seperti kita. Jangankan diperlakukan istimewa, bisa jadi dia malah sangat cuek! Menganggap kita hanya teman saja. Atau bahkan ada yang tidak melirik kita sama sekali. Kita miliki atau memiliki kita? Hmm.. Sayangnya ada kenyataan yang begini.

Dan kita lantas jadi orang yang berbalik kesal padanya. Dan tidak jarang, malah membencinya. Padahal kalau kita pikir, dia tidak salah sama sekali pada kita. Dia hanya tidak memperlakukan kita seperti yang kita mau. Itu saja. Dia kan tidak lantas jadi jahat pada kita, dengan meneror kita misalnya. Atau kita malah diperlakukan dengan kasar, menghina-hina kita, atau wajah kita lantas biru-biru karena dipukulinya. Dia hanya melakukan satu hal saja, yaitu tidak melakukan apa yang kita harap dia lakukan.

Dan ya, apapun yang dia perbuat yang samasekali tidak menunjukkan betapa istimewanya kita untuknya. Hal ini lantas membuat kita merasa tidak berarti. Kita terjebak dalam keinginan yang hanya membuat kita jadi berpikiran buruk kepadanya atau ke diri kita sendiri. Pikiran jernih kita, otak cerdas kita, kedewasaan kita dalam bersikap seolah melayang entah kemana. Kelapangan dada kita menyempit hingga tidak ada lagi ruang untuk bernafas lega. Kita lupa, lupa dan lupa atas segala hal-hal yang berbau logika. Padahal mungkin aslinya kita ini smart. Dan mungkin selama ini kita ini sering jadi tempat curhatan teman-teman kita sendiri. Ya, kita ini (termasuk) special person. Kita ini istimewa!

Hal-hal kecil seperti tidak dibalasnya sms yang kita kirim padanya membuat kita lantas berpikir diri kita ini mahluk aneh yang sangat mengganggu. Padahal mungkin saja dia sedang sibuk, sedang tidur, atau masalah klasik, kehabisan pulsa dan belum beli lagi. Kita chatting dan dia cuma menjawab dengan jawaban yang singkat-singkat dan yang terjadi dibenak kita adalah ‘Wah.., dia terganggu nih...’ Dan kita akhirnya jadi mengutuk-ngutuk dia. Dan yang terparahnya adalah ya, menyalahkan diri sendiri.

Hmm, kita punya keistimewaan kita sendiri. Toh, pada dasarnya kita diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang istimewa. Maka tetaplah jadi orang yang istimewa. Kita tidak perlu orang lain untuk melakukan penegasan atas keistimewaan itu. Apalagi ‘memaksakannya’ seperti itu. Seseorang yang kita suka tidak melakukan apa yang kita harapkan ia lakukan tidak lantas membuat kita menjadi seseorang yang tidak berarti sama sekali. Kecerdasan kita, kedewasaan kita, dan hal-hal istimewa lainnya jangan lantas hilang hanya karena kita lagi mabuk dengan menginginkan sesuatu dari orang lain.

And u know what? Kita tidak menyadari, bahwa keinginan kita diistimewakan oleh seseorang yang kita istimewakan itu justru kadang hanya membuat kita jadi menjauhkan diri kita darinya. Padahal kita justru sangat ingin dekat dengannya. Hubungan yang sebenernya bisa terbina dengan baik justru hancur berantakan oleh keinginan kita yang satu itu. Sementara pada akhirnya kita hanya bisa melihat mereka yang tidak jatuh cinta kepadanya justru jauh lebih deket dengannya dibanding kita. Padahal kita ingin sekali dekat dengan dia kan?

Seperti pepatah kuno tapi sayangnya benar, ‘cinta itu tak harus memiliki’. Cinta itu bisa dalam bentuk apa saja hadirnya dan posisinya. Tetap mencintainya dengan terus berteman dengannya juga bukan pilihan yang buruk. Kemungkinan cinta itu akan berkurang dan berubah menjadi rasa cinta kepada seorang teman bisa saja terjadi. Keistimewaannya yang membuat kita jatuh cinta padanya, atau keistimewaan lainnya yang dia miliki yang kadang justru sering menguntungkan atau paling tidak menolong kita jika kita butuhkan tetap ada. Kita tidak jauh darinya. Kita tetap memilikinya. Tapi ini kembali ke masing-masing dari kita untuk memutuskannya tentunya.

Well, be special as always. Don’t forget with things u have. Dia hanya tidak melakukan apa yang kita mau. Dan itu tidak membuat keistimewaan kita berkurang sedikitpun. Keistimewaan yang dia miliki yang kita lihat lebih dari orang lain, tidak membuat kita tidak istimewa sama sekali.


I always wished that I could find
Someone as beautiful as you
But in the process I forgot
That I was special too

I always wished that I could find
Someone as talented as you
But in the process I forgot
That I was just as good as you


X-Static Process - Madonna

Monday, January 28, 2008

What’s Wrong with U? U Weren’t Who U Are Right Now!

Pernah ga lo ketemu ama tipe orang yang kalo lagi ngobrol ama lo kesannya respek abis, tapi begitu ngumpul bareng yang lain, dia berubah jadi orang yang ngejadiin lo bahan lelucon. Lo dicengin abis! Apa aja yang sempet lo obrolin selama berdua dengan dia akhirnya malah dijadiin bahan buat ngeledekin lo, bikin lo diketawain, dan bahkan ditambah2ain. Pokonya lo bener2 jadi tersudut sebagai bahan ledekannya dia. Hmm, making fun of u! Make u as a center of ridiculous.

Tentunya lo sebagai posisi yang digituin, lo bakalan bingung kan? Ini orang kayanya tadi ga gini, deh. Kayanya kemaren ga gitu, deh. Kenapa jadi gini, ya? Bikin bete kan? Pastinya!

Well, ini mungkin udah jadi pengalaman hampir setiap orang. Entah yang jadi yang made fun of, atau justru the one who making fun of u. Tapi gue sendiri mo ngebahas mereka yang terakhir ini.

Kenapa ya ada orang yang ngebetein kaya gini? Apa mereka pernah nyadar kalo yang mereka lakuin ini bikin bete orang? Bukan hanya bete, malu banget pun bisa jadi!

Anyway, pastinya kalo secara pribadi gue pernah ngalamin juga ketemu yang kaya gini. Kalo seinget gue ada 3 orang yang pernah begini ama gue. Sayangnya, gue ga dapet piring walau udah 3 kali punya pengalaman kaya gini. (eee…??)

Yang pertama adalah temen gue sendiri. Wah, kita sering banget ngobrol! Dan kaya yang gue bilang diatas tadi, dia kayanya respek bgt ama gue dan apa yang gue omongin. One day, kita ngobrol berdua, as usual. Dan ditengah percakapan kita yang emang kira2 udah berjam2 itu, datenglah beberapa orang temen kita lainnya. Well, bisa ditebak kan arah pembicaraan gue? Ya, dia jadi gitu deh. Dan yang ada gue jadi bingung. Kayanya tadi ga gini deh. Hmm..

Kedua, temen yang ga terlalu akrab ama gue. Gue tau dari dulu emang dia kurang nganggep ama gue. Dan akhirnya ada suatu kebetulan dimana kita terpaksa jadi hanya berdua aja. Waktu itu kita emang sebenernya lagi nungguin temen kita yang satu lagi, yang emang tadinya dia bareng kita, cuma kebetulan dia ada perlu sedikit makanya dia misah sebentar. Dan selama berdua ama dia, kita ngobrol. And he seemed to be so nice to me. Tentunya gue juga ga ngobrol yang berat2 ama dia. Karna jujur, gue anggap dia bukan temen gue juga. Ya, temen secara status ajalah. Dulunya satu sekolah. That’s it. Dan lagi, buat gue dia agak, ya.. tidak terlalu smart-lah (hihi..). Tapi gue menghargai dia dong. Dan akhirnya saat itu gue berpikiran kalo gue salah. Apa salahnya kalo akhirnya gue jadi akrab ama dia. Mungkin gue juga ga terbuka ngeliat dia or salah sangka selama ini.

Dan akhirnya temen kita yang tadi pergi sebentar itu dateng. Dan seperti contoh diatas deh kejadian selanjutnya! Ternyata pikiran gue tentang dia ga salah ‘kan selama ini? Anyway, temen gue yang tadi pergi itu untungnya ga rese. So, dia ga ketawa sama sekali.

Dan yang ketiga adalah tetangga gue sendiri. She’s about my age actually. Kejadiannya ya sama juga. Hanya aja, kalo yang kali ini gue inget banget kata2nya. Ada sebuah benda yang gue punya yang buat dia tuh mahal banget. Dan dia bilang, yang gue punya sama kaya bosnya. Well, she told me that her job was terrible. I felt sorry 4 her. So, gue bilang aja, “ya kita harus disiplin aja ama duit kita”. Dan dia kayanya fine dan bahkan setuju dengan omongan gue. Toh, gue juga ga langsung so’ nasehat dengan menggunakan kata ‘lo’. Tapi gue bilang ‘kita’.

Eh, pas ketemuan lagi tapi ada orang lain, dia bilang gue punya benda yang satu itu ngebela2in sampe ga makan.. (aduhh…!). Plus gaya ngomong yang mimicking, yang gue sendiri nyadar bgt kalo gaya ngomong gue ga mungkin kaya gitu. Dan ya, seperti yg lain diatas, dia berubah total dari pas ngobrol berdua ama gue dgn pas kalo ada orang lain. Semua omongan gue dan apa yang gue lakuin tiba2 berubah, or tepatnya, dia ubah jadi kaya kelakuan yang sangat tolol dan konyol! Dan yang ada saat itu gue mikir, owh.., since when you became this bitch? Or is this the real you?

Hmm, gitulah kira2. Ini adalah contoh dari sekian banyak kelakuan2 nyebelin orang yg sering kita temuin dihidup kita. Entah apa yg memicu orang jadi punya sikap kaya gini. Karna merasa ga nyaman gitu? Kaya yg gue sebut diatas? Oh, please!

Gue bukan seorang psikolog or pskiater or whatever sih, tapi gue pernah denger kalo ada orang yang rese, itu biasanya karna dia ngerasa ada yang kurang didirinya. Ada sesuatu yang bikin dia ngerasa ga nyaman. So, dia cari kenyamanan gimanapun caranya. Tapi dia juga ga nyadar kalo dia ga ngerasa nyaman. Yang dia pikir, dia cuma mo bersenang2, tapi caranya bikin orang lain jadi bete. Is it so?

Kalo kita emang ga bisa jadi orang yang baik buat orang lain, paling engga, ga usah jadi orang rese aja udah cukup. Dan kalo emang mau have fun, pastinya have fun yg diatas kebetean orang lain adalah hal yg ga ada bagus2nya sama sekali. Mo ngerasa nyaman, tapi bikin orang lain bete.

Dan sayangnya, banyak orang nyebelin yg ga nyadar kalo dirinya nyebelin. Banyak orang yg suka bikin orang lain bete, tapi ga nyadar kalo dirinya begitu. Atau nyadar tapi ga peduli. Hmm, lebih parah lagi!

Dan kalo orang yang kaya gini ada dihidup kita, bagusnya kita apain ya? Temen gue bilang, bagusnya kita sate rame2.. hehehe..

Dan eh, temen gue yang gue ceritain ini juga jadi kaya gitu juga… hahaha.. engga kok!

Monday, January 14, 2008

When a Sidekick Becomes a Hero

Dalam hidup kita, kita kenal sama orang-orang yang sebenernya kita rendahin. Yup, kita rendahin! Kita merasa lebih tinggi daripada dia. Ini bukan rendah dalam arti kata posisi pekerjaan dikantor, kelas disekolah atau yang semacam itu. Tapi lebih ke ngerendahin kalo mereka itu ga sebanding ama kita atau kita ngerasa lebih tinggi dari mereka. Walau kita juga sebenernya juga ga terlalu parah dengan merasa paling tinggi, karena kita juga merasa ada orang diatas kita. Hanya orang yang direndahin oleh kita disini adalah orang-orang yang kita anggap bukan sebagai orang-orang yang diatas kita atau bahkan ga sebanding ama kita. Buat kita, mereka adalah orang-orang yang sebenernya ga memiliki apa-apa yang patut kita ‘pandang’. Orang-orang yang mungkin bisa dianggap sebagai second position, the next best thing, atau the underdog. Pendeknya, orang-orang yang ga terlalu penting. Hmm, ada kan yang kita anggap begitu?

Kita sebenernya emang baik sama mereka. Kita juga tetep menghargai mereka. Bahkan, kita juga tetep mau temenan ama mereka. Tapi jauh didalam diri kita, secara jujur, tetep aja mereka adalah orang-orang yang tetap kita posisikan dibawah kita.

Atau ada juga sebagai contoh misalnya kita mau temenan tapi sebenernya dengan pemikiran kalo dengan temenan sama orang kaya gini, maka bakalan aman. Aman dalam pengertian, bahwa sitemen kita itu ga lebih bagus dari kita (yang merasa diri kita ini ga bagus, ga oke, biasa-biasa aja). Ya, yang ini namanya sok merasa senasib. Udah ga pede, ngerendahin orang pula.

Dan karena kita posisikan seperti itu, kita selalu berpikir bahwa mereka dalam hidupnya ga bakalan lebih depan dari kita. Atau menjangkau apa yg kita punya. Ini bukan dalam arti prestasi dan mungkin kekayaan saja, tapi semua hal. Bisa dalam pengertian dikehidupan cinta-cintaannya, pergaulannya, dan sebagainya.

Karena kita selalu mikir kaya gini. Maka bila suatu hari orang-orang yg selama ini kita anggap lebih rendah dari kita itu melesat jauh diatas kita, kita pasti bakalan kaget. Dan reaksi semacam itu lainnya. Dan ada yang lebih parah dari itu adalah ga terima.

Misalnya orang yang kita pikir ga bakalan dapet karier yang lebih tinggi dari kita. Eh ga taunya kariernya mantab! Atau bisa juga, yang kita pikir adalah orang yang ga bakal dapetin pacar lebih dulu dari kita. Ga taunya, udah lima kali pacaran. Sementara, kita satu aja belum. Itu pun begitu kita dapet adalah mantan atau orang yang pernah ditolak dari orang yang kita rendahin itu misalnya. Dan ternyata juga, orang yg selama ini kita rendahin itu punya temen dari berbagai macam kalangan, dan dari berbagai macam negara. Wah, pokoknya hal-hal yg diluar dari prasangka kita selama ini. Prasangka yang merupakan buah dari pikiran kita yg selama ini selalu ngerendahin dia.

Kita akhirnya bukan hanya kaget, tapi bisa jadi ngiri! Ga terima dengan keadaannya yang lebih dari kita. Orang yang selama ini kita anggap dibawah kita, ga taunya punya hal-hal bagus, yang lebih bagus bukan hanya dari perkiraan kita, tapi bener-bener lebih bagus dari yang kita punya.

Hmm, satu hal yang pasti yang harus kita lakukan adalah berhentilah berpikiran seperti ini. Berhentilah berpikiran kalo orang-orang itu ga bakalan lebih dari kita. Berhentilah berpikiran kalo kita ‘tak terkalahkan’, terutama oleh mereka yang selama ini kita pikir sebagai orang yang selalu dibawah kita. Karena ini bukan hanya bikin kita jadi merasa kalah, tapi kita jadi orang yang pusing sendiri dan parahnya jadi orang yang iri. Dan mungkin ada yang bahkan stress gara-gara ini.

Kan seperti ungkapan klise dan kuno, ‘roda kehidupan berputar’. Bahwa hidup manusia itu ga selamanya dibawah. Dan parahnya kadang kita pikir kehidupan orang itu dibawah, tapi dibawah yang dimaksud adalah dibawah kita. Sebenernya, kita ga hanya menjadi orang yang sombong saat mikir kaya gini, tapi kita juga adalah orang-orang menyedihkan.

Pentingnya, ga ada yang lebih dibawah kita dalam pengertian seperti ini lagi. Nasib bagus bisa nyampe kesiapa aja kan? Dan kalo emang kita lantas merasa kalah, toh yang ada adalah hanya rasa kalah yang ingin menjadi lebih baik dari kita yang sebelumnya. Bukan rasa kalah yang ‘merasa dikalahkan ama si underdog’.

Sebaiknya, buanglah jauh-jauh pikiran kalah-menang. This is not a game. Jadilah orang-orang yang ga pernah menjadikan orang lain diposisi underdog, the next best thing, atau second position. Berhentilah berpikiran kalo ada orang-orang yang ga bakalan lebih dari kita. Semua orang itu penting. Termasuk kita, walau mungkin pernah ‘kalah’ oleh siapapun termasuk orang-orang yang kita anggap selama ini dibawah kita.

Monday, December 31, 2007

Three-Some

Hampir semua orang pasti pernah nonton bokep. Ngakuuu???!! Huahahaha…

Okelah, mungkin emang ada yang ga pernah nonton bokep. Nah, baik yg udah pernah maupun yg (ngakunya) belom, di bokep-bokep itu biasanya ada satu, katakanlah, scene dimana para bintang-bintang nan hot itu berasik-masyuk tapi ga seperti layaknya orang yang lagi ‘begituan’ pada umumnya. Maksudnya, ga berdua. Tapi bertiga. Hmm.., yang udah pernah nonton, pasti tau kan? Hihihi.. ini yang namanya three-some. Ga tau deh kenapa dinamain three-some. Pokonya mereka gituan yang bertiga gitu!

Kadang-kadang ada yang cowonya dua, cewenya satu. Atau sebaliknya. Dan seringnya sih, kalo cewenya dua tuh, dua cewe itu juga saling ‘gituan’. Ya ala mereka lah. Jadi sang cowo ‘begituan’ ama sang cewe A, ‘begituan’ juga ama si cewe B, sementara cewe A dan B juga saling ‘begituan’. Seperti segitiga aja. Entah itu sama sisi, sama kaki, sama tangan, sama apa kek, pokonya gitu deh.

Entah ini yang menginspirasi ke dalam kehidupan nyata atau kehidupan nyata yang menginspirasi adanya 'gaya bercinta' yang kaya gitu, ga ngerti juga. Tapi yang jelas, dalam pertemanan ada yg jadinya begini. Wait! Ini bukan pembahasan soal cinta segitiga dan semacamnya, atau hubungan cinta segitiga yang berujung three-some. No! Bukan itu yang mau dibahas disini.

Seperti yang ditulis diatas tadi, pertemanan. Temenan. Temenan akrab yang jumlahnya tiga orang, tapi dua diantaranya saling ‘menyerang’. Menyerang dalam arti kata disini bukannya menyerang secara frontal, atau gimana-gimana, tapi menyerang dalam arti kata saling bete. Atau kalo misalnya di adegan bokep yg main three-some itu mereka saling mesra, yang ini justru sebaliknya. Saling ga suka. Saling bete.

Oke, mari kita jauhin pikiran kita dari adegan bokep dulu. (U know it exactly!). Jadi gini, ada tiga orang yang berteman. Katakanlah, bersahabat lebih tepatnya. Kemana-mana bertiga. Selalu bertiga. Atau bahkan ada yang bikin band misalnya. Nah, akrab banget kan? Kalo lagi ngumpul bertiga nih, wah semuanya asik banget. Bercanda-canda. Saling ngelempar joke, dan sebagainya. Everything seems to be fine. Si A asik aja ama si B, si B seru banget ama si C, si C selalu bikin si A dan B ketawa-tawa. Begitu juga sebaliknya. So, satu sama lain bener-bener asik. Tapi kalo cuma lagi ada si A dan si B, si A ngomongin si C. Dan si A curhat abis tentang kelakuan si C yang sebenernya bikin dia bete or hal-hal yang mengganjal buat si A. Begitu juga si C kalo lagi berdua dengan si B. Dia juga curhat abis tentang si A. Tentunya ya, kekeselan si C kepada si A. Kaya rumus matematika atau fisika atau kimia yang njlimet itu ya!? Si A + B + C *$#%^^$$#@$%^@#@#^#@)^$%$@XXXXX pusiiiinggg!!

Oke gini aja, ada katakanlah si A namanya Andri, si B namanya Beni, dan si C namanya Cahya. Kalo lagi bertiga mereka asik, tapi kalo salah satu dari mereka lagi ga ada alias cuma ngumpul hanya dengan si penengah alias Beni, Andri dan Cahya curhat tentang hal yang dirasa ga ngenakin dari kelakuan antara Andri tentang Cahya atau Cahya tentang Andri. Dan kalo tadinya si Beni hanya jadi penengah, akhirnya antara Andri dan Cahya saling curhat tentang kelakuan Beni. Tapi ga ada satupun dari mereka yang saling ngomong langsung ke orangnya tentang apa yang mereka rasa mengganjal selama ini satu sama lain. Dan lagi-lagi, mereka hanya bisa curhat satu sama lain kalo lagi ga ada yang jadi bahan curhatannya disitu. Ini terus menerus terjadi, dan kalo lagi ngumpul, mereka bertingkah seolah emang semuanya baik-baik aja.

Ini sebenernya menyedihkan. Dimana setiap dari mereka lantas mengubur baik-baik perasaan kesel mereka satu sama lain, dan terpaksa berakting dengan cengengesan-cengengesan yang payah itu. Tapi setiap abis ketemuan, yang ada mereka cuma bisa gondok dalam hati. Buat mereka mungkin yang penting ini semua berjalan aja tanpa ada ribut-ribut, gap, or whatever.

Ini bisa jadi parah kalo terus-terusan didiemin. Dari yang cuma kekeselan kecil, lama-lama bisa membesar. Ini kaya ngebiarin ada penyakit yang sebenernya bisa jadi parah kalo ga diobatin. Atau mungkin kaya bola salju yang menggelinding. Makin lama makin gede. Mungkin kesalahannya emang ga gede-gede banget. Tapi kalo yang kecil-kecil tapi keseringan, lama-lama meledak juga. Pukulan yang kecil satu kali rasanya bisa sakit banget kalo udah ada berpuluh-puluh pukulan kecil sebelumnya.

Adalah lebih baik kalo emang satu sama lain nyempetin diri untuk ngomong dan nyampein apa yang dirasain selama ini. Menunjukkan kalo kita bete ama orang itu jauh lebih baik daripada ngumpet-ngumpet dan ngomong dibelakang. Atau lebih bijaksana jika kita memusuhi orang terang-terangan daripada pura-pura cengengesan tapi dibelakang ngutuk-ngutuk ga jelas. Ini juga berlaku bukan buat mereka yang sahabatan bertiga ini aja, tapi bisa siapa aja. Semua orang. Yang selalu baik didepan, tapi musuhin dibelakang.

Bayangin, kalo misalnya dari hal kecil jadi besar dan makin lama bukan cuma kesel tapi benci, tapi tetep baik yang akhirnya malah jadi pura-pura baik dan buntutnya jadi musuh dalam selimut! Hiiiyy..

So, bilang aja kalo ada yang bikin bete, kesel dan sebagainya. Selalu bikin orang lain tau kalo kita ngerasa ga sreg ama apa yang dia lakuin, dan ga boleh beraninya ngomong dibelakang! Ngomonglah langsung ama orangnya. Sampein kekeselan itu. Asal kita tau caranya dan ga bikin masalahnya jadi tambah parah. Bilang baik-baik. Dan tanpa ada kesan permusuhan sedikitpun. Jangan sampe hanya kesan yang keterima, tapi pesannya ga nyampe. Yang ada malah makin parah, dan pesan yang dimaksud ga nyampe sama sekali. Biarkan orang itu tau apa yang ada, dan jangan mengharapkan pengertian secara natural dari dia. Atau kita ga usah mikir, tanpa dikasih tau harusnya dia udah ngerti. Karena takutnya malah tambah bikin bete kalo emang dia ternyata ga ngerti. Mudah-mudahan dengan cara kaya gini, semua jadi kembali baik.

Hmm, cara kaya gini tentunya ga njlimet kaya rumus matematika, fisika, or kimia kan? Dan mungkin hihihi.., ini sama mudahnya kaya muter VCD or DVD bokep yang isinya orang lagi pada three-some.. hihihi.. ah.., oh.., yess..

Ini bukan mengkampanyekan nonton bokep or melakukan three-some tentunya! Ingat itu baik-baik!

Monday, December 17, 2007

Everybody’s Nice to Me, U Know It!

Saya adalah seorang pengobrol, yang bolehlah disebut sebagai pengobrol yang kuat. Dalam pengertian, saya bisa saja ngobrol sampai berjam-jam. Apalagi jika saya menemukan teman ngobrol yang tepat menurut saya. Segala macam obrolan bisa kami lahap habis. Dan seringkali obrolan kami itu menghabiskan waktu kami.

Saya suka membicarakan apa saja. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai mungkin hal-hal yang ‘dalam’. Dan tentu saja saya dan teman mengobrol saya paling sering saling mengutarakan isi hati. Segala uneg-uneg yang ada. Curhat.

Mulai dari curhat kejadian sehari-hari, sampai curhat tentang sesuatu yang mungkin bisa dibilang rahasia. Ini tidak hanya berlaku buat mereka yang menjadi teman dekat saya saja tentunya. Sering juga saya mendengarkan curhatan mereka yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan saya.

Dan dari semua curhatan-curhatan itu salah satunya adalah saya sering mendengarkan mereka curhat tentang betapa baiknya orang-orang disekitar mereka. Tentunya ini adalah kabar yang baik. Sayapun turut senang akan hal itu.

Tapi kadang ada beberapa orang yang bercerita tentang perlakuan baik yang mereka terima dari orang lain, diperlakukan dengan hormat, dan terdengar mereka diperlakukan seolah mereka memang sangat luar biasa sekali. Bahkan lebih dari itu, ada dari mereka yang seolah-olah memiliki hak khusus untuk diperlakukan istimewa. Mulai dari teman-teman mereka, keluarga, sampai bahkan atasan mereka.

Misalnya tentang betapa baiknya atasannya kepadanya. Datang terlambat bukan hal yang sama sekali jadi masalah. Pulang lebih dulu dari jam yang sudah ditentukan? Ya boleh-boleh saja! Mengapa tidak. Dan tentunya jika keorang lain, belum tentu sang atasan berlaku begitu. Bahkan jika yang melakukan ini orang lain, maka mereka harus menerima sangsi. Tapi jika dia yang begitu, tentu saja tidak!

Atau ada juga yang bilang bahwa orang-orang disekitarnya selalu memperlakukannya dengan baik dan hormat, sampai-sampai hal-hal yang terkecilpun selalu ia disertakan. Atau dengan kata lain, jika tidak ada dia, maka the show will not go on. Beberapa kali pula saya kenal dengan seseorang yang seperti ini yang bilang jika saya menyebut namanya saja, maka nantinya dijamin semua orang akan memberikan apa yang saya perlukan. Cukup dengan menyebutkan namanya saja. Hmm, seolah seperti kata-kata ajaib yang dipakai untuk membuka pintu goa yang berisi harta karun yang melimpah.

Contoh lainnya juga misalnya seseorang yang bukan siapa-siapa akhirnya kenal seseorang yang memiliki kedudukan. Atau bisa juga seorang selebriti. Sang selebriti dan orang yang punya kedudukan ini akhirnya baik padanya. Lantas ia bilang kesemua orang bahwa sang selebiriti dan orang yang punya kedudukan itu, itu dekat sekali dengannya. Dan saat ia mengatakan itu, kedua jari telunjuknya ia pautkan seolah menyerupai anak rantai yang terpaut satu sama lain. Ia juga mengatakan suatu hari nanti mereka akan memberikan jaminan kenyamanan dan kemudahan dalam hidupnya kelak. Entah itu mendapat pekerjaan baru yang lebih baik dari yang sekarang dia punya, atau keyamanan-kenyamanan dan kemudahan-kemudahan lainnya. Lalu diujung pembicaraan ia mengatakan bahwa hanya dirinyalah yang bisa diperlakukan seperti itu dibandingkan yang lainnya.

Dan contoh lain bisa juga adalah tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan disuatu tempat. Ia selalu mendapatkan hak istimewa dari teman-temannya. Dalam arti kata, selalu mendapat perlakuan yang enak-enak. Dijajanin ini lah, itu lah. Diberi tempat duduk yang lebih nyaman dari yang lain lah. Gratis tinggal beberapa hari dihotel ini lah. Dan semua itu, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun! Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Hal seperti itu sih memang mungkin sudah menjadi rejeki mereka kenapa sampai ia diperlakukan seperti itu. Tapi sayangnya, sepertinya terdengar berlebihan saat diceritakan. Karena ujung-ujungnya selalu ada atau seolah-olah ada kata-kata, ‘kalau orang lain, belum tentu diperlakukan seperti itu’. Ya, baik yang terucap maupun yang hanya tersirat saja.

The point is, mereka hanya ingin mengatakan, “…tidak ada orang lain yang diperlakukan sebaik aku! Aku ini beda! Aku luar biasa! Aku ini mempunyai keistimewaan yang bisa membuat orang jadi berlaku baik terhadapku! Aku memiliki kemampuan yang membuat orang lain menjadi begitu menghargaiku!”

Hey, kita memang harus selalu bersyukur atas apapun yang kita miliki, yang kita dapati, meski itu adalah hal yang sangat kecil sekalipun. Dan tentu saja diperlakukan baik oleh orang lain adalah hal yang sangat tepat untuk kita syukuri. Dan kalaupun memang perlakuan-perlakuan istimewa itu benar adanya, agaknya kita jangan sampai lupa, kalau hal itu bukan menjadikan kita menjadi lebih dari orang lain.

Rasa bangga akan hal itu? Mengapa tidak? Kita boleh berbangga hati memiliki apapun yang menurut kita pantas untuk kita banggakan. Itu hak kita kok. Tetapi jika hal yang sangat baik ini berubah menjadi sebuah kebanggaan yang hanya berbuntut sebuah kesombongan, lebih baik kita menyadari sudah sampai dimanakah kebanggaan itu kita bawa. Atau justru bahkan bukan membanggakannya, tapi karena benar-benar ingin menyombongkannya semata? Oh, no!

But hey, I’m not talking about proud ness rite now. I don’t even want to talk about it. Sayapun juga tidak lantas menilai bahwa cerita-cerita atau curhat-curhat seperti ini bohong dan hanya sombong semata tentunya.

Adalah lebih baik kita menyadari bahwa kebaikan orang kepada kita bukanlah untuk disombongkan apalagi seolah kita memiliki hak istimewa segala. Oooohhh… no,no,no..!

“Everybody’s nice to me, u know it!”
Bagaimana jika dirubah jadi, “Everybody’s nice to me. Thanks God.”
Hmm..,

Wednesday, December 5, 2007

Nun Jauh Disana...

Bintang kecil dilangit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa
Aku ingin terbang dan melayang
Jauh tinggi ketempat kau berada

Waktu kecil hampir semua dari kita pasti pernah diajarin nyanyi. Salah satu lagu yang sering diajarin kekita waktu kecil ya, lagu Bintang Kecil ini. Lagu ini adalah lagu tentang keindahan akan bintang yang keliatan kecil karena letaknya jauh dari kita. Karna kecil, bintang-bintang yang banyak itu jadi keliatan bagus banget. Kelap-kelip, bertaburan, dan ya, menghias angkasa. Membuat langit tampak lebih indah.

Hmm, selain bintang ada lagi benda angkasa yang juga kelihatan indah. Yaitu, bulan. Apalagi kalo lagi purnama. Bentuknya bulat bersinar. Wah, indah banget.

Keindahan lainnya yang bisa kita nikmati adalah pemandangan alam. Dari jauh pemandangan alam itu nampak bagaikan lukisan yang dari setiap detailnya terlihat begitu sempurna. Ada pemandangan air terjun, pegunungan, kebun teh, laut, dan sebagainya.

Keindahan dari pemandangan-pemandangan ini juga akhirnya memberi inspirasi buat para pelukis untuk mengabadikannya dalam karya-karya mereka, dalam banyak aliran-aliran dalam seni lukis. Dan jadilah lukisan dengan pemandangan yang menjadi objeknya. Lukisan yang indah. Tentunya lukisan juga ga hanya menjadikan pemandangan sebagai objeknya. Tapi bisa yang lainnya. Lukisan foto, dan lain-lain.

Semuanya hal-hal diatas ada kesamaannya. Yaitu, lebih indah kalo diliat dari jarak jauh. Semua seperti menyatu dalam sebuah kesempurnaan yang emang harmonis banget. Cocok satu sama lain. Pokonya pas aja dimata kita.

Mungkin kalo bintang bener-bener kita deketin, keindahannya ga bakalan sama dengan kalo kita liat dari jauh. Ga bakal bekilau seberkilau kalo dari jauh. Malahan mata bisa silau kalo kedeketan. Atau mungkin malah bahaya. Kaya matahari yang emang sebenernya juga bintang itu. Yang ada, kebakar aja gitu! Pastinya, kalo bintang kita liat dari jarak yang bener-bener deket alias kita datengin, tentunya bintangnya ga bakal keliatan bertaburan seperti kalo kita liat dari bumi. Dan begitu juga bulan. Seperti yang kita tau, bulan itu kalo nampak deket malah bopeng-bopeng.

Atau pemandangan, yang ga bakalan seindah yang kita liat dari jauh kalo kita berada ditengah-tengah pemandangan itu sendiri, yang tadinya kita liat dari jauh. Pegunungan yang dari jauh keliatan kaya lukisan, begitu kita ada disitu, yang kita liat adalah pepohonan yang tingginya jauh diatas tinggi kita. Dan mungkin jalan setapak yang becek, dan meletihkan untuk ditempuh. Lautan yang begitu indah, tapi bayangin jika kita ada ditengah-tengahnya? Hmm..

Begitu juga lukisan. Tentunya kalo lukisan emang ga hanya lukisan pemandangan alam aja. Tapi bisa juga lukisan foto seseorang, dan apapun yang bisa dilukis dengan berbagai alirannya. Seperti yang dibilang tadi. Dan semua lukisan baik apapun yang dilukis dan apapun alirannya, bakalan enak untuk diliat dan kita nikmatin dengan ngeliatnya dari jarak tertentu, yang pastinya itu ga deket. Coba deh deketin sebuah lukisan. Liat lukisan itu dari jarak yg dekeeet banget. Yang ada, lukisan itu malah keliatan cuma guratan-guratan yang justru ngebingungin maksudnya apa.

Well, dalam dunia ini emang banyak hal yang justru jauh lebih indah kalo kita ngeliatnya dari jauh. Mungkin ada yang emang indah kalo liat dari deket, tapi jauh lebih indah kalo liatnya dari jauh. Atau justru lebih indah kalo emang letaknya ada nun jauh disana.

Hal ini juga sama dengan hidup kita yang sebenernya tanpa kita sadari justru kita kadang jadi jauh lebih ngerasa nyaman ama hal-hal yang indah tapi yang ga kita punyai. Yang kita hanya bisa liat dari jauh, kita bisa kagumi dari jauh, kita rasa nyaman kalo kita ga berada deket.

Dina suka banget seorang cowo yang satu kampus dengannya. Dia terkagum-kagum ama sang cowo sampe kebayang terus wajahnya dimanapun Dina berada. Secara fisik, cowo ini bikin Dina ga bisa untuk berhenti curi-curi pandang tiap kali mereka ketemu. Apalagi Dina akhirnya tau ada hal-hal lain yang cowo ini miliki. Punya banyak teman, pintar, dan sebagainya.

Sampe ada suatu kesempatan, dimana mereka berdua jadi saling kenal. Dan ternyata, sang cowo selama ini juga suka sama Dina. Akhirnya, setelah proses ini-itu layaknya orang yang pedekate, mereka jadian. Setelah jadian, ketauan deh aslinya sang cowo yg ternyata bukan hanya ga sebagus yang dia kira, tapi emang ancur banget! Segala sesuatu yang akhirnya Dina tau lebih dalam lagi karena kini Dina udah lebih mengenalnya. Walhasil, hubungan selesai sampe disitu. Kekaguman? Lenyap begitu aja.

Buat Lisa, seleb yang berinisial B adalah seleb yang paling pantes jadi idolanya. Dia punya kelebihan yg dimata Lisa lebih dari seleb-seleb lainnya. Pokonya, Lisa ngefans banget ama seleb yang satu ini. Akhirnya, setelah udah bertahun-tahun dia ngefans doang dan cuma bisa ngeliat dari tv, majalah dan media-media lainnya, Lisa berkesempatan ketemu ama sang idola. Tapi pas udah ketemu gitu, sang idola ngecewain banget. Lisa lantas diperlakukan yang ga pantes. Pastinya, ini bikin Lisa berubah. Dari terkagum-kagum jadi eneg! Lisa jadi mikir, mendingan dia ga usah ketemu kalo gini ceritanya. Lisa mikir, ‘kayanya kok dia emang lebih mengagumkan kalo gue cuma tau dari media ya, yang kaya selama ini gue tau aja’.

Dani punya temen yang kenal dari dunia virtual. Awalnya dia kenal sama seseorang yg bernama Gwen itu dari sebuah website. Akhirnya mereka jadi saling kirim message dan lama-lama jadi suka chatting. Pada suatu kesempatan, mereka akhirnya ketemu. Dan ternyata persahabatan yang begitu asiknya selama ini yang terjadi diantara mereka didunia maya itu ga terjadi didunia nyata. Pas udah ketemu, ternyata satu sama lain ngerasa ga cocok. Yang satu ngerasa yang satunya ilfeel ama yang lain, yang lain ngerasa sitemen dunia maya-nya itu ga se-asik waktu chatting.

Kakak beradik Reno dan Aldi dari kecil emang udah sering banget ribut. Dari anak-anak. Orangtuanya aja sampe bingung kenapa dua anak ini ga ada akur-akurnya. Sampe pada saat liburan sekolah, mereka liburan tapi ga barengan alias misah. Nah, saat itulah mereka malah saling kangen. Emaknya jadi makin bingung. Kalo jauh aja kangenan, kalo deket kaya anjing ama kucing. Hal ini berlanjut sampe mereka dewasa dan berumah tangga. Rumah keluarga Reno bersebelahan ama keluarga Aldi. Ketebaklah kejadiannya. Mo udah dewasa kek, mo masih anak-anak kek, tetep aja rame. Rame karena keributan. Adaaa aja yg jadi bahan berantem. Ini entah dua-duanya ga dewasa, atau emang apa. Pastinya kalo emang mereka ga ribut, anak-anak mereka lah yang kelakuannya persis mereka waktu kecil dulu. Berantem ga jarang-jarang. Karena kejadiannya gini-gini mulu, ya udah salah satu dari mereka akhirnya pindah. Bukan hanya ribut-ribut yang akhirnya jadi lenyap, tapi mereka jadi super akur kalo ketemu. Damai bgt. Pokonya semuanya beres. Kalo deket bau busuk, kalo jauh baunya wangi. Kayanya pepatah orangtua jaman dulu yg nyeleneh ini kepake banget nih!

See, there are a lot of things that actually better if they’re far away. Ada hal yang justru lebih baik kalo emang jauh. Yang hanya kita liat aja, hanya kita kagumi tanpa memiliki, hanya kita bisa bilang yang terbaik kala kita ga terlalu tau atau ga terlalu deket. Ga tergapai kita, ga termiliki ama kita, ga tergenggam ama kita.

So, kalo ada hal-hal atau mungkin orang-orang yang emang jauh dari kita, ya.. biarin aja lah jauh, karena mungkin itu yang terbaik.

Atau kalo kita misalnya punya keinginan, dan keinginan itu ga kesampean walau udah diusahain sedemikian rupa, ya udah. Biarin aja. Toh mungkin itu adalah hal yang terbaik dengan engga mencapainya. Tapi hanya dengan mengaguminya aja. Bukannya ini berarti kita lantas jadi orang yang menyerah tentunya. Hanya aja, sekali lagi, ada hal-hal yang emang lebih baik tidak memilikinya. Hmm, ga meraihnya, ga memiliki, ga deket, ga akrab, ga ketemu.

Well, ga usah kita terbang dan melayang untuk berada bersama bintang disana kan? Biarlah itu menjadi sebuah lirik lagu yang akan selalu indah jika kita menyanyikannya sambil mengingat masa kecil kita yang bikin kita suka tersenyum dan mungkin malu sendiri karena terkenang, atau saat orang-orang tua kita menceritakannya kepada kita. Masa yang sudah berada jauh sekali dari sekarang.

Nun jauh diujung sana, ada sebuah keindahan yang akan selalu indah, jika kita melihatnya dari sini…

Monday, November 19, 2007

Gila Hormat, Hormat Gila,... Gila Lo!

Dalam hidup kita pasti ada orang2 yang posisinya lebih tinggi dari kita. Kalo disekolah ada guru dan kakak kelas, dikampus ada dosen, dikantor ada atasan atau juga rekan kerja yg posisinya diatas kita walau hanya untuk urutan struktural kerja.

Kita pasti hormat ama mereka. Ga usah disuruh, ga usah diatur, pasti dengan sendirinya hormat. Toh emang pada umumnya, kebanyakan lebih tua juga.

Tapi pastinya diantara orang2 yg posisinya lebih tinggi itu ada juga yang kayanya bikin kita serba salah. Begini salah, begitu salah, semuanya jadi serba salah. Kita jadi parno. Dan hal terjadi karena kita mikir, apa kita bakalan kena hukuman, sanksi, atau mungkin SP (Surat Peringatan) bagi yang udah kerja. Or digebugin rame-rame ama gank kakak kelas. Dan itu semua hanya karena satu hal, dianggap tidak menghormati! Padahal mungkin sebagai yang posisinya ‘dibawah’ mereka, kalopun salah, salah yang kita punya yang sebenernya masih bisa ditolerir or masih masuk akal. Tapi tetep aja, salahnya kesannya salaaaahhh banget. Dan ya itu tadi, kesannya langsung nganggepnya ga menghormati.

Hmm, apa yang terjadi ama orang-orang kaya gini? Kenapa ada guru or dosen yang dikit-dikit marah, kadang-kadang ada juga yg sok galak banget? Kalo dikantor, ada juga yg atasan yg ribet. ‘Harus-harus’nya tuh ampe ga masuk akal. Dikit-dikit meeting untuk masalah peraturan kerjaanlah, dikit-dikit ngasih SP lah, apalah. Atau yang misalnya laporan yang kita kirim ke divisi lain, yg secara struktural kerja diatas kita, tulisannya salah sedikit atau ga jelas lantas dikembaliin kedivisi kita, padahal untuk minta tanda tangan atasan aja susahnya bukan main. Atau kakak kelas yg sok senior, sok paling jago. Dan kalo kita salah dikit, langsung deh kita ‘dihukum’.

Dipanggil orang tuanya, disuruh menghadap keruangannya, dikeroyok rame-rame, dikasih SP, dan sebagainya tergantung dimananya. Dan ujung-ujungnya mereka beranggapan itu semua karena kita ga menghormati?
Mereka, orang2 yg posisinya lebih tinggi itu ga nyadar, ga usah gitu2 amat kita juga menghargai kok! Kita juga menghormati kok! Kenapa kayanya jadi menghormati dan menghargai mereka lantas seolah2 settingannya harus kaya jaman kerajaan2 gitu? Ribet bgt!!

Yang ada sebenernya kita harusnya kesian ama mereka. Para guru-guru or dosen yg kayanya haus disopanin, atau atasan yg kayanya mengais-ngais untuk dihormatin. Atau divisi lain dikantor yg sok galak. Atau kakak kelas yg ga penting itu. Mereka yg kaya gini tuh ga pede banget. Dan pengennya dihormati berlebihan. Justru yang kaya gini ga ada wibawanya. Yg ada kita cuma nurut-nurut palsu.
Gila hormat! Makan tuh hormat!

Tuesday, November 6, 2007

Talk to the Hand!


Ngobrol adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Dengan ngobrol kita jadi bisa saling bertukar pikiran, berbagi cerita, saling tukar informasi, atau mungkin bergosip. Semua orang pastinya suka ngobrol, entah itu yang talkative atau yg emang ga terlalu banyak bicara sekalipun.
Ngobrol bisa aja dilakukan oleh dua orang, tiga orang, atau lebih. Bisa dengan teman, orang tua, atau siapa saja. Dan saat kita udah nemuin temen ngobrol yang enak, kita bisa ngobrol berjam-jam sampe lupa waktu. Dan yang paling enak kalo ngobrol itu sambil duduk-duduk, ngopi-ngopi, dsb. Hmm.. saling bicara, saling ngedengerin, berinteraksi.

Sayangnya ada orang-orang yang kalo ngobrol tuh ga ngenakin. Tipe ‘Talker’ tapi bukan seorang ‘Listener’. Dan yang selalu diomongin tuh, Me, me, me.. Always about me!’ Semua obrolan yang emang ga jauh-jauh dari seputar dia dan hidupnya. Bisa tentang orang-orang yg bikin dia bete, atau yg bikin dia hepi. Obrolan tentang pacarnya, nyokapnya, bokapnya, bosnya, temen kerjanya, anaknya, keponakannya, rencana-rencananya, apa yang dia tau, binatang peliharaannya, genteng rumahnya, pohon jambunya, sampah dirumahnya, dan semuanya, dan semuanya! Pokonya semua tentang dia!

Well, sebenernya oke aja kalo ada temen bicara yang maunya ngomong tentang dirinyaaa terus kaya gitu. Tapi ya seperti diatas itu tadi, dia ini talker yang bukan juga seorang listener. Jadi ya, ngomooooooonggg aja! Ga mau gantian. Yang betenya, tentang dia mulu lagi! Bla…bla…bla…

Ada juga yang kesannya minta nasehat si lawan bicara, eh begitu si lawan bicaranya ngomong, langsung dipotong! Atau misalnya emang ga minta nasehat, tapi giliran lawan bicaranya mau cerita juga, malah dipotong dan dilanjutkan lagi dengan omongannya atau ceritanya. Pastinya, giliran gantian orang yg diajak ngomongnya itu cerita juga, malah ga didengerin samasekali! Cuma sekedar angin lalu yang ga jelas maksudnya apa. Pokonya tiap si lawan bicaranya ngomong, dia langsung potong ceritanya dan kembali nyeritain yang dia mau ceritain. Yang kaya gitu sebagai lawan bicara yang bertukar pikiran? Apalagi disebut berbagi cerita? Ga mungkin bgt!

Orang-orang kaya gini sebenernya nyadar ga ya kalo mereka bukan teman bicara yang menyenangkan? Bahkan teman bicara yang bisa dibilang rese! Emangnya dia siapa sampe bisa mikir kalo omongannya itu sebegitu pentingnya untuk diceritain? Dan bisa lantas menjadikan orang lain sebagai penumpahan segala uneg-unegnya lewat omongan tanpa mikirin kalo yang ‘ditumpahin’ itu mau apa engga? Tanpa mikirin kalo yang ngedengerin itu juga mau atau perlu didenger? Dan lagi, ini juga ga bisa disebut sebagai ngobrol tentunya! Ngobrol itu adalah saling bicara satu sama lain, bukannya yang satu ngomoooooong aja, sementara yang satu cuma jadi kambing conge yang akhir cuma bisa ngeluarin kata-kata, ‘oh iya ya? he’eh, oohh.., wah..’ dan senyum-senyum kepaksa, serta ekspresi yang dibikin-bikin karena ngerasa ga enak, dan ngangguk-ngangguk kaya ayam lagi celeng (eh, itu mah geleng-geleng ya?), yang sebenernya juga dilakuin ama mereka yang ngomong melulu itu pada saat yang ngedengerin gantian ngomong, tapi tentunya bukan karena ngerasa ga enak. Tapi biar omongannya cepet-cepet kelar, biar dia bisa ngelanjutin omongannya lagi (Ini ga lebih baik daripada motong omongan!).

Kalo emang mau dianggep omongannya atau bahkan cerita hidupnya itu dianggap penting, jadilah juga seorang pendengar yg baik. Semua itu sebenernya ada timbal baliknya. Dan mereka juga harusnya nyadar bahwa, lagi-lagi, orang itu sejajar. Ga ada hal yang lantas nentuin kalo misalnya cerita dia lebih layak didengerin sementara cerita lawan bicaranya ga ada penting-pentingnya sama sekali.

So, mau cerita panjang lebar tentang diri sendiri sampe mulut berbusa, sampe rambut yang keriting jadi lurus ampe balik lagi jadi keriting, ya boleh-boleh aja, asal gantian! Gantiannya juga yang beneran! Be a talker and also be a listener! And be the good one! Daripada akhirnya disodorin tangan en paling parah.., ember?! Hehe… pilih mana?


picture by. TJ

Saturday, October 20, 2007

Why Are They Wearing That?! Oh, Gimme a Break!!


Seorang pembokat rambutnya di rebonding, ber-make up kalo mo jalan.
Seorang office girl diperusahaan yang bergerak dibidang transportasi udara bergaya kaya’ seorang pramugari.
Seorang penjaga toko make contact lens berwarna.
Seorang pelayan restoran rambutnya persis kaya model or pemain sinetron.

Seorang ini bergaya kaya gitu, seorang itu bergaya kaya gini.
Hmm, apa yang salah sama itu? Jawabannya adalah TIDAK ADA!
Yang salah adalah kalo ada orang yang nganggep itu semua ga pantes. Kenapa? Atau pertanyaan yang lebih tepatnya adalah, kenapa ada orang yang nganggepnya ga pantes? Kalo emang ga pantes karna dia emang ga cocok secara fisik, it’s ok. Toh emang lebih baik kita make or bergaya yang lebih cocok aja secara fisik. Jadi ga keliatan maksa. Kesian juga kan kalo keliatan maksa? Walau itu juga sebenernya boleh-boleh aja. Terserah mereka juga. Tapi yang parah kalo gara-gara pekerjaannya? Ya ampun!

Adalah hak mereka mo bergaya apapun. Ga usah usil dengan nganggep mereka yang kerjaannya ga ‘tinggi’ lantas ga pantes untuk ini itu.

Sering kan, kita ketemu orang-orang yang mulutnya usil dengan bilang kalo mereka yang seperti contoh diatas ini ‘ga banget’ hanya karna profesinya. Lantas mereka tuh jadi bahan ledekan.

“Idih, pembokat aja genit banget sih. Rambut segala di rebonding! Udah gitu kalo mo jalan, dandan dulu!”

“Ya ampun, si A tuh ga banget deh! Gayanya udah kaya pramugari. Liat aja gaya makannya. Udah gitu pake-pake syal segala lagi! Kedinginan, mba?”

“Eh, eh,.. Mba yang itu liat deh! Matanya biru! Hihi.., gaya banget ya? Cuma jagain toko aja! Mo ngapain sih…?

“Kemaren gue liat gaya rambut kaya gitu tuh dipake ama pelayan dirumah makan. Biar pelayan, yang penting gaya!”

Dan segudang kata-kata remehan lainnya. Yang kesannya mengkotak-kotakin dan kasarnya mo bilang, “orang miskin mah ga usah bergaya deh!” Sadis!

Well, pastinya itu adalah hak mereka untuk bergaya apapun. Make apapun yang mereka mo pake. Selama mereka ga ngerugiin siapa-siapa. Dan bahkan untuk yang keliatan maksa secara fisik sekalipun. It’s ok!

Satu hal, kayanya emang lebih baik mereka begitu. Karna mo sampe kapan mereka nungguin hanya untuk melakukan atau memiliki apa yang mereka mau. Hanya karna profesi, maka mereka jadi harus meredam apa yang mereka mau selama ini. Dan lagi, kalo mereka sendiri jadi ga ngelakuin apa yang mereka mau lakuin karna terbentur profesi mereka, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu sampe pekerjaan mereka berubah, tapi itu pas mereka udah lebih tua misalnya, ya lebih ga pantes lagi kan? Mo gaya ini, gaya itu, udah keburu tua. Dan yang ada mereka cuma mikir, “Masa muda gue lewat gitu aja. Gue ga ngerasain itu. Kenapa pas saat itu gue ga ngelakuin itu aja ya?”

Atau udah keburu trend-nya lewat. Jadi mereka ga pernah bergaya apapun, dan gayanya cuma gitu-gitu aja. Padahal mereka pengen banget. Hidup kok kaya terkekang gitu?

Lagian, sekali lagi, usil banget ya pake mikir kalo mereka itu ga pantes segala. Ngasih komen ga penting pula! Oh, please!!

Ya, buat mereka yang pernah diginiin, express yourself lah! Ga usah pusing ama apa yang jadi profesi lo. Ga usah pusing ama apa kata orang! Selama lo ga ngerugiin siapa-siapa termasuk lo sendiri.

Mo bergaya? Silakan!

Wednesday, October 3, 2007

I'm Talking About U! Got That?!

Ada banyak banget tipe-tipe orang. Ada yang baik, ada yang rese. Ada yang lurus-lurus aja, ada yang suka ngelucu, ada yang kreatif, ada yang sensitif, ada yang suka marah-marah, ada yang suka nyindir.


Ya, suka nyindir! Dikit-dikit nyindir, dikit-dikit nyindir. Lagi marah, nyindir. Lagi bete, nyindir. Lagi bercanda, nyindir. Lagi ngumpul-ngumpul, nyindir. Nyindiiiiirrr mulu. Ga siang, ga malem, ga dirumah, ga disekolah, ga dikampus, ga dikantor, ga ama temen, ga ama siapapun, nyindiiiiirrr aja..! Kita sebut aja dia akhirnya si tukang nyindir.

Nyindir. Kata yang benernya adalah menyindir. Berasal dari kata sindir, yang artinya melakukan suatu hal yg sifatnya menyindir (lho?!). Huehehehe..
Gini, sindiran adalah sebuah pesan terselubung, atau bisa sebagai kritikan halus, or bahkan celaan yang ingin disampein atau ditujuin ke seseorang atau pihak tertentu. Pokonya dikemas dalam bentuk ‘yang agak sedikit berbeda’, alias ga ‘tembak langsung’. Bisa karena kecewa, bisa karena iseng, bisa karena macem-macem.

Sindiran itu bisa dilakukan dimana aja, kapan aja. Misalnya saat kita lagi ngobrol. Trus obrolan diserempet-serempet dikit kesuatu masalah tertentu. Atau kadang, dengan nulis tulisan di ‘status’ atau ‘tagline’ yang ada di ID kita dlm sebuah provider ‘IM’.

Contohnya adalah si tukang nyindir yg emang bener-bener hobinya nyindir. Dia ini suka banget nyindir. Kalo kita ngapa-ngapain, entah itu yang baik apalagi yang jelek, sering banget nyindir. Entah lewat omongan, maupun lewat tulisan. Orang ga kenapa-napa ama dia, tetep aja nyindir. Nyindir-nyindir rese. Nyindir-nyindir dalam bentuk celetukan-celetukan ga penting. Tulisan-tulisan yang ga penting juga. Pokonya nyindir-nyindir yang kayanya ‘mentok’ banget. Terlalu ketauan. Ya, nyindir-nyindir yang emang dia-nya rese aja. Atau bisa dibilang ngeledeklah lebih tepatnya. Dan itu bisa dia lakukan dimanapun dan kapanpun dan bisa didepan orang banyak sekalipun. Bikin malu, bikin bete? Pastinya. Contoh kejadiannya, misalnya kita mau pergi keruangan lain. Tiba-tiba dia nyeletuk aja, “Aduh, mo ngangkat pantat berat banget nih!”

Atau mungkin biasanya hal sindir menyindir yang jenis kaya gini sering juga kejadian diantara ibu-ibu.
“Jeng, jeng, tau ga sih.. aku tuh basah kuyup deh pas naik mobilku tadi. Abis mobilku tuh lupa dipasangin AC..” Ini diucapin untuk seorang ibu-ibu yang ada dideketnya yang mobilnya emang ga berAC. En ga lupa, plus cekikikan. “Hihihi..”
“Masa sih, Jeng..? Ya..itung-itung mandi uap gratis lha jeng.. serasa sauna gimanaa gitu..,” timpal ibu-ibu yang satunya lagi.

Ada lagi : “Aduh, Jeng .. tau ga.. suaminya temenku yang didaerah Kemang itu, ga pulang-pulang lho jeng! Ini gara-gara temenku itu badannya makin ‘gedaa’, sih! Melar gitu, kaya karet dicemplungin keminyak tanah! Makanya BL dong, Jeng.. BL!” Satu lagi omongan untuk salah satu rekan si ibu-ibu itu. Tentunya dengan sedikit lirikan ke yang disindir. Sementara yang disindir itu rumahnya didaerah yang pastinya bukan didaerah Kemang.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh (dan alasan-alasan) lainnya kenapa ada sindiran-sindiran dan orang-orang yang sampe bisa dibilang sebagai ‘tukang nyindir’ karena saking seringnya.

Anyway, ada juga tipe yang suka nyindir yang nyindirnya tuh nyindir-nyindir yang karena kesel aja ama kita. Terlebih kalo kita punya masalah ama dia. Or dia marah ama kita. Kekecewaan, sakit hati, dan sebagainya yang dia sampaikan dalam bentuk sindiran-sindiran. Mungkin kalo yang satu ini bisa dibilang, peluapan atas kekeselan dan kemarahan aja. Walau bisa dibilang, ini jauh lebih baik daripada dia lantas ngamuk-ngamuk ga jelas kan?

Well, kalo kita ada diposisi yang suka disindir orang, sebaiknya kita emang mengubah sesuatu yang disindir orang untuk jadi lebih baik. Dan untuk yang pernah menyakiti hati orang untuk nyadar kalo emang kita bikin mereka sakit hati. Karena sebenarnya, itulah gunanya sebuah sindiran.

Tapi kalo emang ga ada apa-apa, dan emang orangnya kaya orang yang disebut sebagai tukang nyindir seperti diatas tadi? Well, apapun itu, mau karena kita emang bersalah atau hanya jadi bagian dari hobi menyebalkan seseorang, kita harus liat dari sisi baiknya aja. Yaitu kita sebenernya lagi bikin mereka lebih pinter dari sebelumnya. Ya kan?

Gimana engga? Kalo ada orang yg suka nyindir, trus karena seringnya dia nyindir lama-lama sindirannya kan ga gitu-gitu aja. Jadi terlatih lah, gitu! Atau, kalo emang gitu-gitu aja, ya nasib. Emang bego, bego aja! Huehehe..

Tapi ya itu tadi, kita sebenernya lagi bikin orang lain jadi lebih pinter. Lebih kreatif. Atau tepatnya, menyindir adalah salah satu pemicu orang lain untuk lebih kreatif. Entah itu ditujukan kepada siapapun. Orang lain ke kita, kita ke teman kita sendiri, mantan pacar, musuh, atasan, bahkan pemerintah.

Contohnya buat mereka yang ga pernah nulis puisi, jadi bisa nulis puisi. Yang udah dari dulu suka nulis puisi, jadi makin produktif nulis puisinya. Atau malah jadi inspirasi buat bikin lagu. Udah bikin lagu, didaftarin hak ciptanya, dinyanyiin, dapet royalti. Duit deh! Atau bisa jadi bahan untuk iklan, terus juga jadi cerita buat film.

Emang percaya atau engga, sindiran sangat bisa jadi hal yang inspiratif. Kata-kata, pesan, kritik, kekecewaan, atau bahkan celaan, diolah jadi karya yg bagus. Ya, dengan menyindir membuat kita jadi kreatif, jadi semakin menggali ide, semakin pinter, bisa juga akhirnya jadi penghasilan, dan bahkan karya besar. Bayangkan, sebuah mahakarya besar bermula, berasal, berawal dari sebuah sindiran! Wow…, mejikkk…

So, buat yang disindir-sindir, disindir emang ga enak. Tapi kita sebenernya berbuat baik. Karena ga taunya kita buat orang jadi terinsipirasi, kita buat orang jadi kreatif, kita buat orang jadi pinter, dan kita malah bisa buat orang jadi kaya. Huehehehe..

Tapi ini bukan berarti juga kalo kita lantas berubah jadi nyebelin atau yang emang udah nyebelin untuk tetep nyebelin dengan dalih bikin orang lain jadi pinter lho ya! Tolong ya, agak pinter dikit untuk yang satu ini!

Well, sekarang kalo kita yang suka nyindir, mau nyindir yg gimana? Yang kreatif dan menuangkannya jadi karya-karya, atau hanya jadi penyindir yang sekadar menyindir-nyindir kaya tukang nyindir diatas itu?
Eh, satu hal yg ketinggalan, sindiran juga bisa menghasilkan karya tulis. Contohnya nulis hal-hal simpel diblog. Ketawa berlanjut, huehehehe…..

Ada yang kesindir? ;)

Tuesday, September 18, 2007

C'mon, Girls!

“Diciptakan alam pria dan wanita
Dua mahluk dalam asuhan dewata
Dikisahkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja..”

Sabda Alam – Ismail Marzuki


Ya, lemah lembut manja.
Hmm, wanita, perempuan, atau cewe. Mahluk yang kalo kata lirik lagu diatas dikisahkan lemah lembut manja. Mahluk yang lembut, mahluk yang harus dilindungi, mahluk yang harus dibela ama kaum cowo.


Dijaman dulu mereka selalu direndahin. Selalu dianggap nomer dua. Cowolah yang utama. Buat cowo, kalo mereka mengutarakan apa yang mereka mau, boleh-boleh aja. Tapi kalo cewe? Wah, bisa-bisa dianggap bitch atau apalah. Bahkan mungkin sampe sekarang juga gitu. U’ve got to be quiet, because u’re a woman. Kalo dijaman dulu hanya cowo-cowo yg boleh sekolah tinggi, dan cewe-cewe ya gitu-gitu aja.

Tentu aja ini ga bisa dibiarin. Makanya hadirlah cewe-cewe yang ga lemah dan pemberani yang memperjuangkan haknya. Cewe yang kaya gini itu salah satunya yang kita kenal dari pelajaran waktu SD, Ibu Kartini. Beliau ngebela banget kaum cewe. Bahwa cewe tuh ga bisa direndahin, ga bisa dianggap lemah, ga bisa disembarangin. Kaum cewe harus sama dengan kaum cowo. Dan yang hebatnya lagi, itu terjadi dijaman dulu. Di Indonesia pula!

Hal ini tentunya ga berhenti sampe dibeliau aja. Banyak banget yang akhirnya terus berjuang mempertahankan haknya. Emansipasinya. Makanya ada gerakan feminisme, koalisi yg isinya membela hak-hak kaum cewe, bahkan seleb-seleb yg mengusung girl power, yang paling engga mengkampanyekan kaum cewe punya kekuatan yang sama dengan cowo.

Banyak tokoh-tokoh yang bisa menginspirasi kaum cewe untuk jadi cewe yang berani, dan ga lemah. Untuk jadi cewe yang juga smart, independent. Tentunya selain Ibu Kartini, ada juga Eva Peron, Margareth Tatcher, and the former President of Indonesia, Megawati. Dan dari kalangan seleb, like when Madonna said, “I wanna conquer the world.” Hmm, hebat kan? Atau Destiny’s Child dengan Independent Woman-nya yg soundtrack Charlie’s Angel yg jelas-jelas mamerin banget kekuatan cewe.

Semuanya memberikan inspirasi untuk kaum cewe supaya menjadi cewe-cewe yang kuat, berani, ga lemah, ga kalah ama kaum cowo. Alangkah bagusnya kalo banyak cewe-cewe yang terinspirasi untuk menjadi cewe yang ga lemah, kuat, dan berani. Dan semua berujung pada cewe ga kalah ama cowo. Kesamaan hak. Equalization atau kesejajaran. Dan tentunya emansipasi.

Speaking of emansipasi, sebenernya pemahaman tentang emansipasi ini tentunya ga cuma sampe disini aja. Persamaan hak dan kesejajaran kaum cowo dan cewe itu ada konsekwensinya.
Kalo emang mau disejajarkan ama cowo, tentunya bukan hanya yang enak-enaknya aja. Hak bisa sekolah, ga direndahin, hak bicara, didengar, dan sebagainya. No! Ga cuma disitu. Tapi juga hal-hal kecil yang sebenernya ada dari kaum cewe yg suka lupa kalo ini merupakan sebuah konsekwensi dari persamaan hak dari kaum cowo.

Misalnya aja, dapet tempat duduk dibis umum. Kenapa ada aja cewe yang lantas ngerasa lebih berhak untuk dapetin tempat duduk yg misalnya tinggal satu yg kosong sementara ada dua orang yg berdiri kalo orang yang satunya lagi itu cowo? Atau mungkin lantas jadi bete dan kesel kalo emang ada cowo yg enak-enakan tidur ditempat duduk dibis umum, sementara si cewe berdiri. Bahkan ada dari mereka yg bilang, kalo kursi itu adalah ‘singgasanya sang cowo yang payah banget itu’, karena ga mau mempersilakannya ke cewe.

Atau kalo diantara temen. Kalo lagi ngumpul-ngumpul, ada cowo-cowo, ada cewe-cewe. Kenapa begitu cewe-cewe pada laper, trus lantas cowo-cowo yg disuruh cari makanan? Atau bawa barang yang berat-berat, lantas langsung cowo yang ditunjuk, padahal seberat-beratnya barang yang dimaksud masih bisa diangkat sama cewe.

Atau mungkin yang agak sedikit lebih besar, pembagian kerja dikantor. Cewe dapet kerjaan yang lebih ringan daripada cowo. Padahal kerjaan yang dianggap ‘berat’ itu sebenernya bisa aja dikerjain ama cewe.

Dan semua ini akhirnya sering banget bikin mereka menjadikan ini sebagai alasan untuk ngedapetin hal yang dia mau. Tinggal bilang aja, ‘kita kan cewe.’ Dan seolah-olah itu jadi mantra yg paling hebat untuk bikin kaum cowo lantas nurut. Well, dengan dalih gender inilah mereka jadi ga harus ngelakuin hal-hal yg bisa dikatakan ‘sebenernya kalo cewe yang ngelakuin juga ga papa’.

“Lo aja deh yang bawain. Gue kan cewe.”
“Tolong dong, lo yang keluar cari makanan. Kita kan cewe.”
“Mas, ngalah dong ama cewe. Masa saya berdiri, situ yang duduk.”
“Komputer lo lagi dipake ya? Bisa pinjem sebentar kan, ayolah.. ama cewe masa ga mau ngalah?”

Bahkan ada juga yang menyudutkan kaum cowo. Contohnya, kalo misalnya ada pasangan yg putus, maka umumnya kaum cowo cenderung disalahin. Ada juga yang berpendapat kalo cowo itu bisanya menyakiti hati cewe. Dan segala sesuatu yg semua tertuju bahwa cewe itu lebih bersih, lebih baik daripada cowo. Ini ga lebih dari menunjukkan kalo cewe itu terkesan cengeng, dan tentu aja, lemah. Padahal untuk cerita hubungan yang berantakan kaya gini, kaum cewe juga banyak tuh yg menyakiti kaum cowo! Cuma cowo ga musingin aja.

Nyadar ga para cewe-cewe yang berkelakuan kaya gini, kalo mereka justru ngerusak citranya sendiri? Merusak perjuangan para cewe yg teriak-teriak mengumandangkan emansipasi. Merusak image cewe-cewe hebat yang udah cape-cape berjuang. Ini sama aja kaya orang yg ga bertanggung jawab, dan ‘ngejual nama cewe’ hanya untuk menghindari hal-hal yang mereka harus lakuin. Atau supaya untuk punya image yang bersih. Supaya jadi lebih enak, lebih nyantai, lebih istimewa, lebih nyaman. Untuk bebas dari yang bikin mereka bete dan memanjakan kemalasan. Atau agar terkesan ga brengsek, padahal cewe juga ada yang brengsek kan?


Tolonglah jangan merusak citra atau bahkan martabat kaum cewe dengan melebelkan diri sebagai mahluk yg lemah. Kenapa harus mau jadi mahluk yg dianggap lemah? Dan jangan ngerusaknya juga dengan ngumpet dibalik alesan ‘karena dirinya cewe’.
Sekali lagi, emansipasi kaum cewe itu ga hanya berhenti sampai di perempuan disejajarkan dengan kaum pria. Tapi seharusnya terus sampai kekonsekwensinya, dimana perempuan ga lantas jadi lebih istimewa haknya dibandingkan cowo. Makanya sebenernya mengherankan juga kalo dibis ditulis ‘utamakan wanita’. Atau dikantor ditulis dideket pintu lift, ‘dilarang turun menggunakan lift, kecuali karyawati’. Entah apa yang dipikir oleh orang yang nulis saat dia nulis ini. Kalo spesifik nenek-nenek, baru wajar!

Kalo emang mau disejajarkan dengan kaum cowo, ya berarti kalo ada cowo yg duduk dikursi sebuah bis sementara ada cewe yg berdiri, ya terima aja. Kalo emang laper dan ada cowo-cowo, ya tetep aja cari makanan sendiri. Atau kalo emang ada kerjaan yang bisa dilakukan sendiri, kerjain aja sendiri. Jangan lantas jadi mengandalkan cowo. Dan untuk sebuah hubungan yang berakhir itu pastinya tergantung siapa yang salah, siapa yang jadi korban. Ga ada hubungannya dengan gender.


Masalah gender tentu aja selama ini diributin kalo cewe yang dirugikan. Padahal, ya itu tadi, ada cewe-cewe yang sering memakai ini sebagai dalih agar dapet apa yg mereka mau dan ga harus melakukan apa-apa aja yang sebenernya bisa aja mereka lakukan. Hanya dengan make alesan karena mereka cewe. Atau dengan bilang, “kita kan cewe!” Dan buat mereka yang kaya gini, mereka harusnya malu. Memalukan! Apalagi mereka yang pernah jadi salah satu yang teriak-teriak soal emansipasi tapi begini, lebih memalukan lagi!


Jadilah cewe yang berani, hebat, dan ga lemah. Karena cewe bukan mahluk lemah. Jangan pernah mau dianggap lemah. Dan jangan melemahkan diri sendiri. Anyway, jadi independent woman? Sounds like a good idea! Hmm.. ya ‘kan?

Tapi jangan sampe akhirnya lupa, lantas jadi merasa lebih tinggi. Sejajar itu sama. Equal.
Hmm, dan sebenernya lagi, lebih enak mengganti kata cewe menjadi perempuan. Mahluk yang sempet dibilang harus dilindungi, mahluk yang sempet dibilang harus dibela ama kaum cowo.
Be independent, be strong!

Monday, September 3, 2007

Because We're Close..

Nama saya Jono. Saya adalah seorang office boy disebuah perusahaan swasta di Jakarta. Disebuah gedung tinggi dengan dua puluh dua lantai. Dan saya ditugasi untuk mengerjakan segala sesuatu yang ditugaskan pada saya dilantai empat belas.

Rumah saya tidak terlalu jauh dari tempat saya bekerja. Hanya dengan naik satu kali angkutan umum, lantas langsung sampai kedekat rumah saya.

Saya suka sekali bekerja ditempat saya bekerja itu. Karena selain tempatnya tidak terlalu jauh, saya juga suka dengan orang-orang yang bekerja disana. Mulai dari teman-teman rekan kerja saya sesama office boy atau office girl, juga para karyawan-karyawan kantoran-nya.

Mereka, para karyawan kantoran itu, umumnya baik dan ramah. Saya merasa, saya tidak dibedakan dari mereka. Mereka suka mengajak saya ngobrol, bahkan mereka sering pula bercanda dengan saya. Saya benar-benar senang dengan keadaan seperti ini. Pekerjaan saya yang begitu memeras keringat dan tenaga, semua seolah terbayar dengan keadaan yang menyenangkan itu.

Saya jadi suka memberikan mereka bantuan lebih baik dari biasanya. Kadang saya suka menawarkan untuk membuat secangkir kopi atau teh untuk mereka disiang hari. Dan jika sudah begitu, lantas banyak yang ikut-ikutan minta saya buatkan. Ah, tidak ada salahnya dengan itu. Toh, saya senang membuatkannya. Ditambah, kadang-kadang salah satu dari mereka juga suka memberikan makanan untuk saya. Bahkan beberapa kali, kami sering makan dari satu piring. Jadi ya, hitung-hitung sebagai timbal balik saja.

Dari karyawan-karyawan itu saya juga sering mendapatkan uang tips. Hmm, saya tidak terlalu mengharapkan ini juga sih. Tapi saya senang. Dan ada juga salah satu dari mereka yang suka bertemu saya dibis umum setiap kali saya pulang. Ya, kebetulan kami memang searah. Dan dalam perjalanan pulang itu, dia sering memutar musik dan mendengarkannya melalui earphone. Wah, saya selalu ditawarinya untuk sama-sama mendengarkan musik yang ia putar, melalui earphone tersebut. Saya yang sebelah kiri, dia yang kanan. Atau sebaliknya. Hmm, perjalanan pulang jadi menyenangkan dan membuat kami tidak terlalu peduli akan berjejalnya orang didalam bis dan macet yang sepertinya menjadi menu petang hari kota ini.

Salah satu dari mereka yang memiliki kendaraan pribadi juga sering menawarkan saya untuk menumpang, jika memang kebetulan sedang bertujuan melewati daerah dekat rumah saya.

Keadaan ini akhirnya membuat saya jadi tidak canggung lagi kepada mereka. Saya pikir, untuk apa merasa canggung? Toh mereka memang baik semua. Toh, saya juga tidak dibedakan meski posisi saya adalah orang belakang. Bercanda dengan mereka juga akhirnya menjadi lebih dari biasanya. Saya bisa saja meledek salah satu dari mereka. Hahaha.. Saya ingat, saya pernah mencolek bokong salah satu dari mereka. Dan buat saya, hal itu sangat lucu sekali. Dan memang siempunya bokong itu lantas mengatakan saya kurang ajar. Tapi saya yakin sekali, itu hanya bercanda. Ada juga yang begitu lewat didepan saya, saya lantas bersiul-siul menggoda layaknya laki-laki iseng dipinggir jalan melihat perempuan lewat. Buat saya, hal ini biasa saja. Kan, saya sudah akrab dengan mereka.

Keadaan ini membuat saya menjadi bebas untuk berlaku yang saya mau. Rasanya nyaman sekali. Seperti dirumah saja. Saya bebas mengatakan apa yang saya rasakan. Jika saya terlalu letih untuk dimintai bantuan, saya tinggal menolaknya. Atau mereka yang tiba-tiba meminta tolong pada saya tetapi secara mendadak dan tiba-tiba, padahal pertolongan yang dimaksud menyita tenaga dan waktu saya. Saya tinggal tolak saja dengan alasan, kenapa bukan sedari tadi meminta tolong pada saya. Apalagi yang hanya meminta dibuatkan kopi atau teh. Sebenarnya menurut saya, jika bisa mengerjakan sendiri untuk apa meminta bantuan saya? Saya yakin ini tidak akan membuat mereka marah. Ini semua saya pikir karena saya memang sudah akrab dengan mereka.

Pernah suatu kali, salah satu dari mereka meminta tolong saya untuk mem-fotokopi kertas-kertas yang saya tidak tahu apa isi kertas-kertas yang menumpuk itu. Dengan mudahnya, saya tolak saja. Saya bilang padanya, saya tidak mau. Saya lantas pergi saja dari hadapannya dengan kertas-kertasnya itu. Ah, senang sekali, ternyata keakraban ini membuat dia begitu pengertian, dan keakraban ini membuat saya tidak bersusah payah mencari-cari alasan. Karena, saya juga pernah harus berbohong dengan mengatakan kepala saya sedang pusing. Tapi tentunya itu sudah tidak perlu lagi. Saling pengertian, saling terbuka, dan saling akrab. Toh, setelah itu ternyata mereka tetap saja baik kepada saya. Ah.. sekali lagi, saya senang sekali bekerja disini!

Sampai pada suatu hari saya menemukan berbedanya sikap mereka terhadap saya. Dan saya tidak mengerti akan hal ini. Ada apa kira-kira? Candaan-candaan saya lantas disambut dingin oleh mereka. Salah satu dari mereka yang sering pulang satu bis dengan saya memilih untuk duduk berjauhan. Yang pernah memberikan saya makanan-makanan, tidak lagi bahkan hanya sekadar menawarkan. Apalagi yang pernah makan satu piring, melihat saya saja sudah tidak mau. Padahal saya tersenyum dan melontarkan sapaan penuh canda.

Salah satu dari mereka yang suka meminta saya buatkan kopi atau teh, datang ke pantry lantas meminta buatkan kopi dengan muka masam dan tanpa candaan sedikitpun. Saya ingin menolaknya seperti yang sudah-sudah. Tapi melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu saya lantas merasa ngeri untuk menolaknya. Keadaannya sedang aneh, saya pikir.

Tetapi ini berlanjut sampai berhari-hari. Sikap mereka benar-benar aneh. Setiap saya datangi meja-meja mereka, mereka yang tadinya terdengar riuh dengan candaan mereka dari kejauhan, lantas dalam sekejap menjadi hening seperti kuburan.

Adalah dia yang pernah sering menawarkan makanan yang akhirnya mengatakan pada saya kenapa sikap mereka berubah. Itupun ketika akhirnya saya menemukan kesempatan bertanya. Dengan muka masam dia mengatakan,
“Sikap kamu itu tidak membuat kami nyaman. Sepertinya kamu memang sudah tidak bisa lagi membantu kami. Padahal tugas kamu disini membantu kami kan? Ketidaknyamanan kami yang berhubungan dengan posisi kamu adalah kamu tidak mau dimintai bantuan, malah menolaknya. Kadang kamu juga kasar menolaknya.

Belum lagi kamu kok sepertinya kurang ajar pada kami. Kami bukan mau merendahkan kamu mengingat posisi kamu disini. Kamunya saja yang memang tidak sopan. Ini tidak ada hubungannya dengan posisi kamu disini. Bukan karena kamu orang belakang makanya kamu kami sebut kurang ajar dengan sikap-sikap kamu itu.”

“Karena walaupun kamu sama posisinya dengan kami, tetapi dengan sikap kamu yang seperti itulah kamu kami anggap kurang ajar dan tentunya itu membuat kami tidak merasa nyaman. Sekali lagi, ini bukan karena posisi. Kami tidak pernah merendahkan posisimu dikantor ini.” lanjutnya.

Saya lantas menjawabnya dengan pertanyaan, “Kenapa yang lain diam saja? Kenapa tidak bilang apa-apa pada saya?”

“Mereka tidak tega padamu. Saya juga begitu. Tapi saya pikir kamu akhirnya harus tahu juga. Biar kamu tahu diri.”

***

Dan hal terakhir yang saya dapat adalah keputusan dari atasan yang menaungi para office boy/girl bahwa saya harus di rolling. Alias saya harus ditukar posisi oleh office boy dari lantai lain. Memang hal ini sudah merupakan rutinitas dalam beberapa bulan sekali, dan seharusnya kami di-rolling. Tapi itupun sebenarnya didasari hasil survey dari para karyawan itu sendiri sebelum keputusan dibuat. Dan yang biasanya saya dipertahankan untuk tetap dilantai itu, kali ini tidak. Ya, keberadaan saya dilantai itu sudah tidak diinginkan lagi. Dan saya akhirnya ditempatkan di lantai enam belas, dimana orang-orangnya terkenal ketus-ketus dan menyebalkan.

Akhirnya saya menyadari dan cuma bisa merenungi, betapa sayangnya keakraban itu lantas hilang karena sikap saya yang lantas menjadi melonjak seperti itu. Sayang sekali keakraban itu hilang karena ke-songong-an saya.

Saya terlupa bahwa hal ini sebenarnya sering saya dapati dipergaulan dan dikehidupan sehari-hari. Misalnya antara teman. Karena merasa sudah akrab satu sama lain, kita lantas menjadi lupa diri dan merasa sah-sah saja melakukan apapun yang kita mau, mengatakan apapun yang kita mau, tanpa berpikir kalau ada beberapa atau banyak hal yang bisa jadi dirasa sangat tidak nyaman. Hal-hal yang sebenarnya jadi tidak menghormati dan tidak menghargai atau bahkan mungkin menyinggung perasaan. Songong. Lancang.

Ini adalah pelajaran yang saya dapat, walau bagaimanapun akrabnya, saya tidak boleh lantas merasa saya bebas kurang ajar seperti itu. Jika ada orang yang berlaku baik kepada kita, bukan berarti kita lantas bisa seenaknya. Dan mudah-mudahan saya bukanlah satu-satunya yang ingat akan hal ini. Dan baru menyadarinya setelah melakukannya.

Friday, August 31, 2007

Yeah, I’m Talkin’ About Love Now..

Mana yang lebih lo suka? Dicintai atau mencintai? Ini adalah pilihan mutlak. Ga boleh jawab dua-duanya. Harus satu! Dicintai? Mencintai?

Gue ga tau sih yg mana yg bakal lo pilih. Tapi gue yakin, jawaban terpopuler adalah dicintai. Ya, dicintai daripada mencintai.

Mencintai butuh pengorbanan. Dari mulai hal-hal kecil, sampe yang besar. Mengorbankan perasaan, mengorbankan hati, mengorbankan ego, sampe mungkin mengorbankan uang! Mencintai butuh kekuatan dan keberanian. Mencintai butuh mengalah. Mencintai itu sulit.

Mencintai butuh mengorbankan perasaan? Ini contohnya, kalo lo cinta sama orang yang kurang lebih bisa dibilang nyebelin. Apa yang dia lakukan, apa yang jadi kebiasaan dia. Semua lo terima apa adanya. Kekurangan-kekurangan yang ada di dia, semuanya lo terima. Lo seolah diiket oleh sesuatu yang mengharuskan lo begitu. Kadang lo dibikin stress ama kelakuannya. Lo dibikin jengkel ama apa yg dia lakukan ke lo. Seolah-olah, perasaan lo adalah sesuatu yg ga berharga sama sekali. Malah, ada juga yg dianggep kaya sampah. Belum lagi ada juga yang digantung tanpa ada kejelasan. Dan banyak hal-hal yang ga terlalu ngenakin lainnya. Ini gila, tapi inilah cinta, begitu kata lirik sebuah lagu yg gue pernah denger. Entah ini penggeseran arti mencintai atau emang arti mencintai udah dari dulu begini artinya.

Mencintai butuh mengorbankan hati? Hmm, pada saat lo ngerasa cinta banget ama seseorang, kadang hati lo jadi sering sakit. Dia cuek ama lo salah, dia kurang perhatian ama lo salah juga. Kurang lebih, banyak hal yang dia lakukan jadi serba salah dimata lo.

Lo ga boleh marah ama dia. Karna pada saat lo marah ama dia, dia akan marah balik ke lo. Seolah lo ga punya hak utk marah sama sekali. Kesannya, lo hanya sebuah benda yang pasif. Ga bernyawa. Diinjek-injek, dipukulin, diludahin. Inilah yg gue sebut cinta butuh pengorbanan ego.

Mengorbankan uang? Ini agak shallow sebenernya kalo untuk dibahas. Tapi emang begitu adanya. Buat sebagian besar orang, ini menyulitkan. Karna mikirin, pacar gue mau duit gue doang kali ya?

Atau, udah berapa duit gue keluarin selama gw jalan ama dia? Gue udah kaya suami istri aja. Suami istri yg beneran aja, ga gini-gini amat.

Sementara dicintai kurang lebih adalah kebalikan dari itu semua. Lebih santai, lebih nyaman, lebih tenang, dan lebih menyenangkan tentunya.

Lo hanya butuh sesuatu yang lebih simple daripada itu. Kalo boleh diibaratin, kaya lo punya pembokat atau asisten atau apapun namanya, yang siap untuk ngasih lo apa aja yg lo mau. Apa aja yg lo butuh, apa aja yg lo perintahin.

Well, dia cinta ini ama gw. So, apapun yg gw lakuin, dia pasti bakal terima2 aja. Gitulah, kurang lebih yg ada dalam pikiran sang dicintai.

Pengorbanan? Kayanya ga perlu tuh. Lo cukup diem aja, dan dia yg kerja keras untuk lo. Lebih nyaman, lebih baik, dan lebih ga cape.

Ada suatu contoh. Misalnya, kita tau ada orang yg suka sama lo. Rasanya pasti nyenengin. Dia jadi baik ama lo. Dan akhirnya lo jadian ama dia. Lalu dia cinta mati ama lo. Semua serba tentang lo.

Bagi yg matre.. wiiihh.. fasilitas? Oke! Pulang kerja? Bis, taksi? Ucapkan selamat tinggal pada mereka! Rekening di bank? Secara otomatis nambah, deh! Jalan ke mall? Satu dua lah pastinya dibeliin! Lo ga perlu keluar sepeserpun utk punya item-item terbaru. Tiba-tiba laper? Mo ngopi-ngopi? Café mana sih yang ga pernah lo satronin? Baju? Nambah! Koleksi CD? Hmm, percayalah.. ini cuma hal kecil! Isi pulsa? Ga ada lagi tuh yg namanya abis pulsa. Ring ring ring, halo halo halo all the time! Ganti handphone? Udah kaya ganti celana dalem. Asiklah pokonya!
Bagi yang manja? Hmm.., mau dipeluk? Ayo! Mau menye-menye? Ada yang siap nerima menye-menyenya lo. Orang dikantor salah dikit ke lo? Tinggal teken nomernya, tersambung, curhatanpun ngalir abis.
Dan semua, dan semua..! The point is dicintai enaknya luar biasa!

Sementara balik lagi buat yang mencintai… hmm.. silakan berjungkir balik. Dan lo juga udah pasti harus rela kalo dia bikin hal-hal yg menjengkelkan lo.

Dan kalo ceritanya lo udah putus ama dia, sementara sewaktu jadian dulu posisi lo adalah yang mencintai, lo akan putus asa karna kehilangan dia. Lo akan sedih karna inget ama dia. Lo ga bisa sedetikpun ga mikirin dia.

Sementara, dia udah bisa melenggok dengan sempurna karna masih ngerasa lo cinta ama dia. Gede kepala, ge’er karna ngerasa masih segala-galanya. Weleh. ..weleh..

Begitu dia ga ada kabar, tapi lo kangen banget, akhirnya lo telpon dia, atau segala sesuatu yang intinya menghubungi dia, dan walah, dia merasa dirinya tak terlupakan.

Tapi apa pengertian dari mencintai dan dicintai yang seharusnya indah jadi hanya sampah seperti ini? Mencintai adalah hal yang sangat indah. Pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan ga ada beratnya sama sekali. Apa yang udah kita lakukan, setulusnya, seikhlasnya hanya untuk dia seorang.

Dan dicintai bukan berarti mengubah diri kita jadi super nyebelin kaya gitu. Dicintai itu memiliki sebuah tanggung jawab besar. Seperti kita ini seolah adalah seorang produsen yang menjual sebuah benda kepada konsumen dengan sebuah garansi. Jika benda yg udah sampe ke konsumen itu rusak, tentunya kita harus memberikan perbaikan-perbaikan. Kalo perlu penggantian suku cadang. Or kalo perumpamaan gue ini kurang nyampe, maksudnya adalah kalo kita dicintai, udah merupakan tanggung jawab kita untuk menjaga perasaan dan harga diri orang yang mencintai kita. Jangan pernah kita biarkan orang yang mencintai kita kecewa. Kalo seandainya sempet jadian misalnya, walau bagaimanapun, kita telah memberikan kesempatan padanya untuk bersama kita. Dan sebenernya ini udah merupakan kemutlakan untuk kita bertanggung jawab akan hal ini. Atau buat mereka yang ga sempet jadianpun begitu. Paling engga, tanggung jawab dengan jaga perasaannya aja. Itu udah sangat baik.

Semua emang butuh pengorbanan. Baik mencintai maupun dicintai. Semua butuh tanggung jawab. Dan tentunya mencintai udah pasti butuh keberanian. Alangkah sangat baiknya, jika orang yang kita cinta itu mencintai kita juga. Jadinya saling mencintai. Bahkan ini paling penting. Dan satu hal, jangan pernah kita cinta sama orang yang ga cinta juga ama kita. Emang sih kedengerannya jadi ga tulus dan pamrih. Tapi ini jauh lebih baik. Hargai diri kita sendiri. U deserve to be loved.

Daripada lo cinta ama dia, sementara dia-nya engga? Paling-paling, dia cuma bilang “terima kasih..” pas lo bilang cinta ama dia. Hmm.. :(

Dengan mencintai dan dicintai juga, segala sesuatu akan terasa bersama. Lebih adil, lebih bertanggung jawab, lebih indah. Apa yang dirasakan jadi bisa terbagi bersama. Dan hal-hal seperti diatas yang gue sebutin, tentunya ga bakalan ada sama sekali. Dan ga ada istilah posisi yang mencintai atau yang dicintai. Tapi saling mencintai. And I guess, the sweetest thing to be heard instead ‘thank u’ after u say ‘I love u’ to someone is ‘I love u too’. Don’t u think so? And isn’t it beautiful?

So, kalo misalnya lo disuruh milih, mana yang lo pilih?
Lo bilang I love u, trus dijawab thank u?
Atau bilang I love u dengan jawaban I love u too?
Atau yang bilang thank u setelah ada yang bilang I love u?

Atau pilih mana…, antara yg bilang I love u, atau yang bilang I love u too?


Hmm, … thank u, I love u all!
TJ

Wednesday, August 29, 2007

U’re So Gross, But Hey..! What About Me??


Beberapa bulan yang lalu, seisi kantor gue heboh dengan adanya salah satu dari kita yang hobinya ngilang mulu or selalu ga ada diruangan pas jam kerja. Padahal kerjaan yang dia harus pegang banyak banget. Terpaksa hampir dari kita semua meng-handle segala sesuatu yang emang harusnya dia yang pegang itu.

Well, u can imagine, misalnya ada beberapa orang yang butuh dia, dia ga ada. Dan banyak hal yang terpaksa jadi ke-pending hanya karna ga adanya dia ditempat.

Oleh karna itu, akhirnya diadakanlah meeting. Apa yang salah, apa yang hanya salah paham dan sebagainya, kita bahas disitu. Dan tentunya alasan kenapa si empunya hobi menghilang itu, terus-terusan ngejalanin hobinya yaitu menghilang (pastinya!). Ya ini lah, ya itu lah. Dan salah satu dari kita yang merasa paling direpotkan tentunya menjadikan ini sebagai ajang penumpahan uneg-uneg. Seberapa keselnya dia kepada rekan kerja kita yang satu itu. Well, dikantor kita itu emang tugas udah dibagi-bagi. Si A ngurusin ini, si B ngurusin itu, dsb. Dan yang parah adalah kita semua emang sibuk. Bayangkanlah kalo salah satu dari kita itu selalu ga ada ditempat! Otomatis apa yang harus dia kerjain jadi ‘kelempar’ ke rekan kerja yang lainnya. Padahal seperti yang gue bilang tadi, kita semua udah dibagi-bagi kerjaan or tugasnya dan semuanya itu sibuk.

Dan rekan kita yang tadi, menumpahkan uneg-unegnya dengan lancarnya mengutarakan apa yang selama ini tertahan dibibirnya. Betapa jenuhnya dia dengan semua ini (lho? I think I’ve heard this before..). Anyway, kita paham betul hal ini. Karna kita juga emang direpotin.

Sebelum diadainnya meeting itu, kita emang selalu ngebahas ttg rekan kerja kita yang satu itu. Kejelek-kejelekkannya. Well, jatuhnya sih kita emang jadi ngomongin dia, ngejelek-jelekin dia, dsb. Suka ga ada ditempat, padahal dibutuhin. Menghilang ga jelas kemana padahal kerjaannya seabrek2! Suka belagu. Kelakuan ini, kelakuan itu. Ya, pokonya yang jelek-jelek deh!

Terus terang ada kenikmatan tersendiri dengan ngomongin kejelekkan rekan kita yang satu itu. Entah karna ini emang sebuah kesalahan yang dia sendiri buat, atau emang kitanya yang mulutnya ‘gatel’ utk ga bisa berhenti ngejelek-jelekin dia. Pastinya kita ga kaya dia dong! Kita tentunya lebih baik. Paling engga, itu yang kita rasa. Paling engga, itu yang emang terlihat, terjadi, saat itu. We’re better! Yes, we are! At list that’s how we think. (Eee…??)

Dan ternyata nasib membawa kenyataan baru kalo ternyata rekan kita yang hobi menghilang itu akhirnya resign. Walau sebenernya agak membingungkan buat kita, karna ketidakdisiplinannya tersebut, sepantasnya sebutan yg tepat buat dia itu dipecat. Tapi ini malah resign. Ah, bingunglah!

Dan kini, ada juga kenyataan yang paling baru, yaitu rekan kerja kita yang tadi menumpahkan uneg-unegnya berubah menjadi sama seperti rekan kerja kita yang tadi ‘resign’ itu. Suka menghilang ga jelas. Ga ada diruangan. Dan tentunya apa yang harus dia kerjain jadi ‘kelempar’ ke rekan kerja lainnya. Semua sama persis seperti apa yang pernah dilakukan oleh rekan kerja kita yang dulu itu.

Ini tentu aja bikin semua orang dikantor jadi heboh lagi kaya dulu. Karna repotnya di ‘lemparin’ kerjaan yang bukan kerjaannya, dan tentu aja heboh karna ternyata rekan kerja kita yang satu ini berkelakuan sama dengan orang yang dulu sering dia omongin, dia jelek-jelekin.

Kenapa jadi begini? Bukannya dia tau rasanya diginiin? Bukannya dia harusnya nyadar? Bukannya dia harusnya ga begini?

***
Cerita diatas hanya contoh aja, but the point is or let say, what I’m trying 2 say rite here is: Inilah yang sebenernya sering terjadi. Apa yang lo omongin tentang orang, yg jelek-jeleknya, yang buruk-buruknya, justru lo sendiri akhirnya ngelakuin hal yang sama.

Apakah ini sebuah sifat dasar dari seseorang yang suka ngejelek-jelekin itu aja, yang pada akhirnya keluar juga? Atau hanya karna kemunafikan belaka? Atau apa ini malah kutukan? Atau apa?

Jika kita tau teman kita punya kelakuan minus, terus kita jelek-jelekin, maka kita bakalan seperti dia? Let say, jika kita kenal orang yg menurut kita menjijikan, tapi ga lama kemudian kita juga jadi sama menjijikannya kaya orang itu?

Semuanya akhirnya bikin orang bisa bilang, “Lo dulu ngejelekin dia? Lo sendiri sekarang gimana? U’re nothing but a loser.. “ (oops.. kok malah ngejelekin juga?)

***

Gue ga faham ama hal yang satu ini. Satu hal yg gue tau akhirnya adalah, sebelum lo menjelek-jelekan orang lain, lo harus tau betul siapa diri lo.

I've Gone This Far, and U're Not Even A Half of It

Setiap orang pasti sudah dan ingin memiliki keberhasilan atau pencapaian. Entah itu keberhasilan atau pencapaian dalam pengertian yang besar dan umum, seperti keberhasilan mendapatkan prestasi, gaji besar, uang banyak, menjadi kaya, naik jabatan, dan hal-hal lainnya, yang kita tau kita bisa sebut itu sebagai sebuah keberhasilan atau pencapaian.

Well, selain keberhasilan-keberhasilan yang umum seperti itu, ada juga keberhasilan-keberhasilan yang kadang bisa lah dianggap keberhasilan ‘kecil’ dan ‘tidak begitu terlihat’ atau lebih tepat disebut keberhasilan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Atau pencapaian-pencapaian kecil. Atau bahkan bisa disebut pencapaian-pencapaian yang ‘dalam’.

Salah satu contoh adalah dikantor tempat kita bekerja, kita mendapatkan score tertinggi sebuah game dikomputer dibandingkan teman-teman sekantor lainnya. Atau misalnya juga, ada yang berhasil menurunkan berat badan. Juga ada yang berhasil mengatasi ketakutan akan sesuatu yang sudah dari dulu ada. Berhasil untuk menjadi orang yang tidak pernah mengeluh lagi, juga bisa dijadikan contohnya. Atau berhasil menyelesaikan pekerjaan yang banyak. Berhasil lepas dari kelemahan-kelemahan yang selama ini ada. Atau bahkan berhasil menjadi ‘orang yang baru’. Keberhasilan-keberhasilan yang seperti ini yang saya sedang bicarakan!

Tentunya besar-kecilnya nilai dan sedalam apa artinya keberhasilan-keberhasilan atau pencapaian-pencapaian ini tergantung dari masing-masing orang yang menjalaninya.

Dan saat keberhasilan-keberhasilan atau pencapaian-pencapaian ini teraih, kita merasa puas. Kita mungkin saja merasa kita sudah melakukan hal besar dalam hidup kita, dan tak bisa dipungkiri, ada rasa bangga disitu. Ya, itu adalah hak masing-masing untuk merasakan apapun dari keberhasilan-keberhasilan atau pencapaian-pencapaian itu. Berbangga hati, silakan. Senang, why not? U deserve it. Yes, u do.

Tapi kadang pada akhirnya kita juga menjadi lupa, karena mungkin terlalu senang atau terlalu puas, atau bahkan terlalu bangga, ada orang disekeliling kita yang kita kenal, atau ada juga yang kita baru kenal, yang kebetulan tidak seberhasil kita, kita anggap dia tidak sebagus atau sehebat kita. Yang memiliki score tertinggi dalam game di komputer lantas menganggap yang lebih rendah score-nya itu payah. Yang merasa berhasil menurunkan berat badan, melihat mereka yang masih memiliki berat badan berlebih, lantas jadi agak mencemooh. Seolah si gendut tadi tidak punya usaha sehebat kita hingga akhirnya bisa selangsing kita sekarang ini.


Atau sama halnya dengan si penakut yang kita jumpai. Kita merasa dirinya itu payah sekali, karena tidak seperti kita yang sudah lama sekali tidak kenal lagi dengan ‘si penakut’ paling lama yang kita kenal yaitu diri kita sendiri. Dan kita sudah menjadi pemberani sekarang.

Sementara itu sama halnya dengan ‘si tukang mengeluh’. Padahal dulu kita pernah jadi tukang mengeluh seperti dia. Hanya saja sekarang kita sudah buang jauh-jauh kebiasaan kita yang satu itu. Dan setiap hari kita mendengar keluhan-keluhan kecil darinya, seperti kata-kata, “aduh cape..”, “aduh kerjaan banyak banget”, “aduh pusing gue, susah banget sih!”, dan keluhan-keluhannya yang lain. Dan saat mendengar itu, otomatis yang terlintas dalam pikiran kita atau bahkan mungkin sempat terucap adalah, “Ya ampun, baru segitu aja. Coba kalo kerjaan lo kaya gue? Bisa mati lo!” Hmmm…, iya kan?

Atau ada kasus lain yang agak sedikit lebih ‘dalam’, yaitu kita sekarang adalah orang yang telah menjadi orang yang ‘baru’. Karena kita telah lepas dari segala kelemahan-kelemahan yang ada didiri kita. Usaha kita dalam memerangi kelemahan-kelemahan itu sudah yang terbaik. Dan itu berhasil! Tapi pada akhirnya kita bertemu dengan seseorang yang masih dilanda dengan kelemahan-kelamahan yang dulu pernah kita miliki. Tidak jauh berbeda dengan hal-hal diatas lainnya, kita lantas beranggapan bahwa kita lebih baik, lebih bagus, dan orang itu tidak. Bahkan kita anggap dia itu ‘cemen’.

Atau contoh-contoh lainnya yang pastinya pernah terjadi dalam hidup kita.

Pendeknya, bahwa siapapun yang tidak ‘seberhasil’ kita dalam mengatasi hal-hal seperti contoh diatas, berarti mereka tidak ada ‘seujung kukunya’ dibanding kita.

Mempunyai rasa bangga, rasa puas terhadap keberhasilan-keberhasilan ini justru sebenarnya sangat perlu. Walau bagaimanapun, manusia memang harus memiliki pencapaian-pencapaian dalam hidupnya meski itu hal-hal yang kecil sekalipun. Itu hak masing-masing.

Tetapi alangkah amat disayangkan, jika keindahan dari kebanggaan akan keberhasilan-keberhasilan atau pencapaian-pencapaian ini menjadi rusak hanya karena kita berubah menjadi orang yang memandang mereka yang tidak seberhasil kita itu remeh. Ini adalah sebuah kesombongan. Apakah kita mau merelakan sesuatu yang kita capai itu berubah menjadi sebuah kesombongan? Dan apa yang kita capai itu pada akhirnya hanya menjadi sebuah ketololan belaka. Membanggakan sesuatu yang kita anggap sebagai sebuah pencapaian, tetapi malah jadi tidak ada artinya sama sekali, hanya karna kita menyombongkannya. What a shame..


Sebuah pencapaian, keberhasilan-keberhasilan, akan jauh lebih bermakna jika kita bisa lebih menghargaimya lagi dengan tidak merusaknya. Yaitu dengan tidak menyombongkannya. Dan bahkan sebenarnya ada hal yang bisa kita lakukan untuk mereka yang belum mencapai pencapaian yang sudah kita miliki sekarang ini. Yaitu tentu saja dengan memberikan mereka nasehat-nasehat atau saran-saran. Walau bagaimanapun kiat-kiat kita dalam sebuah pencapaian bagaimana kecilnya pun itu, sangat berguna buat mereka. Sebuah sisi positif kan? Dan yakinlah, pasti mereka amat berterima kasih karena ini.

Tapi perlu diperhatikan juga, cara yang kita pakai untuk ini. Apakah ujung-ujungnya ini malah membuat kita memang terlihat sombong atau memang sudah sesuai dengan porsinya. Dalam arti, kita tidak malah menjadi seorang yang ‘mentang-mentang’ atau ‘belagu’. Dan kita harus sadar betul itu.

So, biarlah kebanggaan itu tetap ada disitu. Hargailah pencapaian yang sudah kita raih itu. Dan satu hal lain yang sangat penting lainnnya adalah hargailah mereka yang belum sampai ke pencapaian yang sudah kita raih. Dan bukan berarti juga kita itu lebih hebat dari orang-orang yang kita anggap payah itu. Tidak ada satu apapun yang membuat kita jauh lebih tinggi dari orang lain, kan? You are not half a person you think you are, if you have this thought. Underestimate someone just bcoz they’re not as good as u are rite now? Oh.., please!

Ingatlah, we’ve been there before. Dan kini kita telah berhasil melewatinya!
Silakan berbangga. But be beautifully proud! Nikmatilah keberhasilan-keberhasilan atau pencapaian-pencapaian itu. Dan jangan pernah merusaknya.

Faking What You Like




If u like somethin’, then like it. Ga usah mikir apa pendapat orang tentang apa yang kita suka or yg jadi selera kita. Dan ga ada yang mengharuskan kita untuk suka ama sesuatu yg sebenernya ga terlalu suka, atau bahkan ga suka samasekali.

Sayangnya banyak dari kita yg ‘terpaksa’ malsuin selera kita sendiri. Salah satunya adalah malsuin selera musik atau hal-hal lain. Yah,.. biar dibilang keren, biar dibilang gaul, biar terkesan punya kelas, biar terkesan sophisticated, dan biar dibilang yang top-top lainnya. Padahal jauh didalam dirinya, kita tau (atau malah ga tau) kalo kita ga terlalu suka atau malah samasekali ga suka. Dan kita paksain untuk suka. Kata hatinya seolah dicuekin gitu aja.

Satu pertanyaan yang akhirnya ada adalah, ‘K E N A P A?’
Why are we faking something we actually like? Apakah kita harus ‘tersiksa’ dgn ga nurutin kata hati. Bahkan utk sesuatu yang bikin seneng sekalipun, selera kita? Seolah-olah kita ga tau apa yang kita mau. Kita seolah terikat oleh sesuatu yang sebenarnya ga harus mengikat. Kita lupa, bahwa ga ada peraturan yang mengharuskan kita menyukai sesuatu dan ga menyukai sesuatu kalo itu ada hubungannya dengan selera kita. Dalam hidup udah banyak banget hal yang kita harus lakuin. Peraturan ini lah, itu lah. Dan kita juga harus terikat dgn hal ini dan itu. Dan kita masih mau diatur dan terikat untuk masalah selera juga? Oh.. c’mon!!

Kita bebas nentuin apa yang kita suka. Screw with what they think about u just bcoz u like somethin’ u actually like! Never give a damn with that!

So, suka dangdut? Monggo. Suka penyanyi ABG? Ga ada yang salah dengan itu. Suka musik keroncong? Trust me, u don’t look old just bcoz of this. It’s all up 2 u, it’s all yours, just like it! U don’t have 2 fake it!

Well, be true to your self! Jangan mau tersiksa, dengan terikat-ikat, yang pada akhirnya kita malah malsuin selera sendiri.

This has been my thought since I was 14 years old. The classic one, the oldest one.

Tuesday, August 28, 2007

Believe, Trust, Faith and...(sstt)...Secret!

Kepercayaan adalah hal yang tidak mudah diraih. Buat sebagian orang, kepercayaan bisa jadi yang nomor satu. Apapun mereka lakukan asalkan dapat kepercayaan orang lain. Ada yang karna prinsip, ada yang karena menguntungkan diri mereka sendiri.

Sebuah rahasia bisa kita simpan baik-baik tanpa seorangpun tahu, asal kita tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Dan tentunya, kita hanya bercerita kepada mereka yang kita percaya.

Kepercayaan kita bisa juga sebenarnya dihianati. Kenapa tidak? Toh pada dasarnya mengelabui orang yg mempercayai kita adalah perkara yang sangat mudah. “Dia percaya ini ama gue.”
Dan kita mulai membuat sebuah rahasia baru, dimana kita tidak perlu khawatir orang yang tadi percaya pada kita akan curiga. Kita lupakan saja tentang kepercayaannya. Dan kita buat kepercayaan baru dari orang yang baru, untuk tetap saling menjaga sebuah rahasia yang terbaru. Atau : ‘jangan sampai ketauan si orang yg percaya ama kita itu’.
Dengan begitu, prinsip menjaga kepercayaan tetap ada. Meskipun artinya sudah tidak ‘sesakral’ itu lagi. Atau mungkin untuk menguntungkan diri sendiri? Bisa jadi!

Apalah artinya menjaga sebuah rahasia dan kepercayaan dengan seseorang, jika kita sebenarnya menghancurkan kepercayaan seseorang yang lain? Seolah kita lebih mementingkan sebuah kepercayaan yang diberikan orang lain, tapi merusak kepercayaan orang yang lain lagi.

Jika kepercayaan yang sudah lama terbina kini terkoyak, segala kepercayaan itu akan luntur. Percayalah.

Sudah Gaharu Cendana Pula

Kalo kita ga ngerti suatu hal atau kita bingung, kita nanya ama orang. Itu sih wajar. Tapi kalo kita sebenernya tau jawabannya, kita masih nanya… mm.. gue ga ngerti deh kenapa bisa jadi begini!

Ini yang kadang suka kejadian di kita. Kita suka menanyakan sesuatu, yg sebenernya ga usah ditanyain keorang juga, kita tau jawabannya. Kita tau apa yang harus kita lakuin. Kita tau untuk nentuin yg mana yg benernya.

Tapi kenapa kita masih suka begitu? Kalo menurut gue sih, itu karna kita suka melakukannya. Kita suka, kita menikmati saat pertanyaan tertentu yg sebenernya kita tau jawabannya itu, kita tanyain keorang. Rasanya seneng aja. Ya kan? Pasti hampir semua orang juga pernah begini.
Tapi ini semua gue kembaliin ke sudut pandang masing2.

Tentu aja, pertanyaan gue yg satu ini lebih baik ditanyain kediri sendiri aja. Ga usah ke orang lain lagi. Karna pastinya, jawabannya udah pada tau sendiri. ‘Gue gitu ga sih?’

Anyway, satu sisi lainnya adalah yg ditanya pertanyaan2 semacem itu. Mau jawab apa kita kalo posisi kita adalah yg ditanya? Apa yang harus kita jawab? Sementara, seolah kita tau kalo sebenernya yang nanya juga tau jawabannya. Yang ada kita jadi dengan setengah hati ngejawabnya.

Atau kalo kita mikir, kalo yang nanya itu emang beneran ga tau jawabnya. Kita jawab dengan susah payah, bahkan kadang jadi suatu pembahasan panjang. Padahal, ujung2nya adalah si penanya cuma mo menanyakannya aja. Atau cuma mo mengekspresikan pertanyaan2 itu dgn bertanya ke kita. Dan untuk hal yg satu itu, kita tau dari jawaban yg akhirnya dia jawab sendiri. Dan kita cuma bisa bilang, “udah tau nanya..”

Dan pada akhirnya, kita hanya buang2 waktu. Baik si penanya, apalagi yg ditanya. L

Ada pertanyaan?

The Donkey and Hole, The Stupidity and Chances



Hanya keledai yang jatuh dilubang yang sama.

Pernah denger kata-kata diatas? Pastinya pernah kan? Kalo yang belum pernah, artinya hanya orang bego yang ngelakuin kesalahan yang sama. Dulunya udah pernah ngelakuin kesalahan kaya gitu, eh malah sekarang gitu lagi. Kaya keledai kan? Kenapa keledai? Coz, keledai itu dianggap sebagai binatang yang bego. Gue sendiri sebenernya ga tau sebego apa keledai itu. Apakah terus ini menjadikan gue sebagai orang bego?
Hehe.. $%$^##$%^$#&@@!

Pastinya kebegoan yang keledai lakukan itu dengan jatuh kelubang yang sama adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga buat kita. Lebih baik hati2. Kalo udah tau ada hal yang sekiranya beresiko buat kita, lebih baik jangan dilakukan. Takutnya nanti kejadian hal yang sama. Ya kan?

Tapi apa jadinya kalo kita sebenernya menaruh kepercayaan bahwa hal itu ga akan terjadi lagi. Let say, kita punya temen hobinya ngutang. Udah berapa kali dia ngutang ama kita, tapi bayarnya meleseeeettt melulu. Bilangnya tanggal sekian, ga taunya tanggal sekian-sekian! Walau akhirnya emang dibayar juga. Tapi ga lama dia ngutang lagi. Aduhhh!

Secara wajarnya, orang pasti bakalan mikir sekian kali untuk ngutangin orang ini. Haloo! Yang kemaren aja bayarnya seret, tertatih, terseok, dsb, eh mo ngutang lagi?? Ga deh!
Tapi kita percaya! Kita percaya kalo dia ga gitu lagi. Kita percaya bahwa kali ini, dia pasti udah berubah. Dia ga bakalan bayar utang ke kita dengan caranya dia yang ngebetein itu. Makanya akhirnya kita kasih juga kedia.

Atau mungkin kasusnya yang lebih dalem, misalnya kita pernah ngenalin temen kita ama pacar kita, lantas dia tusuk kita dari belakang. Dan kita tau itu. Dan begitu kita punya pacar baru lagi, kita masih mau ngenalin dia lagi ke pacar baru kita? Hmmm….

Bukanlah sebuah kebegoan dari seorang yang mau ngasih utang or seorang temen yang mo ngenalin ke si backstabber itu yang perlu dijadikan sorotan. Atau ketololan macem apa yang dia punya. Tapi lebih ke orang yang diutangin dan backstabber itu, mikir apa engga. Itu yang penting.

Apa dia mikir kalo sebenernya dia itu lagi-lagi dikasih kesempatan utk mengubah dirinya utk jadi ga se-ngebetein or even ga sebrengsek itu lagi?

***
Jika ini pernah kejadian ama lo, ini adalah sebuah kesempatan utk mengubah diri lo. Jika ada orang yang pernah lo sakitin, terus tetep baik ama lo, dia bukan orang bego.

Jika lo pernah bikin kesalahan besar sekalipun, dan dia tetep ngasih lo kepercayaannya, sekali lagi, dia bukan orang bego! Hargailah dia. Hargailah kesempatan ini. Jarang banget ada kesempatan kaya gini dan kayanya jarang banget ada orang yang kaya gini. Gue sendiri salut kalo sampe ketemu yang begini. Dia punya kelapangan dada, kebesaran hati. And once again, kesempatan itu jarang banget!

Hmm, tapi mana ada orang yang udah di backstabbed or bahasa Indonesianya ditusuk dari belakang masih mo kaya gitu…?

Hehehehahahahahihihihihuhuhu… baru sekarang gue ngetawain apa yang gue tulis sendiri. Baru sekarang gue juga nulis yang gue sendiri ga bisa kaya gitu.
Jangan-jangan emang gue beneran bego.. ^%@^%$@%$^#$#@$@6

Thank You


Pernah sakit hati oleh orang yang kita cintai? Sepertinya hampir semua orang pernah. Dan kini, jika kita mengingat apa yang pernah dia lakukan ke kita, rasanya bagai sesuatu yang selalu jadi hal mengerikan. Suatu hal yang membuat kita sedih, menangis, dan tentu saja membuat kita semakin membencinya.

Didalam hati kita, sebenarnya masih ada dia. Tapi kita posisikan dia sebagai penjahat dihati kita. Bagai sebuah borok yang tak kunjung sembuh, atau sesuatu yang jadi nomor satu dalam hal yang jelek-jelek lainnya. Dan saat kita mendengar sebuah lagu yang liriknya mengatakan hal-hal yang berbau sakit hati akan cinta, seolah lagu itu khusus diciptakan untuk kita dan tertuju padanya. Walau kenangan-kenangan bersama dia yang indah tentu saja bukan hal yang terlupa. Bahkan mungkin sangat memorable.

Tapi lebih daripada itu ada hal yang tidak kita sadari. Bahwa kita sebenarnya bisa sangat berterimakasih padanya. Karena sebenarnya, dialah yang dulu pernah menjadi salah satu yang memberikan hari-hari terbaik yang kita pernah punya. Dengan dia, kita tau rasanya, apa yang orang lain rasakan pada saat kasmaran. Berada didekatnya, adalah hal yang utama. Karna jika kita berada didekatnya, kita tidak ingat apapun karena rasa bahagia itu sedang melanda kita. Bersama dia, kita tau rasanya menjadi orang yang paling bahagia didunia.

Apapun yang terjadi kini, meski dia sudah menjadi penjahat paling kacau dihati kita, setelah kita menyadari ada sisi yang satu ini, semuanya jadi tidak seburuk itu kan? Hopefully! And one more thing, berterimakasihlah. Paling tidak, dihati saja. And be grateful to God. Saya yakin, senyum kita pun akhirnya hadir.

Satu hal, saya tidak sedang menyarankan untuk kembali menjalin hubungan dengannya lagi tentunya. Hanya saja ini adalah sebuah sisi lain yang kadang kita tidak sadari. Karena kita terlalu asik dengan ‘menghukum’ dia dalam hati kita. Well now, just move on with your life and make everything in your life better.

Percaya atau tidak, terima atau tidak, dialah yang pernah menjadi salah satu yang memberikan hari yang terbaik yang pernah kita miliki.

As Dido’s lyric, … thank u, for giving me the best days of my life…

Friday, August 24, 2007

Stupid Game

U know what stupid game is? Stupid game is a game we play but it makes us more foolish than before. More stupid. Coz it is stupid.
Salah satu contoh adalah saling bikin jeles (cemburu, maksudnya!) antara dua orang yg jadian. Or ga jadian tapi saling bikin jeles. Karena, si cewe tau kalo si cowo suka en cowonya pun tau kalo si cewe juga suka. Tapi bukannya ‘jadian’, mereka malah saling bikin marah satu sama lain dengan berusaha bikin jeles. Dan mereka menikmatinya. Atau mereka yg jadian, tapi pas lagi ada masalah malah asik saling bales-balesan entah dengan caranya masing2, bukannya ngebahas masalah yg mereka hadapi yg sebenernya sedang terjadi. Silly, huh?


Atau ada juga yg ngerasa menang kalo udah bisa bikin orang yg selama ini bikin kita bete mau ngerjain sesuatu yg kita mau. Atau kasus laen, misalnya dua orang yg temenan yg saling bohong demi kedengeran paling keren. Dan terus-menerus saling bohong untuk nutupin kebohongan sebelumnya. Atau juga ada yg gimana caranya supaya temennya ga keliatan lebih keren dari dia sendiri. Ya, dgn bilang ini-itu yg dia lakuin or yang dia pake jelek misalnya. Padahal bagus banget. Atau temenan tapi selalu pengen jadi kebalikan temennya. Atau hal-hal bodoh lainnya, yang dijadiin ‘permainan’.

Ya, sebuah permainan. Sebuah permainan yg kita ciptakan sendiri. Dimana kita merasa kita harus menang dalam suatu hal, dan seneng kalo ngerasa sudah ‘mengalahkan sang lawan’. Ada kalanya kita kalah, en pada saat itulah kita jadi terpacu untuk kembali menang. Dan seringkali kita kejebak sama hal ini. Well, kalo aja permainan2 itu adalah sesuatu hal yang positif dan memacu utk kualitas kita, tentu aja it would be just fine. Tapi kalo hal yang dijadiin permainan itu adalah something stupid? Hmm, apa artinya? Ngapain juga?
Don’t u guys realize that there’s no use 2 do this? And u don’t have 2 do this. U don’t need this. Jangan pernah kita mau kejebak dalam sebuah permainan2 tolol yg pada akhirnya cuma bikin cape doang. Yang akhirnya cuma bikin kita ngurusin hal yang sebenernya ga usah kita urusin. Seolah kita hidup didunia yg isinya hanya ‘kejar-kejaran’ dan ‘bales-balesan’. Permainan yang ga ada usainya. Permainan yg ga ada hadiahnya. Yang kalah juga malah jadi makin bete, yang menang ngebanggain apa juga ga jelas. Hey, there’s more important thing than this damn stupid thing to do! And one more thing, apalah gunanya menang dari sebuah permainan tolol?

I'm Still In Love With You... (Yeah, Right!)

“If u see me with somebody new,
I’m not that stupid little person still in love with u..”


“Sebuah lirik yang bener-bener bagus.”
Itu yang langsung kepikiran ama gue pas dulu pertama kali ngedenger lagu yang ga taunya judulnya adalah I Will Survive ini. Lagu yang enak didenger, dan ga taunya liriknya dahsyat!


Ini jadi pikiran gue pada saat itu, tentang seseorang yang dikecewakan lalu akhirnya melupakan dan move on. Keren!

Well, tentunya ini adalah masalah cinta. Banyak diantara kita yang sakit hati gara-gara cinta. Pernah suatu kali gue dicurhatin abis ama temen gue tentang kisah cintanya. Hmm, bener-bener ga ngenakin. Temen gue ini seolah-olah diperlakukan kaya sampah. Dan bodohnya, dia masih aja cinta ama tu orang, yang udah jelas-jelas nyakitin dia. Actually, gue ga mau se-ekstrim itu sih utk menilai masih mencintai seseorang yang pernah bersama kita adalah sebuah kebodohan. Tentunya gue liat-liat dulu ceritanya kaya gimana.

“Tapi liat yang terjadi, apa dia masih cinta juga ama lo? Apa dia ngerasa lo satu2nya yang dihatinya sekarang ini? Ga kan?”, itu yang saat itu gue bilang kedia.
“Pernah denger quote dari film Moulin Rouge? ‘The greatest thing u’ve ever learned is just to love and be loved in return’.

So, love someone who loves u. Never give your love 2 someone who doesn’t love u back, ok? Ur love is so precious. Don’t be such an idiot!”, lanjut gue.

Dengan linangan air mata, dia minta ke gue untuk ga ngomong begitu. Tapi ini kenyataannya. Orang itu ga cinta lagi ama temen gue ini.

Sementara buat si yang masih dicintai itu, dia udah asik dengan hidupnya. Dia udah punya pacar baru. Dia udah ngerasain lagi apa yang dulu pernah mereka alami. Dan dia juga tau, kalo temen gue ini masih cinta ama dia. Dan tentunya makin gede kepala aja tuh orang!

Dan kadang-kadang, yang bikin heran, si mantan dari temen gue ini masih suka melakukan hal-hal yang seolah bikin dia itu ga terlupakan oleh temen gue ini. Pokonya seolah dia pengen nyampein pesan ketemen gue, “Jangan pernah lupain gue. Cintai gue utk selama2nya.”

Ini yang gue ga paham sama sebagian orang yang punya kelakuan kaya gini. Seakan-akan, dia adalah segala-galanya. Hey! Hallo!! Lo ga gitu2 amat kali! Dan ga semua orang bisa digituin! Begitu lo putus, lo adalah masa lalunya. Lo tinggal sejarah. Bahkan ada juga yang lupa ama lo. Mungkin lo mikir pada saat lo mutusin dia lo bisa memposisikan dia sebagai sahabatlah, sok2 sbg saudaralah atau bahkan temen tapi mesra. Tapi lo lupa, bukan lo sendirian yang nentuin hubungan itu akhirnya jadi gimana. Itu beneran!

Kita harus nyadar, bahwa dulu emang pernah ada orang yang pernah cinta ama kita, dan seolah2 takut banget kehilangan kita. But when it’s over, jangan sekali2 kita ngerasa dia masih cinta ama kita. Emang sih perasaan ini nyaman. Knowing that someone is still in love with u. Than u feel like u’re wanted, u’re the one in his/her mind, u still have some special place in his/her heart, he/she cries for u all the time. No, no, no! Buang pikiran konyol ini.

Ini adalah hal yang buruk. Sampe kapan kita mau membuai diri kita dengan pikiran yang satu ini. Dan udah saatnya kita nyadar, kalo ini cuma bagian dari bego-nya kita. Dan ujung-ujungnya, kita malah jadi orang yang gede kepala, dan bahkan yang mungkin lebih ekstrim adalah jadi pemimpi. As if someone says to u, ‘yeah right, go on lie to yourself!’

Jangan pernah kita manjain diri kita dengan pikiran kaya gini, meski mungkin dia emang masih cinta ama kita sekalipun. Ini bener-bener ga beres. Karna begitu tau ternyata dia udah ga cinta kita lagi, ini akan bikin kita kecewa. Entah disadari atau tidak, entah diakui atau tidak. Ini seperti punya semacam harapan atau keyakinan yang sebenernya ga bisa dijadiin keyakinan apalagi harapan.

See, what actually I’m trying 2 say is kalo emang ada orang yang masih cinta ama kita meskipun dia udah ga sama kita lagi, lebih baik kita ga usah merasa masih dicinta aja sekalian. Ini adalah pemikiran yang ekstrim memang, tapi ini baik. Sangat baik. Kita jadi ga manja or terbuai dan ngerasa ada yang jadi sandaran kita atau apapun itu. In fact, this would make u stronger. Karena umumnya, cinta orang yg bukan milik kita lagi sudah pasti akan memudar.

Mungkin dalam banyak kasus, hal kaya gitu masih sering terjadi. Saat seseorang udah ga memiliki kita lagi, dia masih cinta ama kita. Dan kita masih dalam pola pikir yang sama, bahwa mantan kita sampai kapanpun akan selalu cinta ama kita, karna dulu mantan2 kita sebelum yang ini emang selalu gitu. Tapi sekali lagi gue mo bilang, “Hey!! Hallo!! Stop it!”

Dan satu lagi, baik buat yang ngerasa masih dicintai dan yang emang masih mencintai, move on lah. Never let it plays game with ur mind or even ur life. No way!
Dan temen gue yang tadi curhat ama gue langsung tersadar. Apa yang dia lakukan selama ini bener2 bego. Masih cinta? Ya elah.. !

“Udah saatnya gue berpikir kalo gue lebih baik move on with my life. Dan tunjukin kepada dunia, siapa yang paling bego diantara gue ama dia. Dia yang masih ge’er karna masih ngerasa gue cinta ama dia, atau gue yang ga bisa kemana-mana! Engga banget! Gue ga boleh kaya gini.”, katanya dengan penuh keyakinan. Hmm, yang ada gue malah jadi senyum ngeliat dia.

Yes, my dear friend, u’ll survive. U’ll be stronger than right now. U’r a fighter! I trust u 4 that! And I really do hope ur ex, that jerk, would get it 4 real.

Dan ‘klik’, gue puter lagi MP3 lagu indah yg kini di daur ulang ama Cake itu..

“And so now, walk out the door
just turn around now
coz u’r not welcome
anymore...”

Thursday, August 9, 2007

No More Narrow Path



Ade bocah namanye Adi. Umurnye kire2, sepuluh taonan gitu dah. Anak klas empat esde pan kire2 segituan umurnye! Rume si Adi ame sekolenye kaga jauh2. Kalo pagi nih, tiap die berangkat, die cume jalan kaki. Kaga ngongkos! Mo berangkat, mo balik lagi kerume, ye jalan aje. Jalan nyang die liwatin saban harinye juga same aje. Ntu2 mulu! Dari rumenye, die tinggal lurus, trus belok kiri, trus kanan, trus lurus lagi. Kaga ade istilah kate ‘telat’! Kalo kate orang bule, ‘on time’!

Alesan die mangkenye kaga pernah lewat jalan nyang laen, soalnye dari dulunye emang die lewat situ mulu. Tuh anak demen bener ame nyang namenye liwat situ! Soalnye, selaen karna alesan nyang tadi, die ngerasa tuh jalan emang nyaman bener buat die. Kaga ade bocah edan nyang hobinye malakin anak orang, kaga juga ade nyang namenye anjing rese, nyang kite kaga ngape2, tau2 ngejar. Pokonye nyamaaaan bener! Pokonye kaga ade nyang ganggu.

Tapi suatu hari, dijalan nyang biase die liwatin ntu, ade rume nyang kalo kate orang gedongan, di ape’in tuh… ee..,renopasi! Dibenerin gitu! Didandanin biar cakep! Segale debu pade betebaran. Belonan puing2. Pokonye berantakan bener dah! Trus kayu2 nyang ade pakunye. Mane pade bekarat. Nah, kalo paku bekarat pan, kalo nuncep bahaye!
Tapi tu anak, tetep aje liwat situ. Soalnye die pikir tu jalan emangnye ude jalannye die saban hari. Biar kate ujan badai (cieee..basenye!), tetep aje die liwatin ntu jalan. Padahal ude berape temen nyang ngasih tau jangan liwat situ. Trus untuk sementare, liwat aje jalan nyang laen. Tapi kaga! Die ogah bener dengerinnye. Ni jalan, emang ude kudunye die liwatin. Gitu nyang die pikir.
Akhirnye sih tuh rume nyang tadi direnopasi kelar juga. Tapi ntu jalan nyang emang tadinye ude sempit, jadi lebih sempit lagi. Dikit. Belon lagi cet rume nyang dipake ame nyang punye rume nyang nempel gitu ame baju. Nah berhubung baju seragam si Adi putih, ya kaga ngaruh. Mo nempel kaye ape juga tetep aje putih2 juga! Cuman emang jadi rade kaya orang bedakan aje dikit ntu baju. Hehe..! Tapi laen urusan kalo ame celanenye. Celane anak esde pan mere. Nah kalu emang kena cet tembok nyang warnenye putih, ye belang-bentong urusannye! Ya ude, saban abis liwat situ, die pasti tepok2 pantat deh! Bukannye genit, ye! Dari pade die malu, ntu celane warnenye beda ame temen2 sekolenye!

Kalu orang mikir mah, pastinya kaga gini2 amat! Mase iye sih, ntu jalan ude kaye gitu masih aje diliwatin! Padahal jalan nyang laen ade.

Tapi ini ni nyang jadi hal nyang kadang kejadian ame kite. Kalo kite kebiase ame satu hal nyang ntu2 mulu, kite gitu2 mulu. Nah contohnye si Adi ntu. Ude suse, masih aje liwat situ. Die pikir, kalo ude disitu, ye disitu mulu.

Bagusan mah kalo emang kita kudunye berube, ya berube. Jangan kita kepatok aje ame nyang ntu2 mulu. Misalnye lagi contohnye kalo kite demen ame orang. Ntu orang kudunye kaye nyang kite demen tempo hari. Ame dedemenan kite nyang dulu. Pacar gitu! Tapi nyang duluuu. Nyang jamannye masih baru-baru pacaran dulu. Jamannye kude gigit rempeyek. Sekarang pan jamannye kude gigit d’crepes (hiyy.. garing ya?). Sementare dedemenan kite nyang sekarang beda bener! Dari gayenye, carenye dia cinte ame kite, carenye die ngeladenin kite. Semue beda. Nah akhirnye kite banding-bandingin dah! Pas rasenye ude mentok ame nyang beda-beda gitu, kite malah jadi puyeng. Jadi ‘bete’ kalo kate bocah jaman sekarang. Kitenye kepengenan punye dedemenan nyang same ame dedemenan kite nyang dulu.

Ato misalnye lagi, kalo kite gawe. Kudunye kite gawe nyang begini, begini, begini. Emang dari awalnye sih kite bise terime-terime aje kalo kenyataannye gaji kite kecilan, misalnye. Tapi nyang biase kite lakuin dikantor lame, nyang begitu-begitu, eh kite banding-bandingin ame nyang dikantor sekarang. Pas rasenye kaga nyambung ame nyang kite pikir, ya ude kitenye jadi bete!

Ato mungkin juga contohnye lagi, betemen. Temen kite dari dulu nyang modelnye ntu-ntu aje. Nah, pas ade nyang beda dikit, kite kaget! Mending kalu bisa nerime-nerime aje, nah kalu buntut-buntutnye kite malah jadi rese ame die karna kaga same ame kite? Belon lagi, kite malah nganggep die aneh.. ya elah.. kite ude bikin orang laen bete, kitenye pikirannye mampet, kaga bise liat nyang beda dikit. Emangnye orang kudu same-same aje?

Pole pikir kite kudunye emang kudu ngikutin jaman ame ngikutin keadaan. Kaga bise kite tetep nyang begitu2 aje. Kite kaga bole kepatok ame nyang dulu-dulu. Hidup ini dinamis coy! (iih..gariiiing!) Kaga nyang gitu-gitu mulu. Pasti berube-berube. Walo kadang, kite juga kudu maksain dikit untuk itu. Emang maksain untuk bise itu tokcer bener khasiatnye. Kite emang bise berhasil dalem banyak hal juga dari maksa. Hehe.. nyadar kaga lu?

So, we should always be ready for the changes in life. And don’t ever let urself, stuck in the same kind of thought when it has anything to do with what u used to have. Hehe… base englis gue gimane? Maapin dah, kalo ade sale-sale kate.

Intinye, jangan mau kite dibates-batesin ame pole pikir kita ndiri. Kalo nyang kite pikir kaya gitu, berarti kudunye harus gitu-gitu mulu. Coba deh kite pikirin hal yang jauh lebih meluas. Kaga ade salenye. Malahan bagus!

Percaye deh, nyang namenye berube kaga selalu jelek. Kite juga ga usah bener-bener ninggalin nyang selame ini kite punye. Kite bole punye apa nyang kita pikir ideal buat kite, tapi kudunye kite pleksibel. Kesono-sini bise. Mau tetep idealis, bole-bole aje! Asal ya ntu tadi, pleksibel! Gitulah pokonye! Hehe,..pinteran dikit!

Ya ude, balik lagi ame si Adi tadi, sekarang ntu anak ude berube. Die kaga liwat ntu jalan lagi. Abisnye tu jalan akhirnye ditutup ame nyang rumenye tadi direnopasi. Katanye, kalo malem disitu suka dijadiin tempat mesum. Hiiyy.. bikin dose disamping rume orang. Dijalanan sempit lagi!

Akhirnye si Adi mau kaga mau kudu liwat jalan nyang laen. Emang ude saatnye die berube. Awalnye sih, die rada kaget dah tuh. Tapi lame2 bise terime juga. Emaknye bilang, ntu anak kudunye rada dipaksain dikit biar bise. Ya, emang bener juga tuh emaknye si Adi. Rada dipaksain dikit kaga nape. Pastinye emang entarannye bise. Emang kite kadang kudu maksain diri supaye bise. Hehe, kaye nyang gue bilang tadi. Rada dipakse biar bise.

Hmm, gitulah. Gue mau ngupi2 dulu. Emaknye si Adi pan punye warung kupi.
“Mpo! Kupinye atu! Ame ruti! Pisang goreng mah saya ude bosen! Ruti, ‘po! Rutiii…”

Walau bukan orang Betawi, bahasa Betawi gue bagus kan? hehe..
Special thanks to Om Jeje & Unee :)

Tuesday, August 7, 2007

U Raise Me Up.. (But If U Don't, It Means Goodbye)

Suatu pagi seperti biasa gue nungguin angkutan umum untuk berangkat kekantor. Pagi itu macet banget. Udah sekitar setengah jam disitu, angkutan umum yang gue tungguin ga ada juga. Tiba2 lewatlah temen gue yang satu sekolah ama gue dulu, dengan motornya tepat didepan mata gue. Hmm, lucky me! Akhirnya gue jadi bareng ama dia.


Dan selama perjalanan kekantor itu kita ngobrol. Obrolan kita tentunya tentang kabar terakhir kita. Selepas smu sih kita tetep ketemuan, tapi emang udah beberapa bulan terakhir ini kita ga ketemu2. Bukan karna kita saling sombong, ga mau tau dan sebagainya. Tapi emang buat kita, itu sih wajar2 aja. Walau ga ketemu or sekedar sms sekalipun, kita tau kita ga lost contact. Kita tetep temenan. Ya, temenan. Temenan dalam arti kata yang sesungguhnya. Bukan karna dia siapa, gue siapa, apa yang gue punya, apa yang dia punya, naik apa gue kalo berangkat kerja, naik apa dia kalo berangkat kerja, bisa kenal siapa dia lewat gue atau sebaliknya, dan segudang alasan2 lainnya yang bikin orang mengatakan mereka saling berteman.

Dan dari obrolan itu akhirnya sampailah kita ke obrolan tentang seseorang. Seorang temen kita. Atau mungkin lebih tepatnya temen kita tapi pake tanda kutip. ‘Temen’. Walau entah kenapa dia baru cerita saat itu.

Dia cerita ke gue kalo dia bete ama ‘temen’ kita yg satu sekolah waktu smu dulu. Masalahnya adalah beberapa bulan setelah lulus2an, temen gue yang satu ini pernah main kerumah ‘temen’ kita itu. Selama hampir seharian main kerumah ‘temen’ kita itu, ngobrol ga jelas gimana (karna saking lamanya), temen gue yang satu ini ternyata ga diundang ke pesta ulang tahun ‘temen’ kita itu, yang ga taunya ngundang temen2 lainnya. Padahal itu besok malemnya!

Wow! Amazing ‘kan? Lantas seharian ngobrol gitu, ga satu katapun yang nyinggung2 soal ultah? Kalo dibilang temenan, mereka emang temenan. Satu sekolah en bisa dibilang akrab. Buktinya sampe bisa main kerumahnya dan ngobrol seharian? Ya kan? Dan bukan hanya dia aja, gue juga ga diundang. Padahal, gue juga akrab sama ‘temen’ itu.

Siapa yang salah kalo kaya gini? Kita, atau ‘temen’ kita itu? Emang sih hak dia mo ngundang siapa yang mo dia undang ke pestanya. But hallo?? Aren’t we one of those? Kalopun emang kita lupa juga, gue pikir wajar2 aja. Toh kadang kita juga suka lupa tanggal berapa hari ini. Ya kan?

Gue ga marah or kecewa ama kenyataan kaya gini. Yang ada gue malah ketawa. Ketawa satir. Ternyata kita emang ga dianggep ama dia. Mungkin emang ada kriteria yang kita ga bisa penuhin saat itu utk bisa jadi temen buat dia. Mungkin yang dia liat kita bukan temen yang ‘bring something’ buat dia. Maksudnya, secara spesifik kita ga bisa jadi temen yang bikin dia diliat ‘lebih’ dibanding temen2 lainnya. Or stuff like that.

Anyway, apakah gue salah atau terlalu kasar klo akhirnya gue menyematkan tanda kutip dikata teman setiap kali gue nyebut dia? Oh ‘teman’-ku.

It gets me thinking, kenapa sih kita bertemen aja milih2 or tepatnya kalo bertemen tuh harus liat2 dulu, bisa nguntungin atau engga, bisa ‘bawa’ apa kita buat dia. I mean, kalo bertemen tuh harus karna dia siapa, gue siapa, apa yang gue punya, apa yang dia punya, or bisa kenal siapa dia lewat gue atau sebaliknya, dan segudang alasan2 yang bikin orang mengatakan orang saling berteman.Temenan macem apa ini?

Or misalnya dikalangan anak smu. Kriteria sebagai temen tuh harus terpenuhi dulu. Let say, lo harus populer, bintang basket, anak gaul, tajir, dan macam itulah. Kalo engga, ya ga temenan! Pokonya harus bisa bikin kita keliatan ‘lebih’ lah dimata temen2 lainnya. Hehe, ga menyamaratakan lho ya! Tentunya ga semua anak smu kaya gini.

Well, balik lagi, umumnya gue en temen gue yang bareng ama gue ini sih diundang kalo ada yg pesta. Cuma ya itu tadi, mungkin buat ‘temen’ kita yang satu ini, kita emang cuma ya.., the next best thing lah. Which I don’t give a shit with it actually, or with her especially. Oops, did I just mention ‘her’?

Satu hal, yang mungkin harusnya ga ada adalah yang begini ini. Temenan tapi milih. Specifically, bisa nguntungin atau engga. Kalo engga, ya get the hell out of my life, deh. Yah,.. apa mau dikata, yang kaya gini sih udah terlalu sering terjadi.

Anyway, gue ga mengatakan kalo harusnya bertemen ama orang yang ga nguntungin samasekali, ya! No! I do believe that u know exactly what I mean.

***

Dan akhirnya, sampelah gue kesebuah halte busway dimana gue harus naik untuk nerusin ke kantor gue. Dan kita misah sampe disitu. Dia lantas ngelanjutin sampe kekantornya, dan gue naik ke jembatan super musingin yang panjang en muter2 itu, sambil mikir tentang masalah tadi itu. Tapi tentunya ga sampe panjang, muter2 apalagi musingin gue. Lagipula, gue emang bukan anak smu lagi, dan juga ga pernah terlintas dipikiran gue utk milih2 temen dari dulu kalo itu berdasarkan dia bisa bikin apa buat gue dan sebagainya seperti gue bilang diatas. Kalopun milih ya, bukan yang kaya2 gini.

So, mo temenan ama gue? Monggo...

Right To Angry


Marah itu hak siapa aja kan?

Tapi kenapa kalo ada hal yang ga ngenakin terjadi ama gue trus gue ga boleh marah? Ada orang yg melakukan hal yg seenaknya ke gue, ngomong seenaknya, bikin ini itu seenaknya tapi seolah2 itu oke2 aja buat gue?


Dan pada akhirnya gue ga terima. Dan tentu aja, gue marah. Marahnya gue juga bukan kaya orang yg kebakaran jenggot. Gue diem aja.

Gue cenderung menghindar? Pernah juga. Gue ngirim sms yg ngasih tau gue ga terima? I did it. Gue negor langsung? Kenapa engga? Trus gue berubah sikap? Percayalah, ini yg paling sering.

Tapi semua itu akhirnya bermuara pada satu hal, yaitu gue disalahin. Gue lantas dijadiin orang yg dibilang ga pantes utk punya reaksi begitu. Pake bawa2 gue tuh sensi segala lagi! Atau jangan2, some of them may think that it has something 2 do with my knowledge and the educations that I have!

What a shallow thought!

One thing 4 sure is, I know what’s the difference, which one is the big deal and which one is not. And in my case I always let them know what thing that actually makes me mad. And of course, the big deal one.

***
Well, what I’m trying to say is, coba lah.. ketuk hati masing2 utk mempertanyakan, sejauh mana kita anggap diri kita lebih tinggi dari orang lain? Kenapa kita ga pernah mikir kalo kita ama orang lain sama aja? Sama2 punya hak diperlakukan baik, dan tentu aja punya hak utk marah.

Ini bukan berlaku sama gue aja, tapi semua orang. Semua orang2 yang ada dlm hidup kita. Apa selama ini kita pernah mikir bahwa mereka punya hak utk marah yg sama kaya kita sendiri? Kalo kita diperlakukan ga bener, kita marah. Tapi kalo kita memperlakukan orang ga bener, kita cuek aja. Apa yg buat kita ringan, belum tentu buat orang lain itu ringan. Dan tentu aja mereka punya reaksi. Dan marah adalah salah satu bentuknya. Dan begitu mereka marah, kita anggap mereka sebagai orang yg ‘macem2 aja’, ‘kelewat sensi’, atau bahkan nganggep mereka udah sinting.

C’mon, everyone is equal!

Just open up your mind and heart, that u should respect no matter who they are. And yes, you’re not the only one who has feeling here.

This one is dedicated to those who are being underestimated. Just wake up! You have right to get mad!

Lie To Yourself

“Dia cinta ama gue,

dia ga cinta ama gue,

dia cinta ama gue,

dia ga cinta ama gue,

dia cinta ama gue…

aha.. dia cinta ama gue!!”


Senengnya kalo kelopak bunga yang terakhir ternyata pas banget di bagian ‘dia cinta ama gue’. Wah, rasanya kaya abis ditembak ama orang yang kita suka. Atau apalah yang lainnya. Pokonya berbunga-bunga. Padahal bunga benerannya baru aja abis, karna dicabutin kelopaknya.
Ada juga satu lagi. Yang ini kayanya sih jadul banget. Berdasarkan toke. Iya toke, binatang yang suka bunyi “toke…toke.. “

Kalo ganjil bunyinya berarti ‘ya’, kalo genap berarti ‘engga’ (Atau tebalik ya? Pokonya antara ganjil atau genap, deh! Hehe..). Dan kita punya pertanyaan yang indah, kaya cinta-cintaan diatas. Dan ternyata, si toke bunyinya ganjil! Wahhh… kita langsung girang.. ihiii... asikkk!!!

Well, bukannya dapet kenyataan, eh malah ngebunuh bunga. Sayang banget kan? Bunga bagus-bagus, malah kelopaknya dicabutin. Trus, toke lagi..hiiiyy..

Tapi, peduli amat kalo emang si toke berhenti bunyi pas itungan yang dianggep salah, atau kelopak bunga terakhir yang kita cabut pas kita bilang, ‘dia ga cinta ama gue’. Kita tinggal ubah aja, jadi yang enak didenger. Paling engga, enakan juga kalo kita mikirnya yang enak-enaknya. Ya, tinggal ubah. Dari yang ga enak didenger, jadi yang enak didenger. Dari yang ga enak dipikir, jadi yang enak dipikir. Kita bohong-bohong ajalah!

Hmm, mungkin kita emang bukan berpatokan sama kelopak bunga yang mengenaskan karna dicabutin itu, atau mungkin sama toke, yang justru malah kedengeran serem dibanding indah, tapi sama pikiran kita sendiri.

Kita sering punya pemikiran yang bisa dibilang, nyenengin diri sendiri. Menghibur diri sendiri. Ya tepatnya, ngebohongin diri sendiri gitu.

Ini mungkin adalah suatu hal yang sebenernya kita sadarin banget. Tapi kita suka begitu. Kita rela bohong. Dan itu demi ngerasa nyaman.

Kita permainkan diri kita sendiri dengan kebohongan-kebohongan yang kita ciptain. Dan semua itu kita ciptain sendiri, untuk diri sendiri. Hmm, contohnya kasusnya ya, misalnya cinta-cintaan itu tadi. Kita ge’er-ge’erin diri kita sendiri. Atau hal lainnya yang intinya ngebohongin diri kita sendiri.

“Dia tadi kesini, trus senyum ama gue. Kalo ama orang lain, senyumnya ga gitu-gitu amat lho!”

“Semua itu bukan gue yang berbuat, tapi entah kenapa, ada sisi lain dari diri gue yang bikin gue jadi kaya gitu.Aslinya sih, gue ga gitu!”

“Ya, alesan kenapa dia nolak gue ya karena dia mantannya temen gue. Kalo engga, pasti kita udah jadian. Dia ga enak lah ama mantannya, yang temen gue juga itu.”

“Gue tau kok, dia tuh sebenernya masih cinta ama gue. Gue tau aja, dari ekspresinya kalo difoto.(Lha???)”

Kita tau pasti, kalo kita misalnya emang ga ngedapetin hal ini dalam kenyataannya. Tapi kita emang lebih suka ngedenger yang lebih manis dari pada itu. Paling engga, kita denger yang sedikit ada polesannya. Supaya lebih enak, lebih manis, dan semacemnya. Supaya kita ngerasa ya.., mendingan lah. Padahal kita juga nyadar banget kalo itu tuh ga bener. Dan jadilah kita seorang pembohong. Bohong terhadap diri sendiri..

Manusia emang pada dasarnya suka segala sesuatu yang indah. Atau tepatnya disini, ngedenger yang indah-indah. Cerita yang indah-indah. Kata-kata yang indah-indah. Makanya banyak didunia ini kita denger kata-kata mutiara, wisdom words dan sebagainya. Tapi sayang, kata-kata mutiara kaya gitu jadi kita ciptain sendiri untuk diri kita sendiri tapi dengan ‘versi yang berbeda’.

Terus yang lebih parah lagi, buntut-buntutnya kita malah meluas ngebohongnya alias jadi keorang lain. Yang tadinya cuma ngebohongin diri sendiri, jadi keorang lain yang kita ceritain misalnya. Ada suatu kejadian yang terjadi ama kita, terus kita ceritain ke orang lain. Tapi dengan polesan cerita disana-sini. Ya, seperti contoh tadi diatas, biar terdengar lebih manis. Lebih enak didenger. Dan mungkin yang terparah adalah ya itu tadi, jadi super bohong. Super ngibul. Dan tentunya versinya jadi lain banget. Dan parahnya lagi, ke orang lain! Terus abis itu, terus ngebohong lagi, lagi, dan lagi.. wahhh… stop it!

Hmm, alangkah baiknya kalo sebaiknya kita menghentikan aja yang kaya gini.
Sepahit apapun kenyataannya, emang lebih baik diterima aja. Ga ada yang salah dengan itu. Toh, kita juga harus percaya, kalo udah saatnya ada sebuah cerita atau kejadian yang manis, pasti akan dateng juga ke kita. Dan menjadi cerita kita tanpa ada sedikit polesan apapun agar terdengar mendingan yang supaya kita ngerasa lebih baik. Tenang aja deh, someday kita juga akan mengalami hal-hal yang indah itu. Dan ini, bukan bohong!

Hmm.. Feel good by lying? No way.

Kacang Kulit.. Kriuukk...Kriukk..

Gue ama temen2 gue sering ngumpul2. Kalo kita lagi ngumpul2, paling2 kita biasanya nonton dvd bareng, atau mungkin hanya sekadar ngobrol2 aja. Bisa2 sampe pagi. Dan kalo lagi kaya gitu, ada satu makanan kecil yang ga pernah absen nemenin kita. Yaitu kacang kulit! Kriuk.., kriukk…, wah seru! Harganya ga mahal, enak, udah gitu banyak (hehe.. bukan pelit!). Dan pastinya emang kacang kulit tuh pas banget untuk temen ngumpul2 gitu. Siapa peduli ama mitos kalo jerawat konon bakalan nongol, or katanya juga bikin sakit perut. Pokonya kacang kulit is the best lah. Hehe..


Padahal kalo mo tau, sebenernya mitos bahwa kacang kulit bikin jerawatan ternyata itu bener. Paling engga, itu terjadi di gue. Kebayang ga, sibintik2 merah rese itu tiba2 hadir ga pake permisi dipipi kita? Belom kadang2 suka gatel. Pastinya muka kita bakalan tak seindah biasa. Belom lagi bekasnya. Waduuhh.. rese!

Tapi kalo ngomongin kacang, ternyata ga cuma sebagai temen ngemil atau mitos tentang jerawat aja. Ada sebuah peribahasa yang mungkin dari kita SD juga udah pernah denger. Kacang lupa akan kulitnya. Artinya antara lain adalah orang yang udah ditolongin, dibantuin selama ini, malah jadi kurang ajar. Malah jadi songong. Ngelupain kita yg udah nolongin dia selama ini. Padahal kalo inget dulu, dia tuh bukan siapa2 tanpa bantuan kita. Kurang lebih begitu.

Contohnya gini, misalnya kita punya temen yang pengangguran. Kita lantas tolong dia. Ya, dengan mengajak dia kerja sama bisnis misalnya. Itu kalo misalnya dia punya keahlian tertentu. Atau mungkin, kita kasih tau dia lowongan kerja. Ya bisa ditempat kita kerja, atau mungkin ditempat lain yang kita tau kalo ditempat itu ada lowongan.


Akhirnya, dia bukan pengangguran lagi. Hidupnya udah ga diisi sama hal2 yang ga jelas lagi. Dia udah punya rutinitas sekarang. Dan pastinya, dia udah punya duit! Hehe..!
Dia bisa beli apa aja yang dia mau. Dia bisa jalan kemana yang dia mau. Atau bahkan, dia bisa maju atau malah dia udah beneran maju! Wah, sukses deh! Dan kalo ditelusuri mulanya, itu semua bermula dari kita.

Dan alangkah baiknya, kalo si sukses itu ga lupa ama kita. Yah, paling engga kita diinget aja. Ga lebih.

Satu hal yang pasti, kita sebagai orang yang udah jadi si penolong bukan ngerasa diri kita berjasa atau apa, tapi kalo emang justru lantas kita malah diperlakukan ga baik, tentunya kita ga terima kan? Sekadar sakit hati lah mungkin. Well, kita ga ngapa2in aja bakalan bete kalo disongongin, ini malah yang udah kita tolongin? Weleh..weleh…!

Hmm, hal kaya gini udah banyak terjadi. Dimana kita sering nemuin orang yang udah kita bantuin dulu, saat dia bukan siapa2, sekarang berubah jadi orang yang ngelupain jasa2 kita, or even songong ama kita! Atau bahkan jadi ga mau kenal lagi ama kita! Kecewa? Pastinya!
Tapi kalo dipikirin lagi, sejauh mana kita juga liat diri kita sendiri. Apa bener kita udah jadi orang yg berjasa itu? Trus, kalopun ternyata kita emang bener2 jadi si berjasa itu, apakah kita juga bisa menjaga diri kita untuk ga lantas jadi orang yang pantes ngerasa berjasa atau parahnya, mentang-mentang?

Oke lah dia tuh dulunya gembel, sekarang sukses. Itu karena kita. Oke lah, dia dulunya luntang-lantung ga karuan, sekarang bisa jalan2 keluar negri. Itu gara2 kita. Trus kita gede kepala dengan ngerasa super berjasa?

Contoh terparah dari ngerasa berjasa ini bisa jadi adalah kita ngerasa berhak utk mungkin memiliki sebagian dari harta orang yang udah kita tolongin itu. Berhak minta ‘pajak’ dari hasil kerja dari orang yang udah kita tolong, atau mungkin hal yang terkecil, merasa berhak minta beliin sesuatu dan mungkin juga nentuin dimana kita akan ditraktir makan olehnya pas gaji pertama.

Yang terjadi akhirnya adalah orang yang pernah kita tolong bukanlah orang yang pantes dijulukin kacang yang lupa ama kulitnya. Tapi kita lah yang menjadi kulit yang jadi belagu. Mentang-mentang. Ngerasa diri kita pantes untuk jadi ini itu, ngerasa diri kita berhak punya hak khusus, dan pastinya ngerasa berjasa. Super berjasa.

Inilah yang sering terlupa, bahwa kita kalo udah nolongin orang jadi lupa diri. Kita ngerasa jadi orang yang gue sebut diatas, merasa berjasa. Kalo hanya berbangga that would be just fine. Tapi kalo lantas jadi merasa ini-itu? Dan bisa jadi, kalo orang yang pernah kita tolong lantas bener-bener ngelupain kita yang udah nolong, itu karena kita emang bikin salah ke dia. Kita sakiti dia, misalnya. So, apalah artinya pertolongan yang udah kita perbuat untuk dia dulu? Semua itu hanya sebuah cerita usang yang ga ada gunanya. Semua udah terbalas oleh perbuatan kita sendiri dengan menyakitinya.

Anyway, gue ga lagi ngomongin tentang kalo udah nolongin orang mendingan diikhlasin aja. No! Gue yakin, yang kaya gitu nene’-nene’ gondrong bertato juga tau! Semua orang juga udah emang harus begitu.

Well, gitu lah. Yang terbaik sih emang kalo kita ditolong orang kita jangan sampe lupa ama jasa-jasanya. Tapi yang pernah nolongin juga jangan rese! Se-rese temen gue yang ngabisin kacang lebih banyak daripada gue, padahal gue yang beli!!! Hehe..!
Eh, dia cuma ketawa en dia bilang, “Lo kulitnya aja deh!”
“Heh, lo lupa kalo itu gue yang beli?”, gue ga mau kalah.
“Heh, lo lupa kalo gue yang ngenalin lo ama pacar lo yang sekarang?”, katanya.
(???? .. ekspresi: muka bingung dan binal). Lha kok jadi merembet kemana-mana?
“Lo lupa kalo lo dulu ga punya tempat kabur selaen disini?”, gue tetep ga mo kalah.

Huahahahahaha…… ga ada yang lebih garing dari pada pertengkaran ga penting ala kita ini.. tapi walau gitu, enakan juga garingnya kacang kulit..
Hmm, “.. kriuk..kriuk..”

Reverse Version of a Friend

Dita dan Gwen adalah dua orang yg bersahabat. Dita suka bgt sama warna hitam. Sedangkan Gwen suka bgt sama warna putih. Selera Dita ttg cowo adalah seorang cowo yg rambutnya cepak, sementara Gwen suka yg gondrong2. Kalo hidup Dita suka yang serba teratur, Gwen laen lagi, Gwen suka sesuatu yg berubah2.

Well, it seems those things I said above biasa aja. Dan mereka berduapun ngejalaninnya dgn baik2 aja. Ga ada sesuatu apapun yg pantes buat dibahas. Apalagi diributin.
But, one day everything changes. Dita mulai ngerasa kalo Gwen, sahabatnya itu seolah2 pengen bgt yang namanya ‘ngalahin’ dia. Jadi saingannya.

Dita bukan tipe orang yg suka bersaing. Dan ga pernah juga ribet sama urusan ‘ngalahin’ or ‘dikalahin’ sama orang lain. Cuma lama2 entah kenapa Dita jadi ngerasa keganggu dgn ‘persaingan’ itu. Gwen mulai bikin hal2 yang aneh. Terutama ttg selera. Kalo emang dari dulu Dita suka sama warna hitam, trus Gwen putih itu udah bukan hal yg aneh lagi. Tapi setiap apa yg Dita lakukan, Gwen seolah2 ga mau kalah dgn melakukan hal yang sama cuma kebalikannya.

Salah satu contohnya gini, ngecet rambut buat Dita adalah hal yg nyenengin. Dia seneng bgt kalo rambutnya agak kecoklat2an. Dan baru2 ini, Dita baru aja –utk kesekian kalinya- ngecet rambutnya lagi. Dan Gwen besokkannya ngecet juga rambutnya jadi super item. Dan mereka yg biasa jalan berdua kemana aja pake sendal teplek or kadang2 sepatu, tiba2 Gwen make yg super beda dari Dita, sendal jepit. So, yang ada pas mereka jalan berdua gitu, timpang aja jadinya. Yg satu pake yang bagus en rapi, yg satu cuek abis. Malah pernah suatu hari mereka pengen jalan bareng rame2 ama temen2 mereka yg lain. Dan mereka harus ngumpul dirumah salah satu dari temen mereka, Rachel. Kebetulan Gwen lebih dulu sampe disana daripada Dita. Setelah ngobrol2 sebentar sambil nunggu yang lainnya dateng, akhirnya mereka siap2 mo jalan. Dan pas mo masuk kemobil, tiba2 Gwen bilang sama Rachel mo minjem sendal jepit. Dita ga nyadar ama hal ini. Pas mereka udah sampe ketempat yg mereka tuju, Dita baru nyadar pas ngeliat kalo ternyata Gwen cuma make sendal jepit, sementara Dita pake sepatu. Padahal tadinya Dita udah ngeliat sepatu Gwen yg dulu pas belinya dia anterin, udah ada disitu. Ngebela2in bgt minjem sendal jepit biasa, pikir Dita.

Well, okelah itu cuma hal2 yg katakanlah sepele, meskipun ngganggu juga. Apalagi Dita juga mikir, jangan2 itu hanya spekulasi pemikirannya aja yg agak2 parno karna sikap2 yg ‘tiba2’ dari si Gwen. Tapi ternyata pemikirannya itu jadi berubah lagi kaya semula. Gwen emang kayanya mau ‘ngalahin’ gue. Ngalahin seseorang yg emang ga pernah ngerasa menang dari dirinya. Karna sekarang2 ini kalo mereka berdua pas lagi ngobrol, Gwen nunjukkin bgt kalo dia ga suka sama banyak hal yang emang Dita suka. Bukan hanya ga suka, tapi Gwen seolah2 mau nunjukkin kalo dia suka sama hal2 yg berbau ‘kebalikkan’ dari apa aja yg Dita suka.

Ini tentu aja jadi sangat ganggu buat Dita. Tapi sekali lagi dia mikir, apa ini perasaan gue aja, pemikiran gue aja, atau ego gue? Tapi kalo emang ini beneran dan bukan perasaan atau ego gue doang, kenapa Gwen jadi begitu?

Ada apa sih yg terjadi sama Gwen? Apa ini ego Gwen aja? Atau Gwen sebenernya selama ini selalu ngerasa kalah dari Dita? Dita totally ga ngerti. Selama ini yang mereka jalanin emang bener2 natural. Paling engga, itu yg Dita pikir.

Pada akhirnya yang terjadi pada Dita adalah, Dita ngerasa bersalah dan bingung. Sekarang semua jadi bingung. Termasuk saya, si penulis. Kenapa ada teman atau pertemanan jenis ini ? Bukankah berteman itu saling kompak satu sama lain ? Bukankah berteman itu harus jauh dari kata persaingan yang akhirnya hanya justru membuat gap diantara mereka ? Kenapa kita ga buang jauh2 rasa kalah dan menang didlm pertemanan ? Bukankah ini rasanya sangat ga nyaman ? Well, walau gimana ada aja orang yg suka ngejalanin hidup yg ga nyaman. Atau yang kaya gini justru yang nyaman ? oowh..it’s so confusing..

Note:
I wrote this about a year ago. Believe me, everyone is precious. Everyone is special. U don’t have to do this. Jika kita menginginkan sebuah persaingan, bukan yang ini yang tepat. Masih banyak hal lain yang lebih baik untuk dijadikan sebuah persaingan.
Well, jadilah istimewa seperti adanya.

Idealisme Yang Terkoyak

“Kita udahan aja, deh.”

“Lo ama gue ga cocok lagi jadi temen.”
“Gue ga suka banget ama omongan lo barusan. Plz, don’t make fun of me.”

Tiga buah kalimat ini terus-terusan keinget dibenak gue. betapa sebenernya gue ga mau itu terjadi. Cuma mau digimanain lagi.? Dan semuanya gue pikir bersumber pada satu hal, kekerasan gue dalam mempertahankan apa-apa aja yang selama ini gue anggap bener. Apa yang selama ini terus2an berada dalam hidup gue. Dan apa2 yang gue pegang teguh. Sebuah keidealismean. Idealism.

Dalam hidup gue, gue terpaksa harus memutuskan banyak sekali hubungan, entah itu hubungan kasih, persahabatan, pekerjaan, dan masih banyak lagi, demi idealisme-nya gue itu.

Entah ini sebuah kesalahan dalam pengaplikasian apa yang disebut dengan idealisme atau kenapa, gue juga jadi nge-blur utk memahaminya. Yang pasti jika ada sesuatu yang terjadi dan itu diluar dari yang ‘seharusnya’ menurut gue, gue ga bisa diem. Ada aja tindakan2 gue. entah itu marah, negor, atau bahkan secara ekstrim, mutusin hubungan.

Pada dasarnya keidealismean gue bukan hanya dalam gue punya hubungan sesama manusia aja. Tapi banyak hal. Apa yg menurut gue pas buat gue, itulah yg gue mau. Dan kalo engga, I certainly cannot deal with that.

Dan mungkin saat ini, entah ini adalah suatu pengujian atau teguran kalo gue udah harus berubah, gue ga tau. Karna dalam beberapa bulan terakhir ini, banyak sekali hal2 yg terjadi yg terkesan mencoba utk mengoyak keidealismean gue.

Apa gue emang harus berubah? Dan menjadi orang yang sama sekali ga punya sikap dan terus2an ikut sana ikut sini yang penting gue aman? Yang penting gue punya temen, yang penting gue punya pacar? Yang penting gue punya kerjaan? Ya ampun.. begitukah hidup?

Ini adalah sebuah pertanyaan. Dan sampai sekarang ini gue belum nemuin jawabannya. Bahwa hubungan2 yg gue bina selama ini pada akhirnya banyak yg rusak, karna gue bersikeras mempertahankan apa yg menurut gue bener.

Gue inget kata2 Su Hok Gie, ‘lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan’.
Kalo dihubungin kehidup gue adalah; ‘orang bisa melakukan apa yg mereka mau lakukan ke gue, sementara gue tetep cengar/ir nerima dan seolah-olah itu bener2 aja, padahal menurut gue salah, dan gue ga terima.’

Apa yg harus gue lakukan? Membuang pertahanan gue itu, atau menjadi orang yg sama sekali ga punya sikap, dan mau2 aja utk ini itu.

Apakah juga gue serendah itu, sampe2 apa yg gue pertahanin, yg cuma hal sederhana tetep dianggap salah. Bahkan gue ga boleh marah sama sekali?

Ini adalah sebuah pertanyaan…

Salah satunya buat mereka, yang mungkin pernah dekat dengan gue, tapi pada akhirnya harus terhempas karna kerasnya gue mempertahankan apa yg gue anggap benar selama ini.

Tuesday, April 24, 2007

Welcome to Hey Mr.TJ!

Hey! My name is TJ! And this is my blog.

I share my simple and unspoken thoughts here. And for your information, all of the postings or writings in here have also been published on my friendster's blog.

Well, please read it and hopefully you'll get enjoy it and get inspired.

Thank you!